Sumber: unsplash.com/@davidmatos

Seringkali beberapa stereotip umum tentang perbedaan antara laki-laki dan perempuan beredar di masyarakat. Seperti, laki-laki adalah kaum yang lebih mengedepankan logika daripada perempuan, sebab perempuan dianggap lebih sering menggunakan perasaan dalam tindakan mereka. Perempuan juga dianggap lebih emosional daripada laki-laki. Dampaknya, sangat tabu bagi laki-laki untuk menunjukkan sisi emosional mereka karena akan dianggap seperti perempuan.

Contoh di atas adalah sedikit dari begitu banyak stereotip yang sering kita dengar. Tetapi, apakah stereotip mereka tersebut dapat dibuktikan berdasarkan perbedaan otak antara laki-laki dan perempuan itu sendiri? Dan apakah yang sebenarnya mempengaruhi karakter mereka?

Pembahasan terkait otak manusia sebenarnya merupakan topik yang cukup kompleks. Hal ini dikarenakan adanya pseudoscience (keyakinan yang diklaim sebagai ilmiah tetapi pembuktiannya tidak mengikuti metode ilmiah) yang beredar dan kemudian dipercaya oleh masyarakat. Sehingga, untuk mendapatkan informasi yang valid, perlu dilakukan rujukan pada penelitian oleh saintis yang sebenarnya.

Namun, secara garis besar perbedaan perilaku manusia didasari oleh dua faktor. Pertama, secara biologis, manusia terbagi menjadi dua jenis yaitu laki-laki dan perempuan. Perbedaan ini disebut juga sebagai jenis kelamin atau biological sex yang mempengaruhi perbedaan pada alat kelamin, hormon reproduksi, anatomi-fisiologi tubuh, dsb.

Kedua, manusia terbagi atas penggolongan gender-nya. Spesifikasi gender ini terbentuk seiring dengan pertumbuhan individu oleh lingkungan sekitarnya, yaitu laki-laki (maskulin) dan perempuan (feminim). Dari lingkungan, mereka kemudian mengamati bahkan didoktrin secara tidak langsung tentang bagaimana mereka harus tampil dan bersikap.

Gender juga dikatakan merupakan konsep tentang peran sosial laki-laki dan perempuan yang hadir akibat adanya norma-norma di masyarakat. Contoh klasifikasi gender misalnya, laki-laki dianggap harus memiliki sikap tegas, berani dan tidak mudah menangis. Sementara perempuan harus memiliki sikap lembut, pengertian, dan sabar.

Bagi kebanyakan orang, jenis kelamin dan gender adalah satu kesatuan. Atau dapat diartikan bahwa, mereka meyakini gender terbentuk dari jenis kelamin manusia itu sendiri. Namun, tidak menutup kemungkinan perilaku manusia dengan jenis kelamin tertentu tidak mengikuti konsep gendernya.

Apakah ukuran otak laki-laki dan perempuan menjadi faktor penentu terhadap kecerdasan?

Beberapa studi mengatakan bahwa otak laki-laki umumnya memiliki volume 10% lebih besar daripada perempuan. Meski demikian, hal itu sejatinya tidak mempengaruhi tingkat intelegensi. Selain ukuran, otak laki-laki dan perempuan memiliki komposisi yang berbeda. Misalnya terkait dengan white and gray matter (materi putih dan abu-abu) dalam otak.

Gray matter berfungsi untuk memproses informasi. Sedangkan white matter bertugas untuk mengkomunikasikan apa yang diterima dan dikirim oleh gray matter, serta menjadi penerjemah antara gray matter dengan bagian-bagian tubuh yang lain.

Otak laki-laki cenderung memiliki porsi white matter lebih banyak daripada perempuan. Sebaliknya, perempuan memiliki lebih banyak gray matter. Gray matter sendiri terletak atau merupakan lapisan terluar otak (setelah kulit), sehingga proporsi ketebalannya lebih besar di otak perempuan.

Hipokampus, bagian otak yang mencangkup pembentukan memori, umumnya juga lebih besar pada laki-laki daripada perempuan. Serta amigdala, bagian otak yang berperan terhadap ingatan dan emosi.

