Ilustrasi: Priska

MALANG-KAV.10 Mahasiswa penerima Bidikmisi semester 9 tahun ini sedang harap-harap cemas menunggu kepastian perubahan nominal tagihan Uang Kuliah Tunggal (UKT). Pasalnya, nominal UKT yang tertera pada akun SIAM mereka tidak seperti kebijakan tahun-tahun sebelumnya yang berubah secara otomatis menjadi Rp. 500 ribu. Nominal UKT yang diperoleh mahasiswa bersangkutan berbeda-beda satu sama lain.

Hal itu disampaikan Nehemia Yosefin, mahasiswa Fakultas Teknik angkatan 2016. Menurutnya, dari informasi yang dihimpun dari penerima-penerima Bidikmisi lain, tagihan UKT tahun ini bervariasi.

“Beberapa dari kami ada yang harus membayar 2,4 juta. Lalu ada juga yang harus bayar 3,6 juta, 1,9 juta, dan ada pula yang 1,2 juta. Ada banyak varian,” ungkapnya.

Akun Instagram BEM Filkom juga sempat mengabarkan nominal UKT bagi mahasiswa Bidikmisi semester 9 akan otomatis berubah (12/8). Namun, dalam keterangannya, BEM Filkom mengatakan nominal tersebut masih menunggu proses perubahan. Sehingga, mahasiswa berangkutan diharapkan untuk menunggu.

Sumber: Akun IG @bemfilkomub

“Itu pun (pernyataan bahwa UKT harusnya berubah otomatis, red) sebenarnya sudah divalidasi oleh BEM dari beberapa fakultas. Namun, apa yang kami terima saat ini kok tidak seperti itu,” keluh Nehe.

Perbedaan tagihan UKT dari tahun-tahun sebelumnya juga disinyalir karena perbedaan acuan kebijakan. Menurut Surat Edaran No. 5287.1/UN10/TU/2020 tentang Kebijakan Uang Kuliah Tunggal, mahasiswa semester 9 membayar UKT paling tinggi sebesar 50% dari besaran UKT masing-masing.

Surat Edaran ini merupakan tindak lanjut dari Peraturan Kemendikbud No. 25 tahun 2020. Namun, perlu diketahui bahwa aturan ini tidak secara rinci menjelaskan penerapan UKT maksimal kepada penerima Bidikmisi.

“Yang jadi permasalahankan memang di kondisi yang normal pun UKT-nya lebih rendah, dan seharusnya di kondisi yang pandemi seperti ini harusnya lebih rendah bukan malah naik,” kata Muhammad Farhan Azis, Presiden Eksekutif Mahasiswa (EM) UB.

Menurut Farhan, Permendikbud 25/2020 seharusnya hanya berlaku untuk mahasiswa reguler. Sedangkan kebijakan UKT untuk mahasiswa penerima Bidikmisi ada di tangan kampus masing-masing.

“Nah ini yang sedang kita urus,” ujar Farhan.

Lebih lanjut, pihak EM sedang berusaha untuk membicarakannya dengan Wakil Rektor (WR) II. Sebelumnya, pihak EM juga sudah melakukan komunikasi dengan WR III yang jawabannya merujuk pada Permendikbud 25/2020.

Meski pihak rektorat sudah meminta data penerima Bidikmisi, sampai saat ini belum ada kejelasan mengenai kebijakan lanjutan yang akan dilakukan.

“Ini tentang intensi rektorat untuk membantu bidikmisi juga. Dari yang tadi saya bilang, pasti pada ujungnya ini bergantung pada keinginan rektorat untuk membantu mahasiswa,” pungkas Farhan.

Hingga saat ini, mahasiswa Bidikmisi semester 9 terus menunggu perubahan nominal UKT di akun SIAM masing-masing. Apabila perubahan tidak kunjung terjadi, sejumlah mahasiswa menyatakan terpaksa harus membayar sesuai nominal yang tertera, sementara sebagian mahasiswa lainnya terancam harus mengambil cuti akdemik pada semester ini.

Penulis: Priska Salsabiila
Editor: Abdi Rafi Akmal

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.