Genre : Animasi, Drama, Fantasi
Sutradara : Michael Dudok de Wit
Produser :Rumah Produksi Studio Gibli & Rumah Produksi Wild Bunch
Skenario : Michael Dudok de Wit & Pascale Ferran
Tahun rilis : 2017
Durasi : 1 jam 20 menit

Penulis: Ivan Yusuf Juliar Pangestu

Pandemi yang sedang dihadapi oleh seluruh warga dunia memaksa beberapa dari kita untuk kembali pulang ke rumah. Secara klasik, rumah dimaknai sebagai tempat dimana kita lahir, tumbuh, dan dibesarkan. Padahal, setiap dari kita pada dasarnya memiliki definisi tersendiri tentang “rumah”. Barangkali begitu pesan yang ingin disampaikan oleh film besutan sutradara sekaligus animator Belanda, Michael Dudok de Wit. Film animasi yang di gawangi oleh dua rumah produksi, Studio Gibli dan Wild Bunch tersebut secara apik menggambarkan perjalanan seseorang dalam menemukan “rumah” barunya.

Cerita dimulai dengan adegan seorang pria yang terombang-ambing di tengah kemelut badai besar. Tidak dijelaskan secara gamblang siapa pria tersebut dan dari mana dia berasal. Adegan berlanjut dengan terdamparnya tubuh pria tersebut pada sebuah pulau asing tak berpenghuni. Menyadari dirinya masih hidup, pria itu lalu memutuskan untuk mencari bantuan. Dia berkeliling dan menjelajah di sekitaran pulau. Berharap akan ada seseorang atau apapun yang dapat membantunya. Singkat cerita, pria tak bernama itu memutuskan untuk membuat sebuah perahu dari bambu yang dia dapatkan di pulau tersebut.

Sialnya, setiap kali perahunya berlayar tidak jauh dari bibir pantai, ada sesuatu dari dalam lautan yang mendorongnya hingga perahu  tersebut hancur berantakan. Tidak lantas menyerah, pria tersebut membuat perahu yang sama untuk kedua kalinya. Usahanya masih berujung sama dengan percobaan sebelumnya. Setelah gagal dalam beberapa kali percobaan, pria tersebut akhirnya menyerah. Dia memasrahkan nasibnya pada keadaan. Tubuhnya yang semakin melemah juga tidak bisa lagi diajak berjuang.

Adegan intro yang diperkenalkan lewat film yang masuk nominasi Oscar tahun 2017 tersebut merefleksikan sebuah pesan penting tentang manusia dan pencarian. Tidak ada siapapun di dunia ini yang tidak pernah berjuang sebelum menemukan definisi sejati dari rumahnya sendiri. Begitupun yang dialami oleh tokoh pria tersebut. Sebaik apapun skenario yang dia ciptakan untuk bisa lari dari pulau atau seberapa banyak usaha yang dia kerahkan, jika tempatnya “berpulang” adalah di pulau tersebut, maka dia tidak akan pergi ke mana-mana.

Cerita berlanjut pada adegan ketika pria itu akhirnya mengetahui biang keladi yang selama ini mendorong perahunya dari dasar laut hingga hancur berantakan. Pembuat onar tersebut adalah seekor penyu merah yang memiliki ukuran sama dengan orang dewasa. Pria tersebut tidak melewatkan kesempatan untuk meluapkan amarah yang selama ini dipendam. Sesaat kemudian, ia memukul penyu tersebut saat berlabuh di bibir pantai. Belum puas, dia membalikkan tubuh si penyu ke atas hingga penyu tersebut kesusahan untuk bergerak. Masih dengan perasaan kesal, pria itu tidak kunjung membalikkan tubuh si penyu.

