Ilustrasi: Priska

Judul: The English Game (2020)
Sutradara: Birgitte Stærmose, Tim Fywell
Pemain: Edward Holcroft, Kevin Guthrie, Charlotte Hope, Niamh Walsh, Craig Parkinson, James Harkness
Genre: Drama Historis
Durasi: 1 season, 6 episode (@40 menit)

Penulis: Abdi Rafi Akmal
E

Fergus “Fergie” Suter” (Kevin Guthrie) dan Jimmy Love (James Harkness) baru saja ditransfer dari Patrick (klub di Skotlandia) menuju Darwen (klub di Inggris). Transfer itu adalah ide James Walsh (Craig Parkinson), pemilik pabrik dan klub sepak bola pekerja di Darwen. Harapannya, kedua pemain ini dapat membantu Darwen menjatuhkan dominasi klub bangsawan di FA Cup 1878.

Fergus Suter, you and I are gonna make a history,” ucap Walsh pada awal episode serial The English Game di Netflix. Ucapan tersebut memang sangat tepat, sebab transfer kedua pemain tersebut adalah transfer pertama di dunia sepak bola. Lebih dari itu, Fergie dan Jimmy merupakan pemain sepak bola pertama yang dibayar hanya untuk bermain sepak bola.

Pada pertengahan abad 19, sepak bola memang sudah berkembang sangat pesat di Inggris. Di sana, sepak bola sudah memiliki aturan dan organisasi yang menaunginya, yaitu FA (Football Association atau PSSI-nya Inggris). FA bahkan telah menyelenggarakan kompetisi sepak bola pertama di duna yang bernama FA Cup pada 1871. Meski begitu, belum ada satupun aturan yang membolehkan seorang pemain dibayar untuk bermain sepak bola.

Peraturan tersebut bukannya tanpa sebab, dari perspektif kritis, sepak bola dianggap sebagai dominasi kelas bangsawan terhadap kelas pekerja. Sejak 1871 hingga kedatangan Fergie di Darwen pada 1878, pemenang FA Cup adalah klub-klub dari kalangan bangsawan, seperti Old Etonians. Sementara Darwen adalah klub kelas pekerja.

Walsh bertekad supaya Darwen menjadi klub pekerja pertama yang menjadi juara FA Cup. Oleh karena itu, ia melakukan terobosan dengan mentransfer dua pesepakbola andal dari Skotlandia, Fergie dan Jimmy.

Nasib Fergie dan rekan setimnya di Darwen tidak berjalan mulus di tahun pertama. Mereka disingkirkan di babak perempat final oleh Old Etonians lewat pertandingan replay atau pertandingan ulang. Darwen kalah telak 5-0 dari Old Etonians setelah sebelumnya berhasil menahan imbang mereka di pertandingan pertama dengan skor 5-5.

Pada pertandingan pertama, penonton disuguhkan dengan betapa kuatnya dominasi Old Etonians sebagai klub bangsawan. Pada pertandingan tersebut, Darwen merasa harusnya ada babak tambahan untuk menentukan pemenang. Namun, Old Etonians memilih untuk melakukan laga replay di minggu depan. Keputusan tersebut akhirnya diputuskan secara sepihak oleh Old Etonians karena pemainnya adalah dewan FA itu sendiri.

The English Game berhasil menjelaskan secara gamblang bagaimana sepak bola menjadi peneguhan kelas bangsawan terhadap kelas pekerja. Klub-klub pekerja diisi oleh para pekerja pabrik yang bekerja dari hari Senin – Jumat. Praktis, kesempatan mereka berlatih hanya hari Sabtu. Ini belum ditambah dengan perjalanan away ke kota lain yang bisa memakan waktu berjam-jam dengan menggunakan kereta uap.

Para pekerja, khususnya para pemain sepak bola, juga tidak mendapat gizi yang baik karena upah yang rendah. Bahkan, asosiasi pabrik kapas –termasuk pabrik milik Walsh– kerap menurunkan upah ketika harga kapas sedang jatuh. Jangankan fokus untuk membawa tim mereka menang, para pekerja ini selalu terdistraksi dengan sumber pemasukan utama mereka dari pabrik.

Bandingkan dengan klub bangsawan yang punya waktu latihan yang lebih banyak, asupan yang lebih bergizi, serta istirahat yang cukup. Meskipun sepak bola di Inggris telah memiliki aturan yang berlaku, tetap saja kompetisi sepak bola sejak awal tidak menguntungkan klub kelas pekerja.

