Border massa aksi. Foto: Gemi

MALANG-KAV.10 Aksi dimulai pukul 11.00, begitu menurut info yang saya dapat. Namun setelah satu jam berlalu dari waktu yang ditentukan, hanya massa aksi dari SPBI (Serikat Perjuangan Buruh Indonesia) yang jelas terlihat. Dengan baju merah-merahnya mereka duduk di pinggir jalan Semeru menunggu komando. Terlihat satu dua orang juga masih berdatangan.

Massa aksi menunggu komando cukup lama sampai akhirnya mereka bisa berdiri. Didahului mobil pick up hitam, mereka berbaris rapih menelusuri jalan menuju simpang atau bagian depan stadion. Saya mengikuti dari pinggir.

Jam menunjukkan pukul 12.30 WIB saat massa aksi sampai di seberang Stadion Gajayana. Seorang perwakilan  dari Aliansi Malang Melawan mengingatkan teman-temannya bahwa aksi yang akan dilaksanakan hari ini adalah aksi damai dari podium yang berada di atas mobil pick up tadi.

“Kita aksi, aksi, dan aksi sampai Jokowi menghapus Omnibus Law,” ujar salah seorang perwakilan aliansi malang melawan membuka orasinya.

“Omnibus Law jancok!” pekiknya, diikuti massa aksi lain.

Siang itu, awan tipis sedang berada di pihak massa aksi. Kehadirannya melindungi barisan massa yag berjalan teratur di dalam barisan dari sengatan matahari.

Di sebelah barisan massa aksi, tim medis berjalan pelan mengiringi. Sementara polisi tersebar begitu saja di sekitar barisan. Masing-masing dengan handy talky yang menempel di seragam.

Aksi sukses mendapat perhatian beberapa orang yang lalu-lalang. Entah apa yang ada di masing-masing kepala mereka. Ingin tahu kah apa yang sedang menutupi jalan ini? Atau diam-diam setuju dengan tuntutan yang dibawa namun tidak memungkinkan untuk ikut aksi karena masih harus melakukan aktivitas rutinnya?

Selebaran juga sampai ke tangan mereka. Tidak seperti selebaran promosi, yang ini tidak dibuang begitu saja. Saya melihat sendiri bagaimana mereka benar-benar membaca isi selebaran tuntutan. Upaya edukasi ini patut diacungi jempol.

“Jangan sampai ada penyusup yang orasi,” pesan seseorang kepada temannya yang mengontrol microphone di mobil pick up. Perlu diketahui, satu dua kali ditawarkan bagi yang ingin melakukan orasi untuk mengajukan diri.

Massa aksi terus berjalan menuju simpang BCA dengan personel yang bertambah. Saya tidak memerhatikan jelas massa aksi tambahan ini dari mana, yang pasti mereka bergabung sejak dari bagian depan Stadion tadi.

Pukul 13.00. Saya yang mengikuti dari pinggir sudah sampai ke bagian depan barisan. Mata saya menangkap berisan polisi yang jumlahnya tidak sedikit. Belum juga massa aksi mencapai perempatan, barisan polisi sudah ketat berjajar lengkap dengan tamengnya. Kanan kiri jalan terhalang. Sisa jalan lurus yang seolah mempersempit ruang.

“Monitor, pak Bambang,” kata suara di seberang handy talky bapak polisi yang tak berseragam. Entah siapa pak Bambang.

Massa aksi baru sampai sekitar 13.15 WIB. Tidak lama setelahnya, di hadapan polisi-polisi yang tadi saya sebutkan, mereka membentuk border. Terlihat tim medis dengan tanda silang merah berada di border barisan depan, disambung massa aksi lain. Border ini dilingkari oleh tali rafia berwarna kuning untuk mempertegas.

“Cabut… cabut… cabut… omnibus. Cabut omnibus sekarang juga,” nyanyi massa aksi bersama-sama dikoordinatori seseorang dari atas mobil. Nadanya seperti lagu Cangkul.

Border tidak lama dipertebal menjadi tiga lapis. Koordinator aksi yang menyerukan komando ini dan memastikan aksi berjalan tertib. Berdiri di simpang BCA, seseorang naik ke podium untuk berorasi. Belakangan saya tahu namanya Andi Irfan. Ketua Komite Pusat SPBI.

“Semua yang digaji adalah kelas pekerja! Omnibus Law menindas kelas pekerja. Artinya omnibus law juga berimbas kepada polisi, kepada tentara, kepada intel-intel,” ujarnya dalam orasi. Pria berkemeja biru tersebut lalu menantang polisi dan tentara mencopot armor dan masuk ke dalam barisan rakyat.

