Ilustrasi: Salsa

Penulis: Agung Mahardika

Pandemi yang sedang melanda mengharuskan segala kegiatan perkuliahan di kampus ditiadakan, alias dialihkan ke online. Dialihkanya perkuliahan ke online adalah bentuk penyikapan dari pihak kampus bahwa perkuliahan harus tetap berjalan dan diