Ilustrasi: Milla

Penulis: Rinto Leonardo Siahaan (mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional UB)

Tulisan ini berawal ketika saya selesai membaca karya Erich Fromm, berjudul Existential Having. Buku yang saya baca kembali ini terasa berbeda, mungkin saja karena apa yang sudah saya lewati selama bangku perkuliahaan, barangkali begitu. Pada saat bagian memahami makna fundamental manusia, saya berhenti, dan berpikir di depan laptop yang menjadi teman saya malam ini. Akhirnya saya memutuskan untuk menulis keresahan itu, daripada hilang pada pagi hari ketika saya bangun dari tidur.

Lahir di salah satu kota di Provinsi Sumatera Barat, dan tinggal di kota berbeda di provinsi yang sama, tentu memberikan banyak pengaruh terhadap hidup dan cara pikir saya, yang sebagai entitas Batak, serta Kristen (kafir, bahasa gaulnya) ini. Kemudian, seorang anak yang tak pernah keluar Pulau Sumatera ini, mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikannya, di Malang, Pulau Jawa, lewat jalur undangan.

Dalam pikiran saya 4 tahun lalu, kuliah tidak jauh berbeda dari guru yang mengajarkan muridnya tentang sebuah mata pelajaran, kelas yang diisi oleh bermacam jenis siswa, proses yang mengharuskan kita membaca dahulu sebelum masuk dalam ruang kelas, ujian yang menanti di pertengahan dan akhir semester, dan hal-hal sejenis yang tak jauh berbeda dari kelas-kelas di sekolah dulu. Namun, pemikiran saya pada waktu itu tidak tepat sepenuhnya, kuliah jauh lebih kompleks dari hanya sekedar belajar, sekedar menyelesaikan pelajaran dengan nilai yang memuaskan, atau sekedar menampung ilmu dari dosen yang mengajar suatu pelajaran.

Di awal perkuliahaan, saya merasa dan mengakui bahwa saya cukup tertinggal daripada anak lainnya, yang berasal dari kota-kota besar, atau ibukota negara ini. Kadang kala, terbesit sesuatu selama satu semester itu, “Kok kuliah gini ya? Eh, materi ini tuh gak pernah diajarin deh dulu! Ini materi bagian mana ya dulu, kok gak pernah baca atau denger?!”, kata-kata seperti itu muncul kadang kala saya tertinggal dari kawan-kawan saya.

Pada awalnya, saya mengira bahwa saya saja yang tak pernah baca, atau mendapatkan materi ini karena malas, dan sejenisnya. Lantas, karena alasan tersebut, saya mencoba belajar, membaca, berdiskusi, mengobrol, dan lainnya, guna menumbuhkan pengetahuan saya tentang perkuliahan, mata pelajaran yang ada di perkuliahan, ilmu-ilmu baru diluar perkuliahan, sampai pada belajar melakukan kegiatan aktivisme, seperti advokasi.

Kegiatan yang saya lakukan semasa awal kuliah, penambahan ilmu pengetahuan, dan lainnya, akhirnya membawa saya membantah pikiran awal saya tadi. Ternyata, perbedaan pengetahuan, atau knowledge gap yang terjadi, tak semata-mata karena alasan malas saja. Hal ini terjadi karena kurang meratanya akses pendidikan, kurikulum yang berbeda, pengajaran oleh beberapa guru yang tidak maksimal, penyebaran ilmu pengetahuan yang terbatas, dan banyak lagi determinan sistematis nan strutuktural di dalamnya. Contohnya saja, ketika di ibukota, siswa diajarkan bahwa seorang Tan Malaka adalah pelopor penting kemerdekaan. Di kotaku, kita masih diajarkan bahwa orang-orang daerah itu kanibal, atau Tan Malaka itu adalah komunis atheis, ups! Kira-kira begitulah gambaran pendidikan menurut saya.

Kuliah di Pulau Jawa, pada prosesnya ternyata memberikan banyak pandangan baru kepada saya, tentang manusia yang makin beragam jenisnya, khususnya yang berjenis individualis. Saya, yang berasal dari masyarakat daerah, kadang kala bingung dengan sifat dan jenis, dari masyarakat urban perhatikan, baik secara langsung ataupun melalui media daring.

Pada suatu waktu, saya melihat beberapa petani, di sebuah desa di pulau ini, diusir oleh sekelompok orang berseragam, karena lahan itu sekarang milik sebuah perusahaan, perusahaan itu dimiliki oleh salah satu dari 30 orang terkaya di Indonesia, dan diberikan izin begitu saja oleh pemerintah. Sayangnya, petani-petani itu tak punya apa-apa, dan tak punya visi kedepan agar mereka juga berusaha, membaca bacaan motivasi, agar nanti dapat menjadi orang kaya dan memiliki perusahaan. Mereka hanya memiliki tujuan menggarap tanah untuk makan, hidup secukupnya, dan sayang sekali tak mau ikut zaman sekarang. Saat melihat hal itu, seketika saya berpikir, saya dan orang-orang tertinggal inikah, yang harus terus mempertahankan tanahnya, atau kami saja yang tertinggal cara pandangnya, dan harus segera mengikuti modernisme yang ada? Hmmm, kelihatannya kita saja yang harus mengikuti modernisme, karena kalau menolaknya, bisa jadi kita yang dikeluarkan dari lingkar society yang ideal.

Pulau Jawa, tak sepenuhnya buruk bagi saya, tentunya begitu,sebagaimana ada pepatah yang mengatakan, “Tidak semua hal itu buruk, kadang kala ada hal baik yang tersembunyi”. Disini, saya senang sekali, ketika mati lampu, atau putus listrik jarang sekali terjadi, bahkan selama 4 tahun ini, bisa dihitung ada berapa kali mati lampu yang terjadi. Berbeda sekali dengan daerah saya yang setiap beberapa mingu, atau bulan, kita tahu kapan mati lampunya, sangat sering, kadang ada yang seharian pula. Sungguh infrakstruktur dan prasarana yang memadai, tidak menggangu ketika sedang mengerjakan tugas, atau menulis kegelisahan di laptop.

Bisa-bisa karena hal ini, saya lebih baik menjadi BuzzerRp rezim ini, karena proyek infrastruktur yang terjadi secara masif. Walaupun, sumber daya listriknya adalah batu bara yang dikeruk habis dari daerah, tidak apa, asalkan listrik penunjang kehidupan saya terpenuhi.

Tapi benar, tidak semuanya buruk disini. Bertemu banyak orang yang memberikan pertumbuhan intelektual, dapat berdiskusi, dan lainnya, adalah salah satu hal baik yang saya dapatkan. Selain itu, banyak sikap, karakter, dan sifat juga yang dapat menjadi pelajaran, seperti: unggah-ungguh, migunani tumraping liyan, nrimo ing pandum, ora neko-neko, dan lainnya.

Hal lain adalah, bagaimana banyak dari masyarakat disini yang lebih menghargai perbedaan, dalam kerangka toleransi, daripada di daerah saya. Sebagai kafir sekaligus menyandang label minoritas, bagi saya ini adalah hal yang menyenangkan, sekaligus menjadi pertanyaan, “Kok bisa ya disini lebih enak bagi minoritas, ketimbang daerah sendiri?”. Kira-kira begitulah disini, sebelum polarisasi politik 2016 s/d saat ini, hehehe….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.