Ilustrasi: CreativeFuture

Penulis: Faisal Amrullah

Pembajakan merupakan isu yang sejak dulu sulit dihentikan dan menjadi permasalahan bagi industri media di seluruh dunia. Seiring berkembangnya internet, pembajakan mulai marak terjadi, mulai dari perangkat lunak, film, animasi, musik, hingga buku.

Pada tahun 2018, Microsoft melakukan studi “Test Purchase Sweep”, yaitu suatu percobaan membeli komputer di kawasan asia. Hasilnya, di Indonesia saja 9 dari 10 komputer yang dijual telah terisi software bajakan.

Sebagai salah satu negara berkembang, Indonesia juga menjadi negara dengan jumlah pembajakan tertinggi. Menurut pengamatan penulis, mayoritas pembajakan di Indonesia dilakukan oleh sekelompok orang maupun individu.

Mereka membuat web berisi konten yang bisa didapat oleh masyarakat secara gratis. Dengan begitu, para pembajak masih bisa mendapatkan keuntungan dari iklan dan web yang diklik oleh masyarakat yang mengunduh konten tersebut.

Banyak website-website yang menyediakan film, animasi, perangkat lunak, dan musik secara gratis. Meskipun dari pemerintah sendiri melalui Kominfo sudah melakukan pemblokiran terhadap website tersebut. Namun mereka masih bisa melakukan backup dan hosting konten bajakan mereka ke website lain.

Hal tersebut tentu saja membuat perusahaan mengalami kerugian yang bisa dibilang tidak sedikit. Apalagi perangkat lunak atau film yang dibajak, dibuat oleh perusahaan yang bisa dibilang masih kecil. Selain perusahaan, pembajakan juga akan merugikan negara.

Sampai saat ini, berdasarkan data dari Bekraf atau Badan Ekonomi Kreatif pada tahun 2017, kerugian yang ditanggung negara bisa mencapai sebesar Rp100 Triliun per tahunnya. Jika dijabarkan secara rinci berdasarkan subsektor, yakni film dan musik.

Pembajakan dari subsektor film dengan sampel dari tahun 2017 di beberapa kota, yakni Kota Jakarta, Medan, Bogor, dan Deli Serdang, diperkirakan berpotensi menyebabkankerugian lebih dari Rp1,4 Triliun. Perkiraan kerugian tersebut berasal dari banyaknya DVD bajakan dan juga pengunduhan konten film digital secara ilegal.

Selain dari subsektor film masih ada sub sektor lain, yaitu musik. Data dari Asosiasi Industri Rekaman Indonesia potensi kerugian yang dialami pada tahin 2017 diperkirakan mencapai Rp8,4 Triliun.

Menurut Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan (MIAP), sub sektor aplikasi dan perangkat lunak juga mengalami hal serupa, bahkan lebih parah. Mereka memprediksi potensi kerugian pada aplikasi mencapai lebih dari Rp12 Triliun pada tahun 2016.

Dari data di atas sudah terlihat dengan jelas bahwa Pembajakan selain bisa merugikan perusahaan atau orang yang menerbitkan kontennya, juga bisa merugikan negara bahkan jumlahnya sangat banyak.

Pembajakan juga secara tidak langsung membuat ekonomi turun. Banyaknya perangkat lunak, musik, dan film yang dibajak, maka lapangan pekerjaan bagi mereka yang akan mencari kerja di sektor tersebut tertutup.

Contohnya dimulai dari perusahaan-perusahaan IT dunia yang akan berpikir dua kali untuk berinvestasi di Indonesia. Jika perusahaan IT tersebut berinvestasi maka karya software mereka akan dibajak dan disebarkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Apabila yang dibajak adalah Software buatan lokal maka tentu saja perusaahan pembuat software itu akan gulung tikar.

Semua itu bersumber dari banyaknya orang yang masih enggan menggunakan software atau aplikasi original karena kurangnya kesadaran keamanan serta hak cipta di masyarakat.

Selain software, industri film juga mengalami hal serupa. Jika suatu film dibajak, maka studio dan produsernya akan mengalami kerugian yang besar karena tingginya biaya produksi suatu film.

Pada tahun 2014 saja, data yang didapat Excipio, salah satu perusahaan perangkum data pembajakan film, film yang paling banyak dibajak adalah The Wolf Of The Street. Film tersebut tercatat telah diunduh sebanyak 30 juta kali dari situs Torrent.

Selain film The Wolf Of The Street, ada film Frozen yang dibajak 29,9 juta kali, RoboCop dibajak 29,8 juta kali, dan film Gravity dibajak sebanyak 29,3 juta kali.

Meskipun yang dibajak merupakan film luar negeri dan berasal dari studio yang bisa dibilang cukup besar namun mereka juga menderita kerugian dari banyaknya film yang dibajak karena seharusnya itu menjadi penghasilan mereka.

Mungkin bagi studio besar pembajakan tersebut merugikan mereka namun keuntungan yang didapat jauh lebih besar dari kerugiannya. Lainhalnya dengan studio yang terbilang kecil.

Jika studio kecil membuat film dengan biaya besar namun saat peluncuran film sepi penonton dan malah banyak yang membajak, maka dipastikan studio tersebut akan gulung tikar.

Meskipun akibat yang ditimbulkan oleh pembajakan sangat merugikan, tetapi  di Indonesia Penegakan hukum terhadap para pelanggarnya masih dirasa sangat jauh dari kata puas

Dalam UU No. 28 tahun 2014, dikatakan bahwa  hak cipta merupakan salah satu bagian dari kekayaan intelektual yang memiliki ruang lingkup paling luas karena mencakup ilmu pengetahuan, seni, dan sastra yang didalamya termasuk program komputer.

Dengan adanya hukum tersebut, maka orang-orang yang melakukan pembajakan dapat dikenakan hukum penjara selama 10 tahun. Bahkan, untuk mereka yang mengunduh film secara ilegal dapat diancam dengan hukuman maksimal 4 tahun penjara.

Sudah tahu kan resiko dan menggunakan barang bajakan dan membajak karya orang? Masih mau ngebajak lagi? Daripada cari konten bajakan mending cari yang legal aja. Toh masih banyak platform yang menyediakan konten digital asli yang murah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.