Sumber: Sylverarts

Penulis: Octavio Ritung

Beberapa tahun terakhir, persaingan memperebutkan bangku kuliah semakin ketat. Kesempatan masuk universitas ternama (seperti UB, ehm) dengan jurusan favorit yang banyak diperbincangkan, sepertinya nggak mungkin deh!

Dengar-dengar nih, banyak orang sudah memasang target tinggi soal jurusan kuliahnya. Seolah-olah mereka sudah yakin dan teguh akan sukses pada bidang tersebut. Rintangan? Pasti bisa lah, banyak jalan menuju Roma!

Di sisi lain, tidak sedikit orang berpikir bahwa memilih jurusan kuliah nggak perlu terlalu ngoyo. Cukup amati tren profesi, lihat kebutuhan pasar tenaga kerja belakangan ini, perbanyak masukan dari orang lain, dan putuskan jurusan!

Tapi kok rasanya, memilih jurusan buat diri sendiri sulit sekali ya? Membingungkan!

Menurut Wiliana (2018), menentukan pilihan kuliah, baik universitas maupun jurusan sangat memerlukan proses berpikir rasional. Keputusan yang nantinya dibuat akan memiliki efek jangka panjang dan terkait dengan berbagai pengorbanan, seperti waktu, dana, dan sikap mental saat menjadi mahasiswa nantinya.

Wah, berbicara mengenai ‘berpikir rasional’, tentu bukan hal mudah bagi seorang remaja. Sarwono (2005) menyebutkan bahwa remaja (12 – 25 tahun) sedang memasuki masa topan-badai (storm and stress), yaitu kondisi dimana bergejolaknya emosi karena adanya pertentangan nilai dalam modernitas.

Emosi yang naik turun ini membuat seorang remaja sulit untuk memutuskan pilihan jurusan kuliahnya. Maka, untuk mengambil keputusan – terutama soal jurusan kuliah – secara bijaksana, seorang remaja harus berada dalam kondisi tenang (Santrock, 2011).

Kebingungan menentukan jurusan atau program studi (prodi) kuliah tidak terlepas dari banyaknya pilihan yang ada. Menurut data Kemenristekdikti (2018), terdapat 14.429 prodi di seluruh Indonesia. Banyak sekali bukan?

Kebingungan yang berlarut-larut bahkan sampai hari pertama masuk kuliah, sangat berisiko ke depannya apalagi soal skripsi. Allan dan Robbins (2010) dalam penelitiannya mengemukakan bahwa ketika seseorang memilih jurusan sesuai dengan minat,  peluang memeroleh gelar dengan tepat waktu menjadi lebih besar.

Dilansir dari republika.co.id, studi Indonesia Career Center Network (ICCN) tahun 2017 mengemukakan bahwa 87% mahasiswa Indonesia memilih jurusan yang tidak sesuai dengan minatnya atau boleh dibilang orang ini “salah jurusan”.

Ternyata, kecemasan yang tinggi menjadi pemicu utama seseorang berpikir negatif tentang dirinya lho! (Filipe et al., 2013). Selain kecemasan, permasalahan yang sering ditemui pada calon mahasiswa adalah keragu-raguan, harga diri yang rendah, dan frustasi. Buntutnya adalah kesulitan dalam memilih jurusan.

Padahal pemilihan jurusan yang tepat akan memengaruhi kehidupan orang tersebut di masa depan. Lebih lanjut lagi, Porter et al. (2006) mengatakan, pilihan jurusan kuliah sangat memengaruhi stabilitas dan kepuasan kerja.

Hal itu diperkuat oleh studi dari Tracey et al. (2005) bahwa ketika seseorang mengerjakan sesuatu sesuai dengan bidang studi yang disukai, akan berdampak pada meningkatnya self-efficacy.

Self-efficacy adalah keyakinan mengenai kemampuan seseorang dalam melakukan tindakan untuk mencapai sukses. Dalam arti lain, adanya rasa kepercayaan individu terhadap kemampuannya sendiri (Bandura, 1986).

Maka dari itu, memilih jurusan kuliah harus selaras antara kemampuan dengan minat personal. Sayangnya nih, Menurut Setiawan (2013), pada umumnya orang menomorduakan kemampuannya sendiri demi memilih jurusan sesuai dengan tren dan prospek kerja.

Hayo ngaku, apakah kamu termasuk golongan tersebut? Hehehe

Bahayanya, pilihan jurusan yang terlalu didasarkan pada faktor-faktor eksternal hingga mengesampingkan potensi diri, dapat berakibat negatif terhadap kesehatan mental hingga prestasi mahasiswa kelak.

Pernyataan di atas bukan isapan jempol belaka, Universitas Surabaya sudah pernah mengalaminya. Dilansir kompas.com, pada tahun 2010, Budhi Santoso selaku Kepala Pusat karier Universitas Surabaya mengemukakan bahwa 40% mahasiswa Drop Out (DO) di tahun pertama akibat salah jurusan.

Susilowati (2008) mengingatkan bahwa salah jurusan akan menimbulkan rasa kecewa dan menyesal yang berlarut. Imbasnya, akan muncul probem akademis yang koheren dengan rendahnya nilai indeks prestasi.

Akhirnya belakangan ini semakin ketahuan, bahwa bukan pertarungan antara idealisme diri vs realita kehidupan yang memaksa calon mahasiswa untuk berpikir keras dalam memilih jurusan, melainkan kebingunan dirinya sendiri!

Hee.. ini beneran ada buktinya lho. Berdasarkan hasil survei berjudul “Persepsi Mahasiswa Baru UB tahun 2020 Mengenai Pilihan Jurusan”, sebanyak 51,8% responden mengakui bahwa hambatan utama dalam memilih prodi/jurusan adalah kebingunan terhadap potensi diri.

Padahal saat ditanya mengenai seberapa penting memilih jurusan yang sesuai dengan minat, mayoritas responden (73,2%) menjawab dengan skala 5, yang artinya sangat penting.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.