Walaupun kelihatannya sepak bola sangat tidak cocok bagi kelas pekerja kala itu, masyarakat tetap menyenangi olahraga tersebut. Mereka rela membayar tiket masuk stadion untuk melihat klub lokal bermain. Pada masa televisi dan radio belum menjadi barang umum, masyarakat rela berkumpul di suatu tempat hanya untuk menunggu kabar gol –tanpa tahu jalannya pertandingan!

Lalu ada gelaran FA Cup 1879, muncul klub pekerja lain yang berambisi seperti Darwen. Terletak di sebelah utara sekaligus bertetangga dengan Darwen, Blackburn memiliki niat yang lebih kuat. Pemiliknya, John Cartwright (Ben Batt) berani membayar tinggi para bintang lapangan hijau seantero Britania Raya untuk bermain bagi Blackburn.

Pasca Darwen tersingkir lagi pada musim tersebut, Fergie dan Jimmy turut ‘dibeli’ oleh Blackburn. Kehadiran para pemain bintang di dalam skuad Blackburn berhasil membawa mereka menuju final FA Cup 1879. Menjadikan mereka sebagai klub kelas pekerja pertama yang menginjakkan kaki di final.

Dewan FA –yang juga bermain untuk Old Etonians– mulai merasa cemas. Mereka mencari-cari cara untuk mendiskualifikasi Blackburn. Mulai dari isu kerusuhan pada pertandingan persahabatan kontra Darwen, hingga isu bahwa Blackburn membayar pemain untuk bermain sepak bola.

Klimaks serial tersebut terjadi pada bagian ini. Fergie, Walsh, dan Cartwright berusaha memperjuangkan haknya untuk tetap bermain di final dengan mengajukan banding ke FA. Seorang tokoh protagonis yang menjabat sebagai dewan FA dan juga pemain Old Etonians, Arthur Kinnaird (Edward Holcroft) membantu upaya Blakcburn. Ia mendesak dewan FA lain untuk segera membatalkan larangan bertanding di final bagi Blakcburn.

Desakan tersebut akhirnya dikabulkan oleh dewan FA lainnya. Blackburn bisa bermain di laga final. Blackburn bermain sangat apik dan merepotkan Old Etonians. Tak ayal, Blackburn memetik berhasil memenangkan pertandingan dan menjadi klub kelas pekerja pertama yang menjuarai FA Cup.

Secara keseluruhan, The English Game adalah serial wajib bagi penggemar sepak bola. Serial ini sangat total menggambarkan keadaan sepak bola pada pertengahan abad 19. Segalanya jauh berbeda dengan sepak bola saat ini. Pemain menggunakan celana jeans selutut, kaos katut berlengan panjang, dan sepatu kulit tanpa pul sebagai kostum anyar mereka. Lalu gawang yang tanpa jaring. Tidak ada formasi, strategi, taktik, semuanya bermain bergerombol layaknya anak kecil bermain sepak bola.

Selain itu, serial ini sangat akurat dalam memberikan gambaran keadaan Inggris pada waktu igu. Mulai dari perdagangan bayi, stigma miring terhadap perempuan yang hamil tanpa suami, perjuangan buruh, hingga protes pekerja yang gajinya dikurangi terus-terusan.

Meski ini adalah serial wajib untuk memahami bagaimana sepak bola berkembang di Inggris, saya tetap menemukan dua dosa besar pada serial arahan Birgitte Stærmose ini. Pertama, Stærmose menambahkan bumbu drama, mulai dari kisah percintaan, persahabatan, keluarga, dan loyalitas. Fokus utamanya untuk menggali bagaimana sepak bola berkembang akhirnya terdistraksi oleh masalah-masalah lain.

Persoalan tersebut akhirnya menciptakan persoalan kedua. Stærmose ‘membohongi’ beberapa fakta sejarah, meski dia bilang serial ini based in true story. Misal, profil Fergus Suter yang tak sesuai aslinya. Pada serial tersebut Fergie sudah beberapa kali bermain bersama Blackburn dan memenangi gelar FA, padahal kenyataannya ia hanya mencatatkan satu kali penampilan bersama Blakcburn dan tidak menang apapun. Begitu pun dengn drama-drama lain yang akhirnya merusak originalitas kisah.

Perjuangan Darwen dan Blackburn menjuarai FA Cup bukanlah sekadar ambisi meraih popularitas dan pundi-pundi layaknya klub sepak bola modern era ini. Mereka berjuang demi menghargai masyarakat yang rela memilih sepak bola sebagai hiburan selepas bekerja selama satu minggu. Selain itu, baik itu pemilik Darwen dan Blakcburn melihat keberhasilan menjadi juara FA Cup adalah upaya melawan dominasi kelas bangsawan. Kelas bangsawan mungkin punya kendali pada bisnis, industri, ekonomi, dan hukum, tetapi jangan sampai dominasi tersebut merambah ke sepak bola.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.