Secangkir kopi di ujung meja. Foto: Priska

Penulis: Moch. Fajar Izzul Haq (Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UB)

Politik etis terbesar yang diberikan Belanda terhadap Indonesia bukan lah bendungan, jalan kereta api ataupun bangunan peninggalan lainnya. Bisa jadi sistem politik, ekonomi, dan pendidikan yang diterapkan Belanda di Indonesia, juga merupakan politik etis mereka yang sebenarnya tidak begitu berarti.

Kopi lah politik etis –yang tidak disebut politik etis, yang terbesar yang diberikan Belanda. Dari kopi lah sebenarnya Indonesia bisa mencapai kemerdekaan. Meski gara-gara kopi juga Belanda –melalui VOC, memonopoli perdagangan Hindia Belanda.

Kopi Arabica adalah kopi jenis kopi pertama yang dibawa Belanda untuk ditanam di Indonesia pada tahun 1696. Mengingat saat itu harga kopi sedang tinggi-tingginya dan banyak digandrungi orang-orang barat. Dari jawa, pulau pertama yang ditanami kopi, Indonesia –yang saat itu masih Hindia Belanda– dapat mengekspor empat kuintal kopi ke Amsterdam.

Mulai saat itulah kopi jawa (Java Coffee) terkenal, membanjiri kawasan eropa dan menggeser kopi Mocha asal Yaman. Namun varietas kopi ini tidak bertahan sangat lama. Sebuah wabah jamur menggerogoti daun-daun pohon kopi. Mengakibatkan Arabica asal Jawa tidak lagi bertahan.

Bahkan di tahun 1880, serangan hama datang tak terhindar, menyebabkan pohon-pohon kopi mati. Hama tersebut berupa jamur yang memakan daun seperti karat. Orang-orang saat itu menyebutnya penyakit daun karat. Pada tahun itu, Jawa kehilangan potensi eksport mencapai seratus dua puluh ribu ton kopi dan menyebabkan pasar kopi dunia panik.

Barulah setelah dua puluh tahun, di Malang, ditanami kopi jenis Robusta yang didatangkan dari Kongo.  Berbeda dengan Arabica yang tidak berjaya lama, Robusta tetap produktif karena memang lebih tahan penyakit. Dan saat ini, robusta sudah menguasai 73 persen produksi kopi di Indonesia. Itu semua berkat Belanda yang mengusahakan ditanamnya kopi di Indonesia –meski Belanda sendiri yang mendapat untung saat itu. Sedang saat ini, Indonesia telah menjadi pemeran utama dalam komoditas kopi di dunia, semoga.

Maraknya perdagangan kopi yang menggiurkan itu didukung dengan budaya minum kopi yang turun menurun di negri ini. Belanda lah yang mencontohkan budaya ini. Ir. Sukarno mencontoh budaya minum kopi sejawat Belandanya dalam setiap pertemuan. Baik resmi maupun tidak. Bung Hatta juga baru menyadari bahwa kopi yang ia minum di kedai-kedai Belanda di masa kuliahnya, didatangkan dari negrinya sendiri. Tan Malaka pun juga minum kopi dalam pertemuan anggota komunis saat ia menjabat ketua partai komunis di Asia Tenggara.

Begitu pula apa yang dilakukan Bung Tomo setelah mengopori masyarakat Surabaya untuk berperang melawan sekutu. Ada yang bilang, usai suaranya hilang dari siaran radio, yaitu ketika peperangan terjadi begitu hebat, Bung Tomo mencecap segelas kopi sambil menikmati dinginnya angin di daerah Pujon.

Budaya baik itu bertahan hingga kini. Memang, disetujui atau tidak, kopi membuat setiap diskusi-diskusi perbincangan dapat tercipta lebih hangat. Dan ini lah yang sering kita juluki sebagai diplomasi kopi. Suatu percakapan, perbincangan, perjanjian, tidak harus dilakukan dengan suasana tegang dan formal. Melalui kopi, justru suatu kesepakatan dapat dijalin dengan kepala dingin.

Dan dengan segala pergeserannya, budaya minum sudah merambat pada kaum muda-mudi. Dibuktikan dengan hadirnya tempat minum kopi yang bukan hanya menyajikan kopi, melainkan juga berbagai fasilitas yang, dianggap, mendukung suasana minum kopi. Dan bagi mereka tempat-tempat itu sudah menjadi markas perjuangan: perjuangan para aktivis, perjuangan melepas kejomloan, perjuangan mempertahankan suatu hubungan, perjuangan mencapai tingkat tertinggi pada suatu permainan daring, dan perjuangan-perjuangan lainnya.

Memang seperti itu lah adanya. Belanda punya peran besar dalam menciptakan suatu budaya pada negri yang pernah ia jajah. Yaitu budaya berpikir tenang dan jernih. Karena dalam diplomasi kopi, jarang ada pertikaian. Karena kopi memang menyatukan, bukan menyeterukan.

Sudah ngopi pagi ini?

Tentang Penulis:
Moch. Fajar Izzul Haq adalah seorang mahasiswa baru Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya. dukunbadai@gmail.com adalah alamat surel yang paling sering digunakan untuk mengirim tulisan di berbagai media. Penulis dapat dihubungi melalui @mochammad_luzzi di Instagram.

Sebagai penulis amatir, ia sering mengirim tulisan di berbagai media. Di media cetak tulisannya pernah di muat di majalah Bulletin Sidogiri, majalah keagamaan terbesar. Media cetak lain yang pernah memuat tulisannya adalah Media Al-Murtadlo, yang merupakan kompetitor Bulletin Sidogiri. Media digital yang pernah memuat tulisannya adalah Mojok.co dan lingkarpesantren.com.

Penulis sebenarnya lebih suka aktif di media penulisan berita. Karena menjadi seorang jurnalis adalah cita-citanya sejak lama. Akan tetapi, penulis pernah menulis puluhan cerita pendek yang terkumpul dalam buku “Trilogi Suparman” dan puluhan opini keseharian dalam buku “Bermazhab di Warung Makan,” yang keduanya tidak dijual, melainkan dibagikan secara gratis pada siapapun yang mau. Kini penulis sedang sibuk menyelesaikan buku ketiganya, “Meril, Catatan Ngaji Kang Santri,” yang mungkin juga tidak jual, semoga tidak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.