Ilustrator: Mila
Oleh: Agung Mahardika

Sambungan dari bagian 1…

Pagi betul aku bangun. Masih jam setengah enam pagi. Aku mandi dan berdandan sekenanya saja. Baju dan celana yang kemarin kukenakan lagi. Tak tahu ada apa, kenapa pagi ini begitu dingin. Air yang kugunakan mandi saja rasanya seperti menggigit-gigit tulang.

Aku persiapkan flashdisk yang tadi malam sudah kuisi fail makalah. Setelah semua siap, aku segera keluar dari kos. Pukul enam pagi. Aku sengaja bangun dan berangkat sedikit lebih pagi.

Karena masih sangat pagi, kebanyakan tempat nge-print masih tutup. Setelah berjalan dan berkeliliing lumayan jauh, akhirnya aku menemukan tempat yang sudah buka. Tempatnya kecil, hanya ada satu printer. Sialan.

Baca Juga:
Perkenalanku dengan Dana

Pukul enam tiga puluh, setengah tujuh pagi. Antrian di depanku ada dua orang. Keduanya laki-laki. Entah kenapa dua orang itu bagiku nampak sangat menjengkelkan. Ingin rasanya kubentak mereka berdua. Buruan! Ini ada orang ngantri woi! Begitu batinku.

Satu menit terasa satu jam. Lima menit terasa lima jam. Aku makin kesal dengan dua orang itu. Jam di layar ponselku menunjukkan pukul enam lebih empat puluh lima. Orang kedua meninggalkan tempat itu, dan orang pertama melakukan hal sama lima menit yang lalu. Memakan waktu lebih dari setengah jam sampai urusan print makalah ini selesai.

Sampai di depan fakultas aku tidak mengecek jam. Sudah jelas aku telat. Di jadwal, kuliah dimulai pukul tujuh. Aku langsung masuk lift dan menekan tombol empat. Keluar lift aku langsung menuju ruangan. Sampai di depan ruangan aku langsung masuk tanpa mengetuk pintu yang tertutup rapat itu.

Ruangan itu sudah dipenuhi orang. Nyaris tak ada kursi yang  kosong. Seisi ruangan terduduk hening. Ada yang membolak-balik buku, ada yang menatap lekat layar laptopnya, ada yang merunduk khidmat dengan ponselnya, ada yang sibuk dengan binder barunya. Dengan gugup dan agak memberikan diri kuarahkan pandanganku ke meja dosen. Ternyata meja itu masih kosong. Antara terkejut dan senang tak jelas perasaanku hingga seorang teman kelompokku memanggilku.

“Hai Tata! Gimana makalahnya? Beres? “

“Iya, “ napasku tersengal-sengal usai berjalan setengah berlari yang cukup melelahkan. Aku berjalan mendekat ke teman sekelompokku itu.

“Sori, tadi aku enggak angkat teleponmu. Aku tadi masih di tempat nge-print. Lagi panik banget tadi”

“Iya, gak papa. Ini dosennya juga belum dateng”

Karena presentasi pertama, aku cukup panik dan merasa kurang persiapan. Setelah meletakkan tasku di lantai, aku segera membaca-baca lagi materi yang akan aku presentasikan. Baru sekitar lima menit aku membaca, salah seorang temanku maju ke depan kelas dan memberi pengumuman.

“Teman-teman, mohon perhatiannya. Ini aku abis di-WhatsApp Bu Tiara, katanya beliau berhalangan hadir dan disuruh mencari kelas pengganti”

Sialan. Brengsek. Ngapain aku berangkat pagi sampai kedinginan, panik, capek keringatan dan lari-lari. Apes memang. Beberapa teman mengajak ke kantin untuk sarapan dan nongkrong karena sudah terlanjur berangkat pagi dan sayang kalau langsung pulang. Aku menolak semua dan beralasan mau langsung kembali ke kos saja.

Tapi aku tidak kembali ke kos. Seperti kemarin, aku menuju ke teras perpustakaan untuk bersantai dan berharap dapat menghilangkan kekesalan. Kebetulan meja yang sama dengan kemarin kosong. Perpustakaan memang masih sangat sepi. Aku tidak peduli dengan orang yang lalu-lalang. Aku hanya terpaku pada layar ponsel dan membuat beberapa snap untuk meluapkan kekesalan. Setelah lima belas menit aku capek juga dan mengangkat kepalaku. Aku tercenung. Di posisi yang sama, berjarak satu meja di depanku, aku kulihat punggung yang sama dengan kemarin. Baju batik yang sama, kaca mata, laptop, dan buku-buku yang tetumpuk di meja. Entah dorongan dari mana akhirnya aku berjalan menuju ke arah dua meja di depanku itu. Aku tak tahu sebab apa hingga bibirku terasa ringan untuk memulai percakapan,

“Wah, kamu di sini lagi“ aku memulai sambil mengulurkan tangan

Laki-laki yang kukenal sebagai Dana itu dengan terkejut menghadap ke arahkku dan meraih tanganku. Kami berjabat tangan.

“Wah, Tata,” seperti kemarin di membenarkan kaca matanya, “Aku lo dari kemarin di sini, belum pulang. Aku tadi malem nginep di sini”

Pertama, aku tersenyum karena dia mampu membuat canda, tipe laki-laki yang bagiku sangat menarik. Kedua, aku sangat senang karena dia masih mengingat namaku. Hatiku mekar seketika.

Sejak pagi yang membuat hatiku mekar itu aku sering ke teras perpustakaan saat waktu senggang. Meja yang kutuju pertama adalah meja yang pernah ditempati Dana. Namun, pagi yang membuat hatiku mekar itu adalah waktu terakhir kali aku bertemu dengan Dana. Aku masih terus sering ke teras perpustakaan di waktu senggang dengan harapan dapat bertemu Dana untuk mengucapkan salam perpisahan jika memang kita sudah tak bisa bertemu lagi. Dan supaya aku tak perlu sering-sering ke teras perpustakaan lagi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.