Sumber: Wikipedia

Genre:Drama
Sutradara: Lee Jeon-Ik
Pemain: Sol Kyung-Gu, Uhm Ji-Won, Lee Re
Tahun: 2013
Durasi: 122 Menit

Penulis: Qaidah Rahmatika Rosida

“Orang paling kesepian adalah orang paling ramah, orang yang paling sedih senyumnya paling menawan karena mereka tidak menginginkan orang lain merasakan derita yang sama.” – Anonim

So Won, seorang gadis kecil yang ceria, pintar dan lucu meski terlahir dari keluarga kurang mampu hidupnya tetap bahagia seperti orang lain pada umumnya. Namun, semua seketika berubah ketika ia berangkat sekolah dalam keadaan hujan deras bertemu laki-laki dewasa di dekat gedung sekolahnya. Niat So Won mengiyakan permintaan laki-laki itu untuk menumpang payungnya malah berujung dengan tindakan kekerasan seksual kepada dirinya.

Sebuah mimpi buruk bagi kedua orang tua Sowon mengetahui anaknya hampir sekarat di Rumah Sakit. Keadaan Sowon sungguh mengenaskan pasca kejadian. Luka yang penuh darah di sekujur tubuhnya membuat siapapun yang melihatnya merasa tidak kuat. Akibat dari itu semua, Orang Tua So won harus menerima kenyataan anaknya mengalami cacat fisik seumur hidupnya. Belum lagi trauma psikologis yang pasti dialami So Won.

Beruntung polisi dapat mengidentifikasi sidik jari pelaku tapi tidak bisa menangkap langsung sang pelaku dikarenakan dianggap belum cukup bukti dan belum ada surat perintah. Sedangkan Ayah So Won tidak bisa begitu saja membiarkan pelaku berkeliaran di luar lebih lama. Dengan kondisi trauma dan luka fisik yang jauh dari kata sembuh mau tidak mau Ayah So Won membiarkan So Won memberikan kesaksian mengenai siapa pelakunya.

Sang pelaku akhirnya dapat ditangkap berkat bukti video dari So Won, tapi karena itu pula kasus ini menjadi kejaran media. Ayah dan Ibu So Won terburu-buru menyelematkan anaknya agar tidak terekspos malah menjadi boomerang bagi sang Ayah. Tidak sengaja Ayahnya memicu  trauma So Won sehingga So Won tidak mau lagi menatap wajah Ayahnya.

Perjalanan  orang tuanya masih panjang setelah itu, mereka harus melewati proses pengadilan juga penyembuhan untuk anaknya. Dibantu dengan ahli terapi untuk penyembuhan, So Won perlahan bisa pulih kembali. Namun, tidak sejalan dengan proses pengadilan pelaku mengelak bahwa dia dalam keadaan mabuk saat itu dan tidak menyadari apa yang dia lakukan. Sampai pada sidang terakhir untuk vonis hukuman, So Won hadir memberikan pernyataan langsung tidak cukup mengadili sang pelaku. Hakim memutuskan 12 tahun penjara hanya karena pertimbangan pernyataan pelaku melakukan dibawah pengaruh alkohol.

‘Hope’ membawa gambaran tentang bagaimana ketika kekerasan seksual menimpa seorang anak kecil.  Apakah anak kecil seperti So Won masih punya harapan untuk menjalani hidup selanjutnya? Bagaimana mereka bisa survive?  Peran orangtua sangatlah penting disini, mereka yang harus menjadi support system untuk sang anak hingga sembuh. Seperti orang tua So Won dengan gigih mencoba berbagai hal untuk membuat putri mereka bisa bahagia kembali meski harus dengan bantuan ahli terapi sembari mereka juga berusaha mencari keadilan bagi apa yang telah menimpa putri mereka.

Dalam ‘Hope’ bagian menarik sekaligus menyedihkan  saat So won sedang menjalani terapi dengan ahli terapi lewat sesi tanya jawab. Ucapan dari So won sangat menyentuh hati, bagaimana seorang anak kecil bisa mempunyai pemikiran sedemekian rupa. Salah satunya  ketika So won berkata, “Bibi pernah mengharapkan sesuatu seperti ini? Berharap semua akan seperti sebelumnya saat kau terbangun? Kemarin aku memikirkan itu. Aku merasa semua akan kembali normal saat aku bangun  tidur. Maka aku akan memakan semua pilku dan berdoa sebelum tidur, tapi saat bangun tak ada yang berubah.”Ahli terapi kemudian melontarkan pertanyaan apa yang So Won rasakan setelah itu, So won bercerita ketika neneknya frustasi dia akan bilang aku mati saja dan So won sudah tahu kenapa neneknya berkata seperti itu.

“Menurutmu apa artinya?”

“Kenapa aku dilahirkan.”

Dan pada akhir film So Won mendapatkan jawaban ketika adiknya lahir, bahwa kelahiran adalah anugerah.

Dari kasus So won kita banyak belajar untuk tau betapa menderitanya korban yang mengalami kekerasan seksual apalagi menimpa seorang anak kecil. Orang tua korbanpun ikut sama merasakan menderitannya dengan sang anak. Belum lagi betapa rumitnya penanganan kasus kekerasan seksual dalam hukum. Di satu sisi tidak bisa begitu saja menangkap pelaku, sedangkan jika ingin langsung menangkap tanpa perlu bukti harus lewat pernyataan korban. Korban kekerasan seksual tidak mungkin dengan mudah melakukan itu. Kondisi fisik dan psikologisnya harus diperhatikan karena apa yang dilakukan adalah ibarat mengorek luka basah yang entah kapan akan kering. Ketidakadilan lainnya  korban harus mendapat luka seumur hidup, sedangkan pelaku bisa menghirup udara bebas begitu saja setelah dipenjara.

Lewat semua yang telah kita tonton dalam ‘Hope’ ada harapan besar untuk  membuat kita lebih sadar dan peduli terhadap kasus-kasus kekerasan seksual terhadap anak kecil lainnya. Masalah kekerasan seksual tidaklah sesepele hanya sebuah kecelakaan.  Layaknya ketika dinasehati temannya untuk memandang ini seperti sebuah tabrakan mobil agar keluarga So Won bisa melanjutkan hidup, Ayah So won mengatakan jawaban bagaimana jika itu terjadi pada anak temannya itu . Temannya pun tidak bisa menjawab. Ingatlah tidak ada manusia satupun di dunia yang ingin mengalami halnya keluarga So Won.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.