Sinar matahari makin tersingkap. Lagi-lagi pria itu berbicara kepada para polisi. Katanya, aksi ini harusnya jadi kampus politik bagi polisi dan tentara. Ia mempertanyakan berapa nyawa lagi yang harus melayang sampai polisi dan tentara bisa melepas armornya dan masuk ke dalam barisan. Namun para polisi tidak bergeming. Masih dengan sikap siaga yang mereka tuntujukkan dari tadi.

Massa aksi dari Universitas Brawijaya baru bergabung sekitar pukul 13.30 WIB. Kurang lebih 10 menit setelahnya, massa aksi baru dikomandoi untuk duduk. Masih dengan polisi yang berjaga di pinggir kiri kanan. Masih dengan tameng pula.

“Aksi kita kemarin disabotase oleh lihak yang tak bertanggung jawab,” ujar pria lain yang berorasi. Ia sedang berbicara tentang aksi tanggal 8 Oktober lalu, ketika terjadi kericuhan di depan gedung DPRD Kota Malang. Sayang saya tidak mendengarkan lebih lanjut isi orasinya sebelumnya. Jadi belum dapat disimpulkan ini betul-betul pernyataan dari Aliansi Malang Melawan terkait aksi kemarin atau bukan.

Sampai langit beranjak mendung, orasi masih terus disampaikan. Tiap ada kemungkinan terjadinya provokasi selalu diredam. Satu dua kali. Saya juga dengar katanya dari bagian belakang barisan beberapa pelajar disambangi polisi karena kedapatan membawa alat pancing. Soal diamankan atau tidaknya mereka masih simpang siur.

Sekitar pukul jam 15.00 WIB massa aksi berangsur-angsur beranjak menuju Gedung DPRD Kota Malang. Butuh waktu setengah jam sampai massa aksi mencapai bagian bundaran alun-alun tugu Malang. Orasi masih dilangsungkan, selebaran juga masih dibagikan.

Pukul 15.25, di daerah depan Balai Kota, bersebrangan dengan arah massa aksi, terdengar suara   ”Arema tidak membuat kekacauan di kota sendiri”. Rupanya sekelompok orang dengan berpakaian biru-biru dengan jersey Arema Malang sedang menyampaikan sesuatu.

Belum juga jelas terdengar yang dipermasalahkan, pengeras suara saingan dari polisi ikut menggema. Tidak seperti pekikan dari massa, pengeras suara milik polisi difungsinkan untuk menyetel sholawat. Bertepatan saat itu pula, seruan “Revolusi!” dari massa aksi Aliansi Malang Melawan menggema.

“Kami datang ke sini maunya menjaga Kota Malang. Kami gak peduli presidennya siapa, RUU apa, DPRD siapa, bullshit. Sama-sama sampean sama saya. Arek Malang yang gak mau Malang diusik ketentramannya,” kata salah satu orang dari kelompok yang mengenakan jersey Arema.

Kekhawatiran kelompok tersebut terjawab. Pihak SPBI yang menemui di hadapan gedung balkot menjamin aksi akan berlangsung damai. Wahyu yang jadi perwakilan. Ia Sekaligus menyatakan klarifikasi terkait aksi tanggal 8 Oktober 2020 lalu.

Menurut Wahyu, kericuhan sebelumnya dimulai bahkan sebelum massa SPBI masuk. Setelah pernyataan keluar, pihak SPBI dan Aremania bersalaman. Mereka menyepakati aksi damai. Arema mempersilakan massa aksi.

Tidak lama, lagu “Damai-damai Saudaraku” diputar lagi oleh polisi –walaupun tujuannya entah untuk apa. Semakin meyakinkan saya kalau mereka mungkin menganggap ini sudah drama musikal betulan.

Teatrikal sidang rakyat betulan lalu dilangsungkan oleh massa aksi Aliansi Malang Melawan. Pertunjukan ini sudah diagendakan sebelumnya. Sayang suaranya lagi-lagi dirusak dengan pengeras suara dari polisi.

Sebenarnya tujuannya baik. Kurang lebih isinya begini “Kami berterima kasih kepada massa aksi dan bapak Wakapolres …” lalu dilanjut dengan “Terima kasih, terima kasih” yang dinyanyikan dengan nada lagu lingkaran besar lingkaran kecil.

Sementara itu sidang rakyat berlangsung dengan tanpa kerusuhan sama sekali. Ada yang memerankan Jokowi, DPR, rakyat, dan lain-lain. Sementara massa aksi lain duduk menyaksikan di jalanan depan gedung DPRD Kota Malang

Waktu menunjukkan pukul 16.24 saat massa aksi mulai berdiri lagi. Tanda aksi sudah selesai. Terdengar komando untuk kembali ke Stadion Gajayana.

Penulis: Priska Salsabiila
Editor: Abdi Rafi Akmal

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.