Sumber: imdb.com

Genre : Drama Keluarga
Sutradara : Majid Majidi
Produser : Amir Esfandiari, Mohammad Esfandiari
Pemain : Amir Farrokh Hashemian, Bahare Seddiqi, Fereshte Sarabandi
Tahun : 1997
Durasi : 89 menit

Penulis: Tiara Bakhtiar

Kala itu seorang anak laki-laki bernama Ali pergi untuk memperbaiki sepatu sang adiknya yang bernama Zahra. Sepatu lusuh berwarna merah muda yang mungkin lebih pantas untuk dibuang karena sudah tak layak pakai. Alih-alih membeli sepatu baru, Ali memang hanya mampu memperbaikinya karena keadaan ekonomi keluarganya yang tak baik.

Pada saat pulang, Ali mampir ke toko untuk membeli apa yang telah ibunya perintahkan sebelumnya, tentu saja dengan makian penjual karena hutang ibu Ali belum dibayar dan ia menyuruh Ali kali ini untuk menghutang lagi. Sepatu Zahra ia tinggal di depan toko itu, namun ketika Ali keluar sepatu itu sudah tak ada lagi di tempatnya. Namun Ali hanyalah anak kecil dengan segala kepolosan dan kecerobohannya.

Keadaan menjadi semakin rumit bagi Ali dan Zahra. Satu pasang sepatu hanya untuk mereka berdua. Sementara keduanya tetap harus bersekolah. Ali meminta kepada adiknya untuk tidak memberitahu kepada orang tua mereka. Mereka berupaya mengatasi masalah yang disebabkan oleh Ali. . “Tolong jangan bilang apapun kepada ibu,” lontar Ali kepada adiknya

Perjuangan baru dimulai esoknya. Zahra terpaksa memakai sepatu milik kakaknya untuk bersekolah. Beruntungnya jadwal sekolah mereka berbeda. Zahra berangkat pagi, sementara Ali siangnya. Namun jeda waktu antara keduanya sangatlah sedikit. Mereka harus bergantian untuk memakai sepatu. Tiap sepulang dari sekolah Zahra harus berlari-lari menuju ujung  gang rumah mereka, karena disitu pasti tengah ada Ali yang menunggu Zahra. Sepatu tersebut nampak terlalu besar untuk Zahra serta membuatnya kesal dan malu karena tidak bisa dipakai saat pelajaran olahraga

Hari-hari dilalui mereka dengan hati yang tidak tenang. Zahra di sekolah yang selalu terburu-buru pulang karena takut kakaknya marah. Begitu pun Ali yang selalu sabar menunggu Zahra di ujung gang, yang mau tidak mau ia harus selalu telat berangkat sekolah dan sempat dihukum oleh pengawas karena ia berulang kali melakukannya. Napasnya yang selalu tersengal-senggal dan berlumur keringat ketika memasuki gerbang sekolah sempat membuat guru-guru heran dengan kondisi Ali.

Singkat cerita sekolah Ali mengikuti lomba lari tingkat regional. Ali sempat tidak tertarik karena mungkin akan membuang-buang waktu dan tenaganya. Namun ia berubah pikiran. Ia memutuskan untuk mengikuti kompetisi tersebut karena juara ketiga mendapatkan hadiah berupa sepasang sepatu. “Kalau aku jadi juara ketiga, sepatunya akan kuberikan padamu,” ucapnya kepada Zahra dengan senyuman yang merekah. Soal menang atau kalah, Ali sangat optimis untuk memenangkan kompetisi tersebut. Jika urusan lari, Ali sangat jago karena itulah kegiatannya setiap hari untuk pergi ke sekolah.

Ali berlari dengan sangat laju sambil memikirkan sepatu tersebut. Tampaknya lomba tersebut tidak berarti apa-apa untuk Ali dibandingkan dengan perjuangan mereka untuk bergantian sepatu setiap harinya, hati yang selalu tidak tenang setiap harinya. Tiba Ali sudah hampir di garis finish dan ia berada di urutan pertama. Karena Ali tidak ingin menjadi juara pertama, ia mengurangi kecepatannya menunggu dua orang lagi untuk berada di depannya. Namun Ali sempat lengah, tak sadar jika didepannya sudah ada beberapa anak lebih dari dua. Ia berlari sekencang-kencangnya hingga tiba tepat di garis finish dan ia menjadi juara pertama. Ketika orang lain akan senang membuncah ketika mendapat juara pertama, tidak untuk Ali. Bagi Ali ini kegagalan yang luar biasa karena ia tidak bisa pulang membawa sepatu baru untuk Zahra yang telah ia janjikan sebelumnya.   

Begitulah singkat alur cerita film yang berjudul The Children Of Heaven yang digarap pada tahun 1997 yang mengambil latar belakang di kawasan pinggir kota di negara Iran. Kekuatan film ini berada pada sisi emosional karakter. Keduanya sangat mudah menitikkan air mata yang memancing simpati para penonton. Jalan cerita juga dikemas dengan apik serta membuat penonton tersentuh dengan dua kakak-beradik tersebut. Film ini juga berhasil membawa penonton ikut tegang dan resah ketika mendapati Zahra harus berlari untuk menemui Ali selepas sekolah hanya untuk sepasang sepatu. Pembangunan interaksi dan penjiwaan karakter dari dua aktor cilik tersebut patut diapresiasi karena memang terlihat sangat natural selayaknya kakak memarahi adiknya dan adik yang merajuk pada kakaknya.

Namun akhir cerita yang disajikan dalam film ini tampaknya kurang memuaskan ekspektasi penonton ketika melihat filmnya sedari awal. Sebab, sangat disayangkan Ali tak bisa mendapatkan juara ketiga untuk mendapatkan sepatu. Namun hal ini secara implisit menjelaskan bahwasanya inti dari sepanjang jalan cerita tersebut ialah bukan hanya sekadar sepatu. Bukan tentang bagaimana akhirnya mereka mendapatkan sepatu untuk bersekolah. Namun tentang bagaimana mereka berbagi kepada saudara, menghadapi dan menyelesaikan masalah bersama, bersedih bersama, susah payah bersama, jatuh dan bangkit bersama yang diajarkan melalui sepasang sepatu.

Dengan segala kompleksitas dan sarat makna yang ditawarkan,  film ini memang sangat layak untuk ditonton bagi siapa saja. Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari film ini. Antara lain tekad, kerja keras dan ketulusan. Melihat film ini kita bisa tahu bagaimana menjaga hubungan bersaudara, bagaimana cara untuk memeluk adikmu, mendukung kakakmu dan bersama-sama membantu ayah dan ibu. Konsep kesederhanaan juga sangat menonjol dalam film ini. Ali yang enggan diajak bermain bola hanya untuk membantu ibunya bekerja selepas sekolah cukup membuktikan betapa susahnya terlahir dari keluarga yang tak berkecukupan dan yang tidak kalah penting ialah mencoba untuk selalu bersyukur dan ikhlas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.