Ilustrasi: Salsa
Oleh: Agung Mahardika

“Mohon maaf, Pak, kalau ingn menemui Pak Presiden harus ada SINTEPRES dulu”

“Harus ada apa?” Tanya orang buta sambil memejam-mejamkan matanya lebih dalam. Bola matanya yang semakin mencorok ke dalam menunjukkan bahwa dia sangat penasaran

“SINTEPRES, Pak, Surat Izin Ketemu Presiden”.

“Emang ada aturan gitu, ya? Aku pernah ke sini – kalau enggak salah 20 tahun yang lalu – langsung dibolehin masuk, og”.

“Ya, Pak. Memang sekarang ada perubahan”.

“Ini namanya bukan perubahan, Mas, tapi kemunduran”.

“Emang aturannya gini, Pak. Mohon maaf,” ucap petugas agak geram

“Kemunduran kok dipatuhin,” jawabnya sinis tapi santai

“Ini sudah protokol yang harus dipatuhi!  Kalau enggak mau patuh ya pergi sono!” bentak petugas berwajah kotak berambut cepak.

“Mas marah, ya?” Tanya orang buta masih dengan tenang dan sesekali mengisap rokoknya.

“Pergi sono!”

“Emang ngusir orang yang bertanya juga protokol, ya, Mas?”

Petugas meraih badan orang buta lalu dibalikkan tubuh yang agak bungkuk itu dan didorong ke arah menjauh dari istana. Orang buta itu berusaha meronta untuk melawan dorongan. Petugas dengan lebih beringas mendorong. Orang buta berjalan terseok-seok ke arah menjauhi istana. Orang buta masih melawan. Tubuhnya ditahan untuk tidak ke arah menjauhi istana dan masih berusaha membalikkan badan. Petugad terus mendorong dan tiap dorongan lebih kuat dari dorongan sebelumnya. Setelah tak mampu lagi mampu menahan dorongan, orang buta mengambil posisi duduk kemudian tidur menelantangkan tubuhnya di jalan. Dalam posisi telentang dan tarikan petugas yang memaksanya bangun, orang buta itu meronta sambil berteriak sekencang-kencangnya, “Pak Presiden! Tolong saya, Pak! Saya ingin bertemu sampean malah dianiaya, Pak. Pak Presiden!! Pakkk!! Saya ingin bertemu sampean, Pakkk!”

***

Monggo diminum dulu”.

“Enggak usah, Pak. Aku mau langsung tundepoin saja,” jawab orang buta dengan medok jawa tengahan

“Ya sudah, silakan”.

“Di negara ini sedang ada masalah apa aja, Pak?”

“Kan bisa dilihat di media-media, Pak”.

“Kan saya buta, Pak”.

“O, maaf, Pak. Maaf”.

Pak Presiden melanjutkan, “Maksud saya kan bisa dengerin di radio, Pak”.

“Saya enggak pernah punya dan enggak pernah bisa makek radio, Pak”.

“Ya minta bantu istri atau anak to, Pak”.

Orang buta itu kemudian menjelaskan kehidupannya yang sebatang kara. Kepergian istrinya 25 tahun lalu karena kecelakaan membuatnya hidup sebatang kara di sebuah kontrakan yang ia tinggali sejak awal menikah. Kecelakaan itu juga yang membuatnya kehilangan penglihatan. Benturan keras di kepala membuat penglihatannya memburuk dari waktu ke waktu. Sampai akhirnya beberapa tahun kemudian dia buta total.

“Saya prihatin, Pak. Ya sudah, habis ini saya belikan radio sama saya suruh orang mengajari Bapak pakai radio”.

“Enggak usah, Pak. Saya mau denger langsung dari Bapak”.

“Tapi ini bukan kapasitas saya, Pak. Mohon maaf, ya, Pak”.

“Kok bisa, Pak? Justru Bapak yang paling berkapasitas buat ngomongin – eh, berbicara maksudnya – permasalahan negara. Mohon maaf kalau kurang sopan, Pak”.

“Tidak apa-apa, Pak. Santai saja,” jawab Pak Presiden memang dengan sangat santai, meski lebih terkesan kalem, “tapi sekali lagi mohon maaf, Pak, saya enggak bisa njelasin masalah negara ini. Kompleks sekali, Pak. Sangat kompleks. Mohon maaf, ya, Pak”.

“Ya dah, Pak. Saya mau nanya aja, nanti Bapak yang jawab atau mengklarifikasi. Bijimana?”

Beberapa ajudan dan pembokat di istana geram melihat kelakuan orang buta pada Pak Presiden. Tapi Pak Presiden tetap terlihat santai dan ramah. Pak Presiden masih bijak bestari.

“Silakan, Pak. Mau nanya apa? Monggo”.

“Apa benar kemarin – sekitar sekitar sebulan yang lalu – ada pelawak enggak boleh ngelawak? Aku lupa nama pelawaknya, pokoknya benda langit. Entah planet apa drone gitu namanya,” ucap orang buta yang dilanjutan dengan dengan cekikikan sendiri

“Maksud Bapak Bintang?”

Orang buta mengangguk dan mengarahkan jari telunjuknya ke arah Pak Presiden.

