Foto: Zen

Judul Buku : Para Priyayi
Pengarang : Umar Kayam
Tahun Terbit : 1992
Penerbit : PT. Pustaka Utama Grafiti
Tebal Buku : 337 Halaman

Penulis: Zainal Mustofa

Langit di sebelah barat sore itu kelihatan merah kekuningan memancarkan sinar yang aneh. Menjelang senja itu seluruh halaman rumah, tegalan, jadi kelihatan lebih indah, terang akan tetapi juga begitu asing. Barangkali inilah yang disebut candikala dalam ceritera Nyi Roro Kidul.

“Wage, Le, anakku yo, Ngger.” Embok mendudukkan Wage, anaknya, di hadapannya. “Kamu sekarang sudah besar. Sudah enam tahun.” Lanjut Embok, “Sudah waktunya kamu pergi dari desa yang kecil dan sumpek ini, Ngger.

Hal yang ditakutkan Wage saat itu akhirnya terjadi. Wage mulai menapakai titik awal perjalanannya sebagai bakal priyayi (orang yang dihormati). Singkat cerita, Wage dipindahkan ke rumah Setenan di daerah Wanagalih dan diasuh oleh keluarga priyayi bernama Sastrodarsono. Dalam cerita, Wanagalih digambarkan sebagai salah satu daerah bersejarah di ujung barat Jawa Timur.

Nama ‘Wage’ mengalami perubahan karena dianggap terlalu ndeso. Nama tersebut diubah oleh Ndoro Sastrodarsono menjadi Lantip—yang artinya cerdas. Sastrodarsono juga memiliki nasib yang serupa dengan Lantip. Mulanya, ia adalah anak seorang petani, bukan dari turunan priyayi. Nama aslinya adalah Soedarsono, pemberian dari Ndoro Seten.

Sastrodarsono mendapatkan gelar priyayi dengan kerja kerjasnya. Ia menyelesaikan sekolah dan menjadi guru bantu di daerah kecil Karangdompol. Begitu ia menikah, namanya saat ini, ‘Sastrodarsono’, disematkan.  “Jangan hanya puas jadi petani, Le. Kalian harus berusaha menjadi priyayi. Kalian harus sekolah”. Demikian pesan Embah Sastrodarsono yang diteruskan ayahnya hingga sampai ke telinga Sastrodarsono.

Kehidupan priyayi Sastrodarsono bermula kala ia dijodohkan dengan Siti Aisyah atau Ngaisah. Ngaisah merupakan putri dari pamannya, Mukaram, yang juga berlatar belakang priyayi. Ngaisah digambarkan sebagai sosok perempuan yang penurut, berpendidikan dan cerdas bahasa Belanda. Sastrodarsono pun dibuat kagum olehnya.

Proses perjodohan mereka berjalan lancar meski sebelumnya kedua keluarga harus berbasa-basi dan berkembang-kembang bahasa dahulu—hal yang lumrah dalam kehidupan Jawa. Lagipula, bayangkan betapa keringnya kehidupan tanpa basa-basi. Dari pernikahan mereka, pasangan priyayi muda itu dikarunia tiga anak, Noegroho, Hardojo dan Soemini.

Keluarga Sastrodarsono perlahan bisa membangun keluarga priyayinya sendiri. Noegroho sebagai putra sulung menjadi guru di HIS sebelum bergabung dengan PETA pada zaman pendudukan Jepang. Kemudian, ia sebagai perwira TNI pada zaman kemerdekaan diangkat. Hardojo, putra kedua, menjadi abdi Mangkunegaran bersama adik iparnya atau suami Soemini, Harjono sebagai Asisten Wedana.

Lanjutan kisah dari ketiga anak Sastrodarsono itu banyak menemui masalah. Mulai dari Noegroho dengan insiden yang dialami anak-anaknya, Hardojo dengan kasus-kasus yang dibuat anaknya hingga masalah yang menimpa rumah tangga Soemini-Harjono. Pada akhirnya, sosok Lantip muncul sebagai priyayi sejati.

Lalu siapakah Lantip sebenarnya?

