Ilustrasi: Salsa
Oleh: Savira Alvionita

Namanya Gadis, hanya Gadis. Tidak kurang dan tidak lebih, kalian hanya bisa memanggilnya Gadis. Bukan Gaga atau Didis, tidak enak didengar, hanya Gadis saja cukup. Usianya 19 tahun. Gadis merupakan mahasiswi di salah satu perguruan tinggi negeri di Jawa Timur. Saat ini ia sudah menjalankan separuh waktu studinya.

Seperti namanya yang sederhana, Gadis juga merupakan perempuan yang cukup sederhana. Bisa dikatakan sangat biasa, dan gak neko-neko kalau kata orang jawa. Cita-cita Gadis juga sederhana, yaitu menjadi anak yang baik. Dia hanya ingin cepat lulus dan segera bekerja, menggantikan ayahnya sebagai tulang punggung keluarga.

Maklum, masih ada dua lagi adiknya yang harus dibiayai. Sedangkan, usia ayahnya sudah semakin tua, sakit-sakitan pula, tidak adil apabila adik-adiknya sampai tidak bisa mendapatkan pendidikan setinggi dan sebaik dirinya.

“Assalamualaikum, Buk,” salam Gadis kepada seseorang ditelepon.

“Waalaikumsalam, Nduk e.” Terdengar suara seseorang yang sangat tidak asing di telinganya. Suara yang  khas dan meneduhkan baginya.

“Tumben telepon, Nduk. Ada apa? uangmu habis, pho?” jawab suara itu lagi ditelepon.

 Sudah tiga bulan lebih Gadis tidak melepon rumah.

 Kesibukannya dikampus membuatnya belum punya cukup waktu untuk memberi kabar kepada orang rumah.

“Enggak, Bu’ e. Masih kok. Masih ada simpanan dari beasiswa sama part time kemaren.”

 Satu tahun belakangan, dirinya memang hanya hidup sehari-hari dari uang beasiswa dan kerja paruh waktunya.

Orangtuanya, sudah tidak bisa memberinya uang bulanan secara rutin.

 Kadang, Gadis hanya meminta uang kepada orangtuanya jika ingin membayar kos-an saja.

 “Cuma mau tanya kabar saja, Buk.”

“Gimana kabar Ayah juga? udah sembuh, pho?” tanya Gadis kepada ibunya.

“Belum, Nduk. Doakan yang terbaik ya, agar Ayah cepat sembuh.”

“Kamu juga kuliah seng tenanan disana, Nduk.

 Jangan mbolos, biar cepet lulus, dan bisa bantu orangtua,” jawab ibu Gadis di seberang sana dengan suara yang sendu.

Memang, sudah lebih dari setahun lalu, ayahnya  tidak lagi bekerja. Ayah Gadis divonis kanker paru-paru akibat kebiasaan merokok dan ngopi-nya di masa lalu. Wajar  saja, bila ia sangat membenci rokok dan kopi. Karena, dua hal itu sudah merusak hidup Ayahnya.

Dahulu ketika ayah Gadis belum sakit-sakitan, Gadis adalah orang pertama yang selalu mewanti-wantinya, tentang bahaya rokok dan ngopi yang terlalu berlebihan. Tapi, ayahnya selalu memiliki 1001 alasan untuk mendebat omongan Gadis. Alhasil, sekarang kena batunya. Sejak itu, ayahnya sakit-sakitan setahun yang lalu. Keadaan  ekonomi keluarga Gadis sangat terpuruk. Ibunya,  yang hanya ber-profesi sebagai ibu rumah tangga biasa,  tidak bisa diandalkan untuk mem- back-up keadaan.

Gadis bahkan harus menahan diri untuk tidak pulang ke kampung halamannya saat libur panjang. Sebab ongkosnya akan jadi 2 kali lipat lebih besar dibandingkan tidak pulang. Sebagai gantinnya, Gadis memanfaatkan waktu libur panjangnya itu untuk mencari uang tambahan. Berbagai pekerjaan paruh waktu sudah pernah ia coba.  Mulai dari penjaga toko pakaian, pelayan café, sampai admin instagram toko online, ia jalani demi menyambung hidupnya di perantauan.  

***

Bagaikan di tampar keras oleh orang yang kau sayang. Sakit, perih, bingung, tapi lebih dari itu, tak percaya. Iya, Gadis masih tak percaya, tentang kabar yang baru saja ia dengar. Gadis tahu cepat atau lambat hari ini pasti akan datang. Tapi, ia tak menyangka akan secepat ini.