Hingga beberapa lama berlalu, penyu merah itupun akhirnya mati. Pria itu tiba-tiba merasa bersalah ketika melihat tubuh penyu yang terbujur kaku. Singkatnya, tubuh penyu yang dilihatnya itu perlahan berubah menjadi seorang perempuan yang usiannya sebaya dengannya. Tidak percaya dengan apa yang diliatnya, pria itu mendekat untuk memastikan bahwa penglihatannya kali ini benar. Sosok perempuan yang dilihatnya itu nyata. Matanya terpejam dengan tubuh yang lemah.

Singkatnya, sepasang sejoli itu mulai merasa terkoneksi satu sama lain. Sepasang yang saling asing itu bersama-sama memulai cerita baru mereka. Tidak berhenti di sana, kebahagiaan mereka semakin sempurna saat anak pertama mereka hadir. Di seperempat akhir cerita, sang pria dan keluarga barunya digambarkan begitu mesra. Keluarga itu bertumbuh, mendewasa, dan berharmoni dengan alam.

Banyak kritikus dan penikmat film –yang memiliki judul asli La Tortue Rouge— ini menyampaikan bahwa adegan pria itu bertemu dengan penyu yang berubah menjadi perempuan adalah buah imajinasi dari si pria. Beberapa di antaranya bahkan mengatakan bahwa pria itu telah mati saat percobaan terakhirnya dengan perahu sampan gagal yang akhirnya membuat tubuhnya melemah karena dehidrasi. Terlepas dari apakah adegan selanjutnya adalah sebuah imajinasi, film ini tetap berhasil mengantarkan pesan yang sarat kepada setiap penontonnya. Sang pria yang awalnya kehilangan harapan akan hidup, akhirnya kembali bisa merajutkan harapan tersebut di pulau itu. Perempuan asing yang dijumpainnya itu memberikannya sebuah kehidupan baru: Sebuah rumah, tempat dia menetap dan tinggal, tempat dimana dia memilih untuk pulang.

Secara khusus, film yang dirilis pertama kali di Perancis tahun 2016 itu memiliki keunikan tersendiri. Sepanjang film, kita tidak akan mendengar sebuah percakapan apapun dari tokoh-tokohnya. Seluruh alur cerita dijelaskan lewat gesture sang tokoh dan iringan lagu yang menjelaskan suasana hati dan keadaan yang terjadi. Film yang bersifat visual story telling ini juga memanjakan penontonnya dengan landscape pantai yang sangat bersih, perawan, serta suara laut yang khas.

Meski film ini adalah keluaran dari rumah produksi Ghibli yang memproduksi animasi jepang, ciri khas animasi yang ditampilkan justru lebih mendekati gaya kartun Eropa; desain grafis yang sederhana, kaku, dan terkesan realistis. Sementara itu, ciri khas animasi garapan Studio Ghibli yang bisa kita dapati dalam film ini terletak pada penggambaran tokohnya yang tidak dikotomis. Tidak ada tokoh yang sepenuhnya antagonis maupun protagonis dalam film berdurasi 1 jam 20 menit ini. Setiap tokohnya berkamuflase dan mendewasa mengikuti jalannya cerita.

Keegoisan si penyu merah yang menggagalkan niat sang pria untuk meninggalkan pulau, dibayar lunas dengan kehadirannya yang membawa kehidupan baru bagi si pria. Persoalan tentang pencarian manusia dalam mendefinisikan “rumahnya” digambarkan sangat sederhana tapi sangat mendalam dalam film ini. Tidak ada yang menyangka, pulau asing sekaligus sosok yang tidak kita kenal dan bahkan pernah membuat kita berujung kesal nyatannya adalah dua hal yang selama ini dinanti.

Meski pesan yang ingin disampaikan lebih banyak di ilustrasikan lewat hubungan romantisme sepasang sejoli, saya sendiri memaknai pencarian akan makna “rumah” yang berusaha diperjuangkan tokoh utama tersebut secara luas. Film ini seolah kembali mengingatkan kepada setiap penontonnya, bahwa rumah bukan hanya perkara tempat tinggal dan tanah. Rumah adalah tempat yang membuat kita terhubung dengan orang yang kita sayangi, untuk selanjutnya kita terima sepenuhnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.