Bendera berlambang anarkisme dibawa saat sekelompok punk menggelar aksi demonstrasi di depan Mabes Polri, Jakarta. Sumber: CNN Indonesia/Prima Gumilang

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan punk sebagai “pemuda yang ikut gerakan menentang masyarakat yang mapan dengan menyatakannya lewat musik, gaya berpakaian, dan gaya rambut yang khas”. Pengertian tersebut menggambarkan secara singkat, baik tujuan dan ciri-ciri kelompok punk.

Kali pertama penulis mengenal punk, hal-hal seperti berani menghadapi apapun dan kebebasan merupakan pikiran yang utamanya mendominasi terhadap citra kelompok punk. Norma dan aturan yang ada bukanlah menjadi pembatas yang kuat bagi arah gerak budaya ini. Jalan raya, tato, dan tindik, umumnya merupakan tanda-tanda yang erat kaitannya dengan identitas punk.

Punk lahir saat krisis ekonomi di London, Inggris pada tahun 1970 yang menyebabkan munculnya golongan dari kaum pekerja serta anak-anak muda dalam melakukan aksi protes terhadap masalah yang menimpa mereka. Pemerintahan yang dianggap kurang reponsif menjadi sasaran kritik dan protes dari golongan ini. Kelompok yang didominasi oleh para kaum bawah yang saat itu sangat tidak puas terhadap situasi yang terjadi memulai untuk menyatukan keinginan sebagai pihak oposisi dari pemerintahan. Punk yang merupakan subculture tentu masih belum merambah secara luas, saat itu gerakannya masih terbatas pada benua Eropa dan Amerika. Seiring berjalannya waktu, budaya ini mulai masuk di beberapa negara salah satunya adalah Negara Indonesia.

Punk mulai menjangkiti Indonesia pada tahun 1989/1990-1995 melalui media musik. Ciri khas musik punk yaitu dalam permainan instrumennya dan juga lirik serta pelafalan yang khas. Dari sini lah, sebagian masyarakat kita mulai membuka pintu masuk bagi budaya luar negeri tersebut.

Munculnya band pertama yang menganut aliran musik punk yaitu Anti Septic serta terbentuknya forum yang menyatukan anak punk yaitu YO (Young Offender) di Jakarta. Punk lokal dan luar negeri, baik langsung atau tidak langsung mengalami kontak. Dapat dipahami bahwa terciptanya relasi tersebut menguatkan tonggak budaya punk di Indonesia. Seiring berjalannya waktu, apakah budaya punk tersebut masih sama hingga sekarang? Apakah generasi yang berbeda serta pewarisan budaya selama kurang lebih 30 tahun ini tetap melestarikan nilai-nilai yang dianut oleh anak punk terdahulu? Tulisan ini akan menjawab pertanyaan tersebut dari dua aspek, yakni ideologi dan fesyen.

Sosialisme dan Anarkisme

Sosialisme merupakan identitas punk yang mengemban prinsip kesetaraan dalam kelompoknya. Prinsip anti kemapanan dan penindasan yang terlahir sebagai semangat untuk membuka sedikit celah ke jalan ideologi anarkisme. Anarkisme yang dimaksudkan berbeda dengan makna aslinya yang menghendaki negara tanpa sistem pemerintahan, tetapi pada kekerasan dan dunia narkoba. Di Indonesia berbeda lagi, beberapa anggota band punk, Leonardo dan Ollie Fukkguy dalam wawancaranya, memberi pengertian bahwa anarkisme adalah kebebasan pada mengatur diri pribadi dan kebebasan.

Bentuk anarkis dari kelompok punk bisa dilihat dari joget mereka yang terkenal keras. Ketika menghadiri sebuah konser musik, umumnya mereka akan saling sengol. Tindakan anarkis seperti itu, menurut penelitian Fajar (2012) dapat dengan mudah menyulut emosi antarindividu dan antarkelompok, terlebih jika sedang di bawah pengaruh minuman keras dan obat-obatan.

Kelompok punk menggaungkan ideologi sosialisme di sejumlah karya mereka, misalnya melalui karya musik. Lagu “God Save The Queen” (1977) milik The Sex Pistol menjadi salah satu contohnya. Lagu tersebut mengandung protes terhadap sistem pemerintahan Inggris. Hal yang sama juga terjadi di Indonesia. SID dan Marjinal merupakan ikon musik punk di Indonesia. Mereka menyeuarakan situasi sosial terkini melalui lirik musik.

Ideologi Sosialisme tersalurkan hingga sekarang juga melalui karya-karya mereka seperti di bidang sablon yang menyuarakan prinsip equality(kesamaan) begitu juga sejarah rambut mohawk sebagai simpati pada suku Mohican di Indian. Selain itu juga mereka kerap mengadakan reuni atau kumpul bareng antar kelompok punk.

Fesyen Punk

Sejak awal terbentuk, penampilan kelompok punk tidak seperti penampilan orang lain pada umumnya. Gaya rambut mereka dipangkas menjadi model ‘rambut landak’ atau juga dengan model skinnyhead. Gaya rambut yang tidak biasa adalah bentuk kebebasan ekspresi.

Pakaian kelompok punk juga menjadi karakteristik yang tampak secara jelas. Kaos yang mereka kenakan dominan berwarna hitam, lengkap dengan jaket kulit yang penuh dipenuhi coretan dan kreasi. Untuk bagian bawah, mereka mengenakan celana jeans yang cukup ketat dan dipadu dengan sepatu boots.

Gaya penampilan khas kelompok punk menunjukkan simbol anti kemapanan. Hal yang normal dipakai orang banyak atau nilai-nilai estetika yang lama dipercaya masyarakat seolah diputarbalikkan. Dalam dunia fesyen, penampilan akan mempengaruhi pandangan orang di sekitar. Penampilan ala-ala punk saat ini masih belum dirasa diterima oleh kebanyakan orang. Beberapa sistem yang ada, seperti pada pekerjaan atau pemerintahan, mengatur penampilan yang rapi dan elegan.

Saat ini, fesyen kelompok punk masih sama dengan awal mula punk terbentuk. Perbedaannya hana tampak pada kualitas dari bahan yang digunakan. Punk di Indonesia juga lebih menonjolkan kesederhanaan dengan sedikit aksesoris pelengkap. Paling umum yang mereka gunakan adalah tindik, rantai, dan gasper sabuk yang besar. Ada juga yang hanya memilih memakai kaos hitam oblong dengan sablonan khas punk dan celana pendek. Rambut yang disemir dan dipotong mowhack menjadi tren oleh anak punk sekarang.

Membicarakan bagaimana budaya kelompok punk saat ini tentu akan berbeda-beda. Sumber yang tidak pasti serta perbedaan budaya antar tiap kelompok punk menjadi permasalahannya. Hanya ada sejumlah kelompok punk saja yang memiliki arah gerak yang pasti, seperti Marjinal-Taring Babi, Punk Aceh, Surabaya, dan lainnya. Mereka memiliki usaha mandiri, sehingga nama mereka mendapat tempat di masyarakat. Sebagian kelompok punk lainnya juga ada yang bergerak di dunia musik dengan membentuk band. Sebagiannya lagi masih membentuk kelompok yang kecil dan tersebar di berbagai tempat. Misalnya, ada kelompok-kelompok punk yang sedang berteduh di pinggir jalan di sekitar daerah tempat tinggal penulis.


Penulis: Hamim Maulana Rahman
Editor: Abdi Rafi Akmal

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.