Konon, Sastrodarsono pernah mengasuh seorang anak yang juga masih keponakannya bernama Soenandar. Saat itu, mengasuh kerabat-kerabat dekat mereka adalah kebiasaan priyayi Jawa.[ARA3]  “Tidak pantas, saru, bila ada seorang anggota keluarga besar priyayi sampai kleleran, terbengkalai tak terurus”

Soenandar adalah anak yang nakalnya bukan main. Meski begitu, Sastrodarsono masih berusaha memberinya kepercayaan. Soenandar ditugaskan untuk mengajar dan mengawasi pelaksanaan kelas baca dan menulis di daerah miskin Wanalawas.

Soenandar tidur di sebuah rumah milik Mbok Soemo, seorang janda tua dengan anak gadisnya bernama Ngadiyem. Hari yang tak diinginkan tiba, Soenandar minggat entah kemana, setelah sebelumnya menghamili Ngadiyem. Kelak anak yang lahir dari hubungan haram itu adalah Lantip.

Maka tak heran Eyang Sastrodarsono melempar umpatan kepadanya, terlebih saat Lantip dianggap bodoh menjalankan tugas, “Bedes, monyet, goblok anak kecu, gerombolan maling. Dasar anak gento…. “ Meski begitu, umpatan tersebut tak lantas membuatnya merasa rendah. Justru ia jadikan umpatan itu sebagai tamparan dan motivasi untuk kelak menjadi priyayi sejati.

Novel yang fantastis! Umar Kayam berhasil memupuk gaya bahasa nasional bersama bahasa lokal dengan sangat harmonis. Tak heran jika novel Para Priyayi ini menjadi salah satu novel favorit Agus Mulyadi, mantan pemimpin redaksi Mojok.co. Gaya bahasanya yang empuk dan mudah dipahami dapat dijadikan inspirasi anak muda dalam menulis saat ini.

Alur ceritanya selalu bikin penasaran, seolah membawa pembacanya pada kehidupan zaman dahulu. Zaman saat pendudukan Belanda dan Jepang di mana pemerintahan saat itu lazim disebut dengan Gupermen. Suasananya pun erat dengan suasana kekunoan, seperti penggambaran penulis pada kondisi rumah tangga Sastrodarsono. Kita bisa bayangkan rumah yang luas beserta ornamen Jawanya. Lalu kegiatan rutin, menyanyikan tembang-tembang, menyantap klepon, onde-onde atau nagasari.

Lalu juga perjodohan. Dalam novel ini digambarkan pada masa itu peran orang tua sangat vital dalam menentukan pernikahan sang anak. Sastrodarsono yang seorang anak petani dijodohkan dengan Ngaisah, anak pamannya dari kalangan priyayi. Barangkali cerita inilah yang menjadi salah satu inspirasi Muhadjir Effendy dengan fatwanya yang ‘Wow’.

Ungkapan “Orang kaya dianjurkan menikah dengan orang miskin” saat itu sangat berlaku dengan beberapa sarat dan ketentuan. Ya, semacam Achieved Status dalam istilah sosiologi. Sastrodarsono, begitupun Lantip, dapat sedikit menaikkan derajat keluarganya dengan kerja kerasnya. Kultur Jawa yang suka berbasa-basi menjadi nilai plus bagi mereka dalam membangun koneksi sosial. Puncaknya, mereka dapat berumah tangga dan membangun bibit keluarga priyayi.

Begitupun cerita tentang adat jawa yang kental dengan rasa rikuh, merasa tidak enak dan sopan santun yang dijunjung tinggi. Umar Kayam berhasil membungkusnya dengan cukup detail, seperti cerita Mbok Ngadiyem yang sangat menghormati keluarga Sastrodarsono. Ya, meski tersekat strata sosial, keluarga priyayi Sastrodarsono tak lantas memasang jarak pada Ngadiyem si penjual tempe.

Barangkali begitulah pesan yang coba disampaikan oleh penulis pada novel ini. Menjadi piyayi, menjadi orang terpandang, adalah bukan soal ingin dihormati. Namun bagaimana seseorang menggunakan wibawanya untuk berbuat baik dan berguna bagi orang lain. Untuk mengharmoniskan kehidupan, Memayu Hayuning Bawana.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.