Ilustrasi: Mila

Penulis: Anggik Karuniawan

Pandemi telah memaksa kita untuk menjalani kehidupan yang tidak sebagaimana mestinya. Kita terpaksa melakukan apa-apa dirumah. Tepi rumah seolah juga menjadi tepi dunia yang bisa kita jangkau dan tak boleh kita tembus.

Dengan dirumah tentu menyebabkan gerak kita sangat terbatas. Dengan keterbatasan itu seringkali menyebabkan apa yang kita lakukan dirumah cenderung monoton yang kerap menimbulkan rasa bosan. Kewajiban seperti kuliah beserta tetek bengeknya yang juga masih akan tetap berjalan ditambah ketidakpastian waktu yang akan datang sangat rentan menimbulkan stress. Iya, stress bisa menghampiri siapa saja tak pandang bulu, tak terbatas ruang dan waktu.

Selain pada keadaan pandemi seperti ini, sebetulnya stress sudah menjadi sebuah permasalahan umum walaupun mungkin berbeda penyebabnya dengan saat pandemi. Tahun 2018 Amerian Psychological Association (APA) telah melakukan penelitian yang hasilnya menunjukkan bahwa sebanyak 91% dari generasi Z memiliki gejala emosional atau bahkan fisik yang erat kaitannya dengan stress. Generasi Z adalah generasi yang lahir dari rentang tahun 1993 sampai tahun 2005 [1]

Lalu mungkin kita bertanya-tanya bagaimana stress bisa terjadi, bagaimana dampaknya dan kemungkinan pertanyan yang lain. Oleh karena itu untuk mengetahuinya simak ulasannya sebagai berikut.

Mengenal Teori Stress

Sebagai langkah awal untuk memahami tentang stress maka kita membutuhkan suatu pendekatan dalam memahami teori stress. Menurut Gaol (2016) bahwa secara mendasar terdapat tiga pendekatan tentang teori stress yang terbagi menjadi model rangsangan (stimulus),  tanggapan (response) dan transaksional (transactional) [2].

Stress model stimulus bisa dibilang adalah stress yang disebabkan oleh bagian luar atau eksternal diri kita. Hal ini dikarenakan situasi lingkungan menjadi penyebab dari adanya stress yang timbul. Selain itu, stress ini akan memberikan dampak yang serius jika dalam tingkatan yang berbahaya dan terjadi dalam kurung waktu yang sering. Selain dikatakan sebagai penyebab, model stress ini juga berfokus pada sumber stress. Sumber stress yang dimaksud terbagi menjadi peristiwa kehidupan, ketegangan kronis dan permasalahan sehari-hari.

Selanjutnya, ada pendekatan teori stress model respons. Model ini berbeda dengan model stimulus karena cenderung disebabkan dari dalam atau internal diri kita. Model yang dikembangkan oleh Hans Salye ini mengatakan stress adalah hasil yang merupakan tanggapan kita terhadap sumber atau penyebab stress yang terjadi secara spesifik. Sebagai usaha untuk mengenal stress lebih dalam maka Salye membuat General Adaptation Syndrome yang terdiri dari tiga tahapan stress yaitu peringatan (alarms), perlawanan (resistance) dan kelelahan (exhaustion).

Terakhir ada model stress transaksional yang dikembangkan oleh Richard Lazarus dan Susan Folkman. Sama seperti model respons, model ini juga cenderung disebabkan oleh dalam atau interal diri kita. Model ini menekankan pada penilaian individu terhadap suatu kondisi yang sekiranya akan berdampak pada jumlah stress. Lebih lanjut, selain melakukan penilaian, maka suatu individu menurut Lazarus dan Folkman juga melakukan penanggulan yang terbagi menjadi penanggulan berbasis pada masalah dan pada emosi.

Bagaimana Dampak Terjadinya Stress?

Pada dasarnya stress akan menyebabkan dampak negatif jika terjadi dalam waktu yang sering atau lama dan dalam tingkat yang berbahaya. Sebetulnya dampak stress tidak hanya negatif akan tetap juga dalam bentuk positif. Selain itu, dampak stress tidak hanya menyerang kondisi psikis suatu individiu namun pada kondisi fisiknya.

Dampak stress yang negatif pada kondisi psikis dapat berupa timbulnya rasa cemas dan gugup, sensitif sampai dengan phobia, sedangkan pada kondisi fisiknya dapat berupa gangguan jantung, tekanan darah tinggi sampai dengan gangguan seksual [3]. Disamping itu, untuk dampak positif dari stress dapat terjadi jika dalam keadaan yang cenderung sedikit. Sebagai contoh, stress akan dapat meningkatkan motivasi seseorang untuk menyelesaikan segala permasalahan dengan adanya keterbatasan yang ada. Imbas dari hal tersebut juga berpengaruh pada ketahanan dan keyakinan suatu individu [4].       

Mengelola Stress Demi Hidup Lebih Baik

Seperti yang disebutkan diatas, stress tidak akan terlalu berbahaya jika dalam tingkatan maupun jangka yang dapat sekiranya diatasi oleh suatu individu. Oleh karenanya individu tersebut memerlukan  suatu usaha untuk mengelola stress yang terjadi untuk kehidupan yang lebih baik.

Usaha yang dapat dilakukan yaitu seperti yang termuat dalam model teori stress transaksional. Lazarus dan Folkman sudah memberitahukan penilaian dan penanggulan. Dengan mengelola penilaian kita terhadap stress maka kita sudah melakukan usaha dalam aspek kognitif. Lalu ditambah dengan pengendalian yang termasuk pada aspek emosional. Selain itu masih ada aspek fisik yang dapat dilakukan dengan cara meditasi dan aspek sosial yang dapat dilakukan dengan memberikan kelompok pendukung. [5]

Oleh karenanya kita memang harus berdamai dengan stress. Kita harus menyadari bahwa hidup bukanlah persoalan untuk mengharapkan kebahagian saja. Namun, juga persoalan yang berkebalikan dengan kebahagian dan bagaimana kita mengatasinya.

“Musibah terasa lebih berat jika datang tanpa disangka dan selalu terasa lebih menyakitkan. Karenanya tidak ada sesuatupun yang boleh terjadi tanpa kita sangka-sangka. Pikiran kita harus selalu memikirkan semua kemungkinan, dan tidak hanya situasi normal. Karena adakah sesuatu pun di dunia yang tidak bisa dijungkirbalikan oleh nasib?’- Seneca (Moral Letters) [6]

Referensi :
1. Haryadi, K. Selma. 2019. Darurat Mental Generasi Z. Muda Kompas.
2. Gaol, N.T. Lumban. 2016. Teori Stres: Stimulus, Respons, dan Transaksional. Buletin Psikologi 24 : 1 (1-11).
3. Sukadiyanto. 2010. Stress dan Cara Menguranginya. Cakrawala Pendidikan 29 : 1.
4. Selna, Elaine. 2018. How Some Stress Can Actually Be Good for You. Time.
5. Segarahayu, R. Dianita. Pengaruh Manajemen Stres Terhadap Penurunan Tingkat Stres Pada Narapidana Di Lpw Malang. UIN Malik Maulana Ibrahim.
6. Manampiring, Henry. 2018. Filosofi Teras. Filsafat Yunani-Romawi Kuno Untuk Mental Tangguh Masa Kini. Kompas Media Nusantara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.