Ilustrasi: Salsa

Penulis: Muhammad Dzulkifly
Profesi: Mahasiswa
Institusi: Universitas Sampoerna

Idul Adha pada tahun ini terjadi di saat pandemi Covid-19 masih belum menunjukkan angka penurunan, bahkan prospeknya terus meningkat. Padahal, di Indonesia, Idul Adha bukan sekedar ritus keislaman tetapi juga sarat dengan tradisi yang “meminta” kerumunan massal. Bukan saja pada saat pelaksanaan peribadatannya tetapi juga terutama pada saat penyembelihan hewan kurban.

Nyatanya, penyebaran virus tidak juga menunjukkan angka yang menurun. Itu semua ditunjukkan oleh angka penderita positif corona yang semakin meningkat. Kini penderita positif infeksi virus corona telah mencapai lebih dari 50.000 jiwa. Jumlah orang yang terpapar corona pun berpotensi kian bertambah seiring dengan kegiatan-kegiatan yang mulai kembali di lakukan oleh masyarakat. Interaksi tanpa prosedur yang tepat, seperti tidak menggunakan masker atau atau protokol kesehatan lainnya, dapat mempercepat laju pertumbuhan corona.

Angka 100.000 jiwa juga sangat bisa menjadi mungkin apalagi di beberapa waktu kedepan kita akan menghadapi beberapa hari besar. Mungkin, dampak acara sedemikian tidak terlalu nampak pada Idul Fitri kemarin dimana pemerintah mencanangkan prosedur PSBB. Sehingga, banyak masyarakat agaknya melakukan kegiatan tersebut di rumah.

Di Idul Adha nanti, di mana PSBB sudah tidak dilaksanakan lagi, mungkin akan menjadi “puncak yang lain” dari perkembangan virus Corona. Bagaimana bisa demikian? Apakah hewan kurban bisa menjadi carrier virus corona? Bagaimana potensi hari raya “pengganti Idul Fitri” ini dalam penyebaran virus corona?

Pertengahan dan akhir bulan mei 2020 harusnya menjadi puncak mudik bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Namun hal tersebut terhalang oleh protokol yang dicanangkan oleh pemerintah. Tradisi tersebut agaknya akan terjadi di akhir bulan juli ini. Dikarenakan terdapat hari raya besar lain yang bagi umat mayoritas di Indonesia menjadi ajang untuk pengganti berkumpul dengan keluarga. Bagi orang madura contohnya, Idul Adha merupakan “hari raya besar” yang perayaannya jauh lebih meriah dari pada Idul Fitri. Mobilitas yang kemungkinan terjadi ini menjadi salah satu hal yang mungkin menjadi puncak perkembangan Covid-19. Juga tidak menutup kemungkinan penyebaran zona merah di berbagai wilayah di Indonesia semakin berkembang.

Selain tertular dari manusia itu sendiri, virus Corona juga ditakutkan tersalur lewat hewan pada saat Idul Adha. Belum ada penelitian apakah hewan yang hidup bisa menularkan penyakit corona. Namun, daging hewan yang terpapar virus corona sangat berpotensi untuk menularkan virus corona jika dimakan. Tubuh hewan juga berpotensi mengangkut virus. Apalagi hewan kurban yang tubuhnya di penuhi bulu. Selain itu, pada pendistribusian hewan kurban juga pasti banyak terjadi perpindahan antar pihak. Hal tersebut di khawatirkan semakin mempercepat penyebaran virus Corona.

Jika kita tetap mempertahankan tradisi Idul Adha sebagaimana pada tahun-tahun sebelumnya, bisa jadi perayaan kegembiraan bisa menjadi cluster baru dalam penyebaran virus corona. Karenanya, agamawan dan pemerintah tidak bisa membiarkan itu terjadi. Pemerintah sudah mengeluarkan Surat Edaran Nomor 0008/SE/PK.320/F/06/2020 tentang protokol pelaksanaan hewan kurban. Pemerintah juga merekomendasikan agar penyembelihan dilaksanakan di RPH-R (Rumah Potong Hewan Ruminansia). Perlu digaris bawahi bahwa pemerintah hanya merekomendasikan.

