Ilustrasi: Priska

 Pandemi yang tak kunjung usai memaksa dunia berpikir keras untuk dapat mempertahankan stabilitasnya. Dalam keadaannya yang serba genting, hampir-hampir sulit membedakan sektor apa yang harus diprioritaskan. Semua sektor tampak sama daruratnya untuk ditangani, baik itu sektor ekonomi, pariwisata, kesehatan, hingga pendidikan.

Di Indonesia, pemerintah sempat memberlakukan pembatasan fisik yang lumayan ketat—awalnya. Sekalipun begitu, Indonesia tetap dianggap sebagai negara yang terlambat dalam menangani pandemi. Ekonomi menjadi tidak karuan, kesehatan apalagi. Lalu pendidikan sebagai pondasi peradaban bangsa pun entah ada di prioritas berapa dalam benak bapak-bapak pemegang kebijakan.

Pada sektor pendidikan, negara agaknya tanggung dalam mengurus pendidikan. Terbaru , Menteri Pendidikan, Nadiem Makarim, mengizinkan dibukanya kembali sekolah di zona hijau. Sedangkan pembelajaran jarak jauh tetap diberlakukan pada zona merah. Ia berkilah pihaknya ingin mengusahakan agar mengembalikan sekolah pada pembelajaran tatap muka. Saat ditanya mengenai risiko kesehatan, ia malah curhat soal posisinya sebagai Menteri Pendidikan yang serba salah.

Keresahanan Nadiem memang maklum, meskipun sebenarnya bisa direduksi jika ia tidak memandang sempit dunia pendidikan dalam ruang ruang sekolah saja. Ivan Illich, seorang filsuf kelahiran Austria tahun 1926, jauh-jauh hari sudah memprediksi akan adanya monopoli legitimasi oleh sistem sekolah dalam paradigma pendidikan dunia. Dalam bukunya, Deschooling Society, Ivan Illich menggambarkan sekolah dengan empat ciri utama “I shall define school as age specific, teacher related process, requiring full time attendance at an obligatory curriculum.

Banyak juga dari kritiknya untuk dunia pendidikan yang masih relevan dengan era modern sekarang. Hingga ia mendesak agar sistem sekolah sebaiknya dihapuskan saja.

Age Specific (Pengelompokan Usia)

Anak-anak belajar di sekolah. Mereka hanya bisa diajar di sekolah. Menurut Ivan Illich ini hal sangat layak dipertanyakan. Mereka dipaksa sekolah, melakukan apa yang diperintahkan sedang mereka masih berperilaku layaknya anak kecil. Hasilnya, mereka kehilangan masa kecilnya –masa-masa paling bersejarah dalam hidup.

Maka tak heran jika saat ini kita menemukan fenomena anak kecil saat pembelajaran jarak jauh harus dihadapkan pada gawai pintar. Bukannya belajar, anak anak ini malah akan membuka situs-situs lain yang mereka ingin bermain di dalamnya. Itu berarti, efektivitas belajar saat pandemi ini lumayan membutuhkan effort yang lebih. Selain membutuhkan ketersediaan perangkat-perangkat seperti gawai, kebijaksanaan dari penggunanya juga penting diperhatikan.

Dalam hal ini, Illich berpandangan bahwa yang semestinya ditanamkan pada anak anak adalah self awareness, kesadaran diri mereka. Para orang tua harus memberikan kebebasan pada anak-anak; yang penting mereka sehat di musim sakit ini. Bisa dengan memberikan pemahaman tentang kesehatan. Pemahaman ini jelas termasuk sebagai suatu proses belajar pula, tidak melulu belajar mengenai matematika dan yang lainnya.

Lagipula konteks belajar tentu tidak sempit. Sepanjang hidup manusia juga merupakan belajar—minal mahdi ilal lahdzi. Hingga kemudian muncul ungkapan “tidak ada kata terlambat dalam belajar”. 

