Suasana kelas di FISIP. Foto: Hamim.

MALANG-KAV.10 Wakil Rektor Bidang Akademik UB Aulanni’am mengatakan awal kuliah semester depan (gasal) dimulai pada tanggal 1 September 2020. Tanggal ini, jelasnya, menyesuaikan dengan kalender akademik PTN dan tidak mengalami perubahan atau pergeseran jadwal. Untuk menyambut masa akademik mendatang, UB juga sedang menyiapkan tiga skema perkuliahan semester gasal sambil menyesuaikan dengan situasi kondisi di nasional.

Menurut Aulanni’am, skema proses perkuliahan semester depan masih memiliki sejumlah kemungkinan. Skema pertama yaitu melakukan perkuliahan reguler (normal) jika pandemi mereda dengan tetap menerapkan berbagai protokol kesehatan.

Skema kedua adalah pembelajaran daring sepenuhnya dari awal sampai akhir semester. Terkait skema ini, Aulanni’am mengatakan UB akan melakukan evaluasi pembelajaran daring sejak Maret hingga Mei lalu agar pembelajaran daring semakin baik.

Terakhir, skema ketiga adalah membagi pembelajaran menjadi dua tahapan, yaitu perkuliahan daring dari awal semester sampai Ujian Tengah Semester (UTS) dan dilanjutkan dengan perkuliahan reguler setelah UTS sampai akhir semester.

“Namun ini pun atas dasar perkembangan pandemic Covid-19,” terang Aulanni’am kepada awak Kavling melalui pesan WA, Jumat (5/6) lalu.

UB sendiri sudah melakukan koordinasi dengan pihak-pihak di luar UB untuk mengatasi pandemi Covid-19 ini. Koordinasi yang dilakukan pihak UB berdampak pada segala kebijakan terkait perkuliahan dengan menyesuaikan keputusan dari pemerintah.

Alhamdulillah sudah ada pembicaraan, intensif, dan berkolaborasi, tidak hanya UB, tetapi ‘pentahelix’: akademisi, praktisi, birokrat-politisi, pemangku keamanan, masyarakat,” ujar dr. Eriko Prawestiningtyas selaku Humas Satgas Covid-19 UB melalui pesan WA beberapa waktu yang lalu, Selasa (26/5).

Sebelumnya, seperti dari CNN Indonesia, Wali Kota Malang Sutiaji menegaskan bahwa PSBB di Malang Raya berakhir pada 30 Mei 2020. Kota Malang sudah mulai memasuki masa transisi new normal sejak 1 Juni. Beberapa mal, pusat perbelanjaan, dan tempat ibadah sudah mulai dibuka dengan syarat harus menerapkan segala protokol kesehatan untuk mencegah penularan Covid-19.

Hal yang Belum Ada Kepastian

Hal berbeda kemungkinan akan terjadi pada proses penerimaan mahasiswa baru (maba). Menurut dr. Eriko, pihak UB telah melakukan pembicaraan dengan rektor-rektor se-Kota Malang dan Wali Kota Malang bahwa mekanisme penerimaan maba masih akan menyesuaikan dengan situasi kondisi nasional.

“Bisa jadi daring atau meminimalisasi mobilisasi Maba, tapi itupun masih belum fix, sambil melihat situasi kondisi dan menentukan model,” katanya.

Sementara itu, Aulanni’am menyampaikan ada kemungkinan proses penerimaan maba secara daring dilakukan, mengingat penerimaan maba tahun ini berupaya meminimalisasi adanya kerumumanan mahasiswa di kampus.

“Penerimaan maba akan dilakukan dengan mempertimbangkan situasi pandemi Covid-19. Penerimaan maba dimungkinkan untuk dilakukan secara online, seperti wisuda online yang telah dilakukan,” kata Aulanni’am.

Sampai saat ini, tanggal pelaksanaan penerimaan maba atau Raja Brawijaya belum ditentukan. Wakil Rektor Akademik akan terus berkoordinasi dengan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan untuk menentukan keputusan ini.

Hal lain yang belum ada kepastian adalah bentuk protokol kesehatan untuk mencegah penularan Covid-19 yang bakal diterapkan jika proses perkuliahan tetap dilakukan secara reguler. Bentuk protokol masih dalam tahap penyusunan.

“Protokol untuk perkuliahan semester depan sedang disusun oleh tim UB yang melibatkan Satgas Covid UB, Wakil Dekan Bidang Akademik, staf ahli Wakil Rektor Bidang Akademik dan Staf ahli Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, serta unit-unit terkait lainnya di UB,” jelas Aulanni’am.

Meski begitu, masih ada beberapa fakultas di UB yang memiliki ruang kuliah yang sempit. Hal ini menimbulkan kekhawatiran dari mahasiswa mengenai ketidakmungkinan penerapan protokol kesehatan. Sementara protokol kesehatan yang lazim digunakan seperti physical distancing tidak memungkinkan untuk diterapkan dalam ruang kuliah yang sempit.

“Menurutku tidak memungkinkan. Karena dikelasku pun ada yang ruangannya kecil. Dan ketika tidak ada physical distancing pun udah sempit,” ujar Mita, mahasiswa Fakultas Pertanian UB.

Penulis: Agung Mahardika
Editor: Abdi Rafi Akmal

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.