Namun demikian, meskipun secara umum volume otak laki-laki lebih besar daripada perempuan dan terdapat beberapa komponen otak yang dipengaruhi oleh ukuran tersebut, tetap tidak bisa dikatakan bahwa otak manusia dapat dikategorikan berdasarkan jenis kelaminnya. Karena, para peneliti menemukan otak para laki-laki pun dapat beragam ukurannya, begitu pula dengan perempuan. Maka, cara kerja otak mereka pun tidak bisa lantas dikotak-kotakan sebatas jenis kelamin mereka saja.

Meskipun terdapat perbedaan antara otak laki-laki dan perempuan tersebut, sebenarnya keduanya tetap sama. Dalam artian, mereka sama-sama menerima informasi di dalam otak, namun cara mereka bekerja atau memproses materi tersebut berbeda. Sehingga perbedaan fisik dan komposisi yang dimiliki oleh otak laki-laki dan perempuan hampir tidak berpengaruh signifikan terhadap kecerdasan mereka, kecuali mereka mengusahakannya.

Benarkah perempuan lebih emosional daripada laki-laki?

Presepsi ini besar kemungkinan timbul akibat adanya perbedaan biologis secara hormon antara laki-laki dan perempuan. Faktor terbesanya adalah perempuan yang secara khusus dan rutin mengalami situasi yang menimbulkan rasa tidak nyaman secara fisik dan psikologi, yaitu siklus bulanan yang biasa disebut dengan menstruasi.

Mentruasi dimulai saat perempuan pubertas dan menandakan kemampuan seorang wanita untuk mengandung anak. Satu siklus periode menstruasi memiliki tiga masa, yaitu pramenstruasi, menstruasi, dan pasca menstruasi.

Untuk gejala-gejala sindrom pramenstruasi saja, perempuan harus mengalami permasalahan seperti sakit kepala, kelelehan, sakit kepala, kram, kecemasan, perubahan suasana hati, sulit berkonsentrasi, dll.

Sayangnya, akibat perbedaan biologis yang cukup krusial antara laki-laki dan perempuan ini dilebih-lebihkan sebagai karakter perempuan secara general. Padahal masa menstruasi yang berdampak pada sisi emosional perempuan ini hanya berlangsung secara sementara.

Akibat presepsi yang ditujukan kepada perempuan atas kondisi biologis yang mereka alami ini, tidak sedikit perempuan yang akhirnya mempercayai kepribadian mereka didasarkan pada masa menstruasi tersebut. Seperti, perempuan adalah individu yang emosional, sensitif, bahkan rapuh. Beberapa perempuan menganggap keluhan yang timbul akibat masa biologis mereka sebagai hal yang negatif, tetapi ada juga yang menganggap positif.

Goleman (2009) menyatakan, individu yang mampu menanggapi secara positif serta mampu merespons secara tepat dan tidak berlebihan terhadap situasi yang sedang dialaminya dikatakan memiliki kecerdasan emosional yang tinggi.

Ia juga menjelaskan bahwa kaum perempuan yang cerdas secara emosional cenderung bersikap tegas, mengungkapkan perasaan dengan tepat, mampu memandang dirinya secara lebih positif, dan mampu untuk menyesuaikan diri dengan beban stress.

Pada intinya, jika dilihat secara fisik, kemungkinan besar tidak akan ditemukan perbedaan spesifik manakah otak laki-laki atau perempuan.

Perilaku dan kepribadian manusia yang beragam pun sebenarnya didasari oleh otak manusia yang juga bervariasi komponenya. Otak manusia layaknya sebuah plastisin. Artinya cara kerja otak dapat dibentuk oleh pengalaman dan pelatihan sehingga bersifat dinamis.

Jadi tidak realistis untuk menganggap setiap perbedaan otak manusia adalah bawaan dari lahir dan stagnan sesuai jenis kelaminnya. Secara fundamental, manusia hidup dalam konsep gender yang membudaya. Sehingga sebenarnya tidak heran jika lahir stereotip-steoreotip tentang karakter manusia di masyarakat. Yang perlu digaris bawahi adalah ada banyak variable yang menentukan kepribadian antara laki-laki dan perempuan. Mulai dari gen, hormon, pola pengasuhan, lingkungan pergaulan, hingga pendidikan.


Penulis: Ranti Fadillah
Editor: Abdi Rafi Akmal

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.