Teacher Related Process (Pembelajaran Harus Melalui Guru) 

Ivan Illich mengkritik monopoli legitimasi pembelajaran oleh sekolah, seolah olah pembelajaran satu satunya yang sah hanya melalui guru di sekolah. Padahal menurutnya, we have all learned most of what we know outside school. Orang orang bisa kok belajar dari lingkungannya, menonton film lalu menganalisa juga belajar, belajar untuk berbicara, belajar mencintai, belajar merasakan. Semuanya itu belajar yang tidak harus melalui guru.

Kiranya pandemi ini bisa jadi momentum untuk berefleksi bahwa ada yang janggal dalam pendidikan kita selama ini. Di rumah, para siswa dapat mempelajari banyak skill yang mereka minati tanpa menunggu dibukanya kelas oleh guru. Kesadaran untuk belajar secara mandiri dapat membuat mereka mengeksplorasi banyak pengetahuan secara bebas. 

School prepares people for the alienating institutionalization of life, by teaching the neccesity of being taught. Sekolah telah membuat para siswanya terdoktrin bahwa mereka hanya bisa belajar dengan cara diajar oleh guru. Dengan begitu, tidak ada dorongan lebih bagi para siswa untuk berkembang secara independen.

Ivan Illich juga menggambarkan sekolah ini seperti ‘pemungut pajak’ bagi para muridnya. Murid akan mendapatkan pembelajaran saat ia pay for learning. Orang tua kelas bawah tak peduli dengan apa yang dipelajari anaknya selain ijazah dan lowongan kerja yang anaknya dapat kelak. Di sisi lain orang tua kelas menengah memastikan anaknya dapat pembelajaran dari para guru. Pembelajaran yang berbeda dengan apa yang dipelajari orang orang miskin.

Terlebih seperti saat pandemi sekarang, orang tua jungkir balik dipaksa melunasi tagihan pendidikan. Saat semua orang terdampak, orang tua terus mengusahakan anaknya agar terus mendapatkan pembelajaran dari para guru yang ‘terakreditasi’ demi tercapainya selembar ijazah. Sekolah begitupun kampus hanya jadi pabrik ijazah yang bisa didapat dengan restu si guru.

Hidden Curriculum (Kurikulum Tersembunyi)   

Menurut Illich, sekolah secara diam-diam menanamkan pandangan pada siswanya bahwa mereka tak bisa menyiapkan diri untuk masa depan tanpa melalui sekolah. Masyarakat dengan inferioritasnya, dipaksa selalu tunduk pada diskrimasi yang didasarkan atas ijazah mengenai keterampilan yang dimiliki seseorang. Mereka dipaksa tunduk pada penyelenggaraan pendidikan yang serba mekanis dan administratif.

Sistem sekolah saat ini sudah begitu terstruktur. Sekolah, kata Illich, sudah menggali jurang diskriminasi antara si miskin dan si kaya. Mereka yang belajar di jalan jalan oleh kurikulum tersembunyi dicap sebagai pendidikan miskin. Mereka yang belajar di ruang ruang oleh kurikulum tersembunyi dicap sebagai pendidikan kaya.

Penuh indoktrinasi terselubung dan sangat destruktif. Dan beginilah realitanya, banyak problem sosial saat ini bukan dicipta dari orang bodoh, tapi dari orang orang pintar yang ingin mempertahankan status quo nya. Diperparah dengan sistem sekolah yang tidak menginginkan perubahan pada struktur sosial. Kalau kata Illich, School is the advertising agency which makes you believe that you need the society as it is.

Dan demikian, masih banyak lagi kritik Ivan Illich pada dunia pendidikan yang tertuang pada buku Deschooling Society. Bagaimanapun, pendidikan adalah salah satu proses perjalanan hidup di mana kita belajar menimba ilmu, berbagi dan saling peduli. Belajar di manapun, kapanpun. Tak terbatas pada dinding-dinding sekolah dan papan-papan kelas. Pendidikan sebagai corong peradaban membentuk manusia dengan belajar untuk memperbaiki kualitas diri, kesadaran diri.


Penulis: Zainal Mustofa
Editor: Abdi Rafi Akmal

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.