MUI juga mengeluarkan fatwa atas proses pelaksanaan Idul Kurban ini. Pelaksanaan Idul Adha mengikuti fatwa MUI Nomor 14 Tahun 2020, Nomor 28 Tahun 2020, dan Nomor 31 Tahun 2020. Namun, ada beberapa hal yang mungkin sekiranya bisa membantu dalam membendung laju pertumbuhan corona saat Idul Adha, di antaranya:

Pertama, pembagian skala RT. Pembagian daging kurban secara lingkup RT tersebut merupakan solusi awal dalam pembuka penyelesaian masalah. Masyarakat akan dibagikan daging kurban lingkup RT. Presentasi penularan covid akan berkurang dibandingkan pembagian dengan lingkup RW. Di lingkup RT sendiri memiliki sekitar 20-30 kepala keluarga sehingga tidak sampai menjaring skala yang lebih besar.

Kedua, panitia menggunakan protokol kesehatan. Panitia Idul adha dapat melengkapi diri dengan protokol kesehatan berupa face shield, masker dan sarung tangan sehingga menimalisir adanya penularan Covid-19. Entah itu dari hewan kurban itu sendiri ataupun masyarakat yang lain. Karena dapat dipastikan adanya mobilitas tinggi saat pembagian daging adalah panitia kurban itu sendiri.

Ketiga, edukasi. Memberikan edukasi tentang Covid-19. Hewan yang terpapar virus corona dapat menularkan virus, baik saat mati ataupun hidup. Meskipun potensi terbesar penularan virus adalah dari manusia ke manusia lain. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa hewan juga memiliki kemungkinan untuk mengangkut virus. Hewan berbulu sangat berpotensi  untuk mengangkut virus. Oleh karenanya, perlu ada protokol dan sosialisasi agar masyarakat yang tidak termasuk panitia kurban ikut membantu tanpa protokol yang tepat. Masyarakat juga perlu diberi arahan cara disinfektansi virus pada daging yang di berikan yaitu dengan cara memastikan bahwa masakan sudah pasti matang ataupun dengan cara penyinaran matahari.

Keempat, physical distancing. Meskipun PSBB sudah tidak dicanangkan, pembatasan fisik dirasa masih perlu saat hari besar yang identik dengan berkumpulnya orang dalam jumlah besar. Oleh karenanya, penerapan jarak seperti maksimal 1.5 meter seperti saat pelaksanaan sholat jum’at sangat diperlukan. Begitu juga protokol yang terbukti efektif lainnya.

Kelima, hewan yang di-kurban adalah hewan yang sehat. Dinas Kesehatan Hewan akan melakukan pengawasan terhadap daging kurban yang akan di sembelih. Perlu diketahui bahwa hewan yang sudah terverifikasi kesehatannya oleh Dinas Kesehatan akan mendapat Sertifikat Veteriner, Pemeriksaan ante-mortem dan pemeriksaan post-mortem. Dengan ini, diharap masyarakat tetap mengikuti protokol yang nanti diminta oleh Dinas Kesehatan Hewan.

Semua masalah pada dasarnya bisa kita hadapi jika kita semua sadar dan melawannya bersama sama. Kesadaran dari diri kita masing – masing bisa menjadi awal kemenangan kita menghadapi pandemi Covid-19. #StaySafe.

Tentang Penulis:
Perkenalkan nama saya Muhammad Dzulkifly, akrab di panggil Kiple. Saya berdomisili di kota Malang dan mengenyam pendidikan di JakSel, tepat nya di Sampoerna University. Walaupun tidak sejalan dengan jurusan yang saya keluti, teknik mesin, namun membaca dan menulis adalah hobi saya, penulis favorit saya adalah Andrea Hirata. Selain itu saya juga senang bertukar fikiran dan pendapat dengan teman teman saya. Ig: @dzulkfly ; Twitter: @kipleeeeeee

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.