Pak Presiden tersenyum, “O, itu memang benar adanya, Pak. Si pelawak yang kritis itu mendapat tuduhan dan fitnah dari pihak-pihak tidak bertanggung jawab. Tapi saya pastikan itu bukan dari pihak pemerintah, Pak”.

Orang buta manggut-manggut dan Pak Presiden melanjutkan.

“Kebebasan di masa kepemimpinan saya itu dibuka sebebas-bebasnya, Pak. Pemerintah dan seluruh lembaga negara terbuka akan segala kritik dan masukan. Karena sudah semestinya suara itu disuarakan. Pembungkaman adalah upaya merampas kemanusiaan”

Orang buta tidak menanggapi perkataan Pak Presiden yang penuh semangat  dan malah kembali bertanya. “Katanya ada yang enggak sengaja nyiram air keras juga, ya?”

“O, iya, itu juga benar adanya, Pak,” Pak Presiden menyamankankan posisi duduknya. “itu juga ada kaitannya dengan kasus pelawak tadi…”

Orang buta menyela, “Emang apa kaitannya?”

Dengan posisi duduk yang lebih nyaman Pak Presiden  melanjutkan penjelasannya. Pak Presiden menjelaskan kalau tiga tahun lalu ada kasus penyiraman air keras yang kemudian si penyiram (tersangka) didakwa di pengadilan. Dakwaan di pengadilan di luar dugaan, yakni hanya sebelas purnama. Padahal perkiraan dari para pakar hukum setidaknya dakwaanya adalah sebelas gerhana cincin, kalau tidak begitu ya seumur hidup. Dakwaan yang jauh dari perkiraan diduga karena berkaitan dengan kasus-kasus besar, mengingat korban adalah penyidik spesialis kasus-kasus korupsi yang besar. Presiden menyadari bahwa dakwaan sebelas purnama tidaklah masuk akal. Pak Presiden menyadari bahwa kiwari ini memang akal sehat dinomorsekiankan di depan pengadilan. Ada kerakusan, keserakahan, ketidakmasukakalan yang meduduki nomor-nomor awal.

“Tapi ya gimana lagi, Pak, saya tidak bisa berbuat apa-apa,” keluh Pak Presiden dengan nada ucapannya yang terdengar sangat lemas.

“Bapak sedih, ya?” tanya orang buta

“Enggak kok, Pak,” Pak Presiden tidak mengakui kesedihannya.

“Kalau capek bicara silakan minum dulu, Pak. Hiks hiks,” kelakar orang buta

“Kok malah saya yang jadi tamunya, ya,” jawab Pak Presiden dengan tetap santai dan kemudian meneguk minuman di depannya.

Kekesalan sekaligus kegeraman para ajudan dan pembokat memuncak.

“Terus, Pak, kemarin pas aku di warung denger ada anak muda ngobrol katanya RUU PSK . . .”

“RUU PKS maksudnya?” sela Pak Presiden.

“Enggak tahu lah, pokoknya kalau aku enggak salah denger itu – kata anak muda yang ngobrol di warung kemarin – RUU itu gak disahkan, padahal penting. Sebenernya sepenting apa, sih, Pak?

“Jadi, Pak,” Pak Presiden masih menanggapi dengan santai, “RUU PKS itu RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENGHAPUSAN KEKERASAN SEKSUAL,” ucap Pak Presiden dengan penekanan.” Nah, RUU itu dibuat dengan tujuan untuk mencegah atau meminimalisir terjadinya kekerasan seksual yang semakin hari semakin banyak.”

“Loh, bagus dong berarti. Kenapa enggak disahkan? Kan ini gak menyangkut urusan elektabilitas politik, proyek-proyek dan segala bentuk bisnis, baik besar maupun kecil.”

“Nah, itu, Pak. Saya juga enggak habis pikir. RUU PKS ini kan sebenranya enggak ada urusan sama hal-hal yang sampean sebutkan tadi. Padahal hal-hal tadi – elektabilitas, proyek-proyek dan bisnis – seringkali jadi penghalang atau pemulus lahirnya Undang Undang. RUU PKS ini kan sebenarnya pyurr –atau murni – urusan kemanusiaan. Yang diperjuangkam orang-orang di RUU PKS ini kan soal nilai-nilai kemanusiaan yang ada di dalamnya. Aneh memang, Pak, sepertinya tidak cuma akal sehat, sekarang ini kemanusiaan juga dinomorsekiankan”.

“Padahal kita manusia!” sela orang buta yang membuat Pak Presiden agak terkejut.

Hari sudah sore. Warna kuning mulai memperkeruh langit. Para wartawan termasuk segala perlatannya sudah ramai dan siap mendapatkan informasi. Pak Presiden sudah saatnya untuk melakukan konferensi pers

“Teksnya sudah jadi belum?” Tanya Pak Presiden

“Belum, Pak.” Jawabnya kaget

“La terus kamu dari tadi ngetik apa?”

“Anu, Pak, anu . . .” Jawabnya gugup

Pak Presiden marah, “Ya dah, minggir! Aku tak ngetik sendiri. Minggir sana!”

Pak Mensesneg beranjak dari kursi. Dia takut karena melihat Pak Presiden marah, namun di sisi lain dia tersenyum gembira karena telah menyelesaikan sebuah cerita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.