 Jujur, Gadis sama sekali belum siap, Tuhan. Sungguh!

Pagi itu tiba-tiba ibu meneleponnya. Ia tahu pasti ada sesuatu yang penting yang akan dibicarakan. Sebab, meskipun ia tidak memberi kabar berbulan-bulan, tidak biasanya ibu meneleponnya duluan.

“Halo , Nduk.” Sapa  suara khas itu di seberang sana.

 “Ayah, Nduk. Sudah tenang disana.” Dengan perlahan tapi pasti, suara itu berusaha memberi kabar dengan tenangnya.  Meskipun sesekali Gadis bisa mendengar isak tangisnya di seeberang sana. 

Seng tabah yo, Nduk. Ini semua sudah diatur karo seng gawe urip.”

Gadis tak tahu harus menjawab apa. Bukan menangis, yang  ia lakukan hanya diam, membisu sambil menatap jam di dinding kosannya. 10 menit lagi kelas akan dimulai. Tapi, sepertinya ia akan melewatkannya saja kali ini. Melanggar janjinya kepada ibunya sebulan yang lalu.

***

Sudah sepekan, sejak Gadis endengar kabar meninggalnya ayahnya. Tak usah  ia ungkapkan lagi rasa sedih yang ia rasakan. Bahkan sudah sepekan dirinya tidak berangkat kuliah. Jika, kau menganggap ia terlalu terhanyut dalam kesedihan sampai tidak mau berangkat kuliah, kau salah. Sedihnya bahkan hanya sehari.

Ada hal lain yang jauh lebih berat. Selain menangisi perginya seseorang yang memang sudah digariskan waktunya oleh Tuhan, yang saat ini Gadis pikiirkan adalah tanggung jawab yang tadinya berada pada ayahnya sekarang bergeser kepadanya. Ia harus bagaimana? Ia belum siap. Kemarin ibunya bilang, bahwa ia sudah tidak sanggup untuk membiayai Gadis kuliah. Tapi itu bukan masalah, sebab  Gadis  masih bisa melanjutkan dengan beasiswa dan uang paruh waktu yang ia miliki.

Yang menjadi masalah adalah ibunya saat ini juga sudah tidak sanggup untuk membiayai hidupnya sendiri bersama adik-adik. Uang hasil jual tanah yang tempo hari digunakan untuk biaya rumah sakit sang ayah dan biaya hidup sehari-hari kini semakin menipis. Tinggal menghitung hari saja sampai semuanya benar-benar habis.

Dan, ada satu hal lagi yang sangat menggagu Gadis. Ayahnya meninggalkan hutang puluhan juta kepada Gadis dan keluarganya. Karena, kebangkrutan bisnis. Dan parahnya, Gadis baru tahu akan hal itu. Selama ini, ibu menyembunyikan fakta itu kepadanya. Dengan alasan, tidak ingin membuatnya khawatir. Faktanya, saat ini ia dua kali lipat lebih khawatir karena baru tahu akan hal itu.

Dan, boom beberapa bulan lagi hutang itu jatuh tempo. Apabila tidak segera dilunasi, bank terpaksa akan menyita rumah mereka.

Jujur, saat ini Gadis sangat gelisah. Gadis merasa kacau. Sangat sulit meluruskan lagi benang-benang yang sudah terlanjur rumit itu.

Kadang ia berfikir, bahwa Tuhan itu tak adil. Kata-Nya, Ia akan selalu ada di saat hambanya sedang kesusahan? Kata-Nya, Ia tak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan hambanya? Mana buktinya Tuhan? Mana? Tuhan tidak tidur kan? Sejenak, Gadis pun mulai ragu tentang keberadaan Tuhan itu sendiri.

***     

Beberapa hari, setelah Gadis mempertanyakan perihal ketidak-adilan Tuhan terhadap hidupnya. Seseorang datang. Seseorang yang sangat tidak terduga datang. Bagaikan malaikat yang secara khusus diutus langsung oleh-Nya untuk turun dari langit ketujuh dan menjawab semua pertanyaan kasarnya. Bahwa Tuhan itu ada, bahwa Tuhan itu tidak tidur, bahwa Tuhan itu tidak akan memberikan ujian  di luar batas kemampuan hambanya.

Setidaknya, begitulah pikirnya ketika pertama kali bertemu dengan sosok itu.    

