Judul buku    : Gadis Minimarket (Convenience Store Woman)
Penulis Asli   : Sayaka Murata
Alih bahasa   : Ninuk Sulistyawati
Penerbit         : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2020
Isi                   : 159 halaman

Penulis: Ranti Fadillah

Keiko adalah seorang pegawai paruh waktu minimarket yang telah bekerja bahkan sejak pertama kali tempat itu berdiri hingga 18 tahun kemudian. Seorang perempuan dewasa yang hari-hari kerjanya diisi oleh ucapan Irrashaimase! (Selamat datang!) kepada pelanggan, merapi-rapikan posisi barang di rak, menata letak makanan dan minuman sesuai kategorinya, dan lain-lain.

Jika orang lain akan memanfaatkan hari libur mereka untuk bersenang-senang dan terbebas dari beban pekerjaan, pikiran Keiko justru selalu tertuju pada minimarket. Minuman-minuman apa yang sebaiknya mereka perbanyak di toko karena musim dingin akan segera tiba, apa yang harus mereka lakukan jika target penjualan bento minggu ini tidak tercapai, serta onigiri jenis apa yang harus dibuat ketika ia kembali masuk kerja senin nanti.

Apakah Keiko bekerja sebegitu berdedikasinya karena uang? Tentu saja iya. Ia melakukan pekerjaan itu awalnya untuk menambah uang saku saat kuliah. Namun, orientasinya untuk mengais rezeki dari pekerjaannya tersebut lambat laun berubah. Di minimarket, ia beranjak meninggalkan kepribadiannya yang aneh saat kecil dan sering menutup diri. Dengan kata lain, minimarket telah menjadi tempat bagi Keiko untuk belajar menjadi manusia ‘normal’ layaknya manusia pada umumnya.

Di umurnya yang telah memasuki usia pertengahan 30, pegawai paruh waktu minimarket adalah satu-satunya pekerjaan yang ia tekuni selama bertahun-tahun. Hal ini membawa kecemasan tersendiri bagi orang tua, adik, hingga teman-temannya. Lebih-lebih, sejarah hubungan asmaranya pun sangat minim atau bisa dibilang tidak ada.

Kecemasan orang-orang sekitarnya bukan tanpa alasan. Sikap Keiko yang teramat santai atas hidupnya lah yang membuat mereka heran. Adik dan teman-temannya yang lain sudah menempati posisi jabatan dengan gaji menjanjikan, menautkan diri dalam status pernikahan, bahkan telah beralih tanggungjawab menjadi orang tua. Sehingga mereka seakan tak ingin Keiko tertinggal, meski Keiko sendiri tidak pernah merasa demikian.

Suatu waktu, minimarket kedatangan pegawai baru. Seorang pegawai laki-laki bernama Shiraha yang perawakan dan perilakunya diam-diam membuat Keiko heran. Shiraha adalah bentuk anomali dari Keiko. Mereka serupa tapi tak sama. Dua orang dewasa yang masih sendiri, tetapi cara mereka menyikapi permasalahan tersebut sungguh bertolak belakang. Jika Keiko tidak terlalu menggubris ekspektasi-ekspektasi yang dibebankan kepadanya, Shiraha justru merasa marah. Sebagai laki-laki, Shiraha muak dengan orang-orang yang menuntutnya untuk mencapai standar ‘normal’, seperti “Apa yang seharusnya ia telah capai, lalui dan miliki?”.

Shiraha melampiaskan semuanya kepada Keiko. Perempuan yang ia anggap aneh karena bersikap biasa-biasa saja padahal mereka adalah manusia-manusia gagal. Sebab di umur mereka yang sekarang, tidak ada pencapaian berarti yang bisa dibanggakan. Bahkan menurutnya, Keiko harusnya lebih frustasi karena perempuan dianggap memiliki masa tenggat sedangkan laki-laki tidak.

Keiko mulai goyah, ia terpengaruh dengan asumsi-asumsi yang disampaikan Shiraha. Akibatnya, Keiko mengambil keputusan yang ia pikir akan menguntungkan mereka berdua. Benar saja. Reaksi orang-orang di sekitarnya persis seperti yang ia duga. Keiko semakin yakin, alih-alih merasa senang karena telah dianggap ‘normal’, Keiko malah merasa ia tidak ditakdirkan untuk menjadi manusia normal sebagaimana yang selama ini menjadi standar mereka.

Salahkah jika Keiko, perempuan tiga puluh enam tahun tidak pernah menjalin hubungan asmara? Salahkan jika pegawai paruh waktu minimarket adalah pekerjaan yang ia tekuni sekaligus ia sukai? Salahkah jika ia berbeda karena menikmati hidup yang dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang? Apakah Keiko benar harus disembuhkan hanya karena ia menjalani hidup yang dianggap ‘abnormal’?”

Lewat buku ini, penulis mencoba memberikan sudut pandangnya tentang pekerjaan yang mungkin bukanlah posisi yang mentereng. Ketika beberapa orang menganggap pegawai minimarket hanyalah pekerjaan sampingan untuk menambah uang saku atau selingan sebelum mendapat panggilan kerja, lewat tokoh Keiko, kita diberikan perspektif yang berbeda. Orang-orang tertentu, seperti Keiko, belajar menjadi orang normal versi dirinya sendiri melalui tempat kerjanya.

Sayaka Murata memperlihatkan dengan jelas bagaimana arus kehidupan modern yang kemudian mempengaruhi standar masyarakat tentang konsep pencapaian yang ideal. Jika kita tidak mengikuti apa yang dijalani oleh kebanyakan orang, akan terlihat sangat kontras bahwa kita ‘berbeda’. Tokoh Keiko yang dibuat olehnya seakan merepresentasi orang-orang yang memiliki jalan yang berbeda tersebut.

Novel ini termasuk dalam kategori bacaan yang ringan. Terutama karena berisi penggambaran kehidupan Keiko sehari-hari dan aktivitas minimarket yang ditulis dengan sangat sederhana tapi juga memikat. Satu-satunya kekurangan yang amat saya rasakan dari buku ini adalah tidak adanya penjelasan mengenai kepribadi ekstrem yang Keiko miliki semasa kecilnya.

Buku ini adalah novel pertama Sayaka Murata yang diterjemahkan ke dalam bahasa inggris. Kisah di buku ini terilhami dari pengalamannya yang pernah bekerja paruh waktu di minimarket, sehingga tidak heran jika penggambaran situasi, tempat, dan rinicain pekerjaan dalam bukunya ditulis dengan begitu terperinci. Meski berlatar tempat di Jepang, hal itu tidak mengurangi nuansa minimarket yang akan kita rasakan ketika membaca bukunya.

Mungkin kita sudah familiar dengan suara sapaan pegawai yang menyapa ketika kita memasuki minimarket, bau roti-roti atau makanan cepat saji yang menguar di udara, sampai kata-kata khas yang diucapkan oleh pegawai kasir minimarket tiap kali kita membayar belanjaan.  Tiga hal umum yang merupakan atmosfer yang biasanya kita rasakan sebagai pelanggan ketika datang ke gerai minimarket. Namun, dalam buku ini, kita akan diajak untuk menyelami bagaimana sisi sebagai pekerja minimarket. Semua gambaran itu sangat terasa nyata terutama karena buku ini ditulis menggunakan sudut padang orang pertama, yaitu dari sisi sang tokoh utama. Keiko Furuhara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.