Namanya pak Yusuf. Namun, ia lebih sering memanggilnya Mas Yusuf. Begitulah, beliau menyuruh Gadis untuk memanggilnya. Seorang dosen muda, pindahan dari PTN lain di luar Kota Malang. Awalnya ia  tidak mengenalnya, sama sekali tidak mengenalnya. Beliau bahkan tidak mengajar di Fakultas Gadis. Gadis mengenalnya karena dikenalkan oleh dosen jurusannya untuk membantu proyek penelitian dosen muda itu. Gadis langsung menyetujuinya, karena dosennya berkata akan menjadikannya sebagai asisten dosen dan mempercepat proses kelulusannya. Apabila  semuanya berjalan dengan baik.

Setelah mengenal dosen itu, hubungan mereka semakin dekat. Bahkan, bisa disebut hubungan mereka lebih dari sekedar hubungan formal antara dosen dan mahasiswa biasa.  Sosoknya yang kharismatik, easy going dan penyayang jujur membuat Gadis sedikit jatuh hati. Gadia bahkan sangat nyaman berada di dekatnya. Tidak seperti sedang berinteraksi dengan seorang dosen. Tidak ada gap sama sekali. Hal itu, membuat Gadis tidak bisa mengaggpnya hanya sekedar dosen. Ia bahkan, dengan mudahnya menceritakan semua permasalahan keluarga yang sedang memberatkannya saat itu.

Cukup membuat Gadis dilanda keterkejutan ketika Mas Yusuf berjanji akan membantunya menyelesaikan semua permasalahannya tersebut. Dia bahkan, berjanji untuk melunasi seluruh hutang ayahnya yang akan jatuh tempo beberapa bulan lagi. Gadis benar-benar menggapnya sebagai malaikat.  Pada saat itu. Sampai akhirnya. Sesuatu terjadi.

Malaikat itu tiba-tiba berubah menjadi sesosok iblis yang menyeramkan. Menghancurkan semua mimpi dan bahkan masa depannya. Mimpinya untuk segera lulus. Mimpinya untuk menjadi anak yang baik. Mimpinya untuk merubah nasib orang tuanya. Dihancurkan begitu saja oleh sosok itu dan sifat naïf Gadis saat itu.

***     

Gadis hanya bisa terdiam. Terbujur kaku sendirian. Di ruangan yang semakin lama semakin dingin itu. Sambil menatap langit-langit putih dan lampu operasi yang kini berada tepat diatasnya.

Di sebelah kanannya terdengar suara monitor yang memperlihatkan bunyi detak jantungnya.Di sebelah kirinya sudah ada doker yang saat ini sedang membiusnya untuk melakukan proses anestesi. Lengkap dengan peralatan operasinya di meja.Perlahan tapi pasti, mata Gadis mulai terpejam. Diiringi dengan semua ingatan akan penyesalannya beberapa bulan lalu. 

Satu hal, yang  selalu Gadis ingat saat berada dalam keadaan setengah mati itu. Keluarganya. Tiba-tiba di alam bawah sadarnya, ada sesosok cahaya yang menghampirinya. Cahaya itu semakin mendekat. Cahaya itu membisikkan sesuatu di telinga Gadis, yang membuat Gadis meneteskan air mata.

“Bukan salahmu, Nduk. Bukan salahmu.”

“Ayah yang salah.”

Gadis menangis. Bukan. Bukan karena perkataannya saja. Ia menangis karena ia mendengar suara yang sangat ia kenal. Ayahnya. Gadis kemudian tersadar dari tidurnya. Operasinya berjalan dengan lancar. Gadis berjanji akan bangkit dari keterpurukan dan memulai kembali hidupnya dari nol.

Gadis juga berjanji tidak akan tinggal diam atas kasus perkosaan yang di alaminya beberapa bulan lalu. Dia sudah membulatkan tekadnya untuk menghukum keparat itu. Dia tahu bahwa dia tidak sendirian. Ada puluhan  korban lainnya yang bernasib sama seperti dia.

Dia tidak menyangka, sosok pangeran berkuda putih yang dikiranya itu, tidak ubahnya hanyalah seorang penjahat seksual yang sudah merampas masa depan puluhan mahasiwi di kampus lamanya. Ia bahkan sudah 10 kali di mutasi karna ketahuan melakukan kasus yang sama. Dan modusnya juga rata-rata sama, dia mengguanakan metode grooming untuk mencari celah dan mendekati para korbannya itu. Tak sedikit juga korbannya yang hamil, bahkan sampai menggugurkan kandungannya seperti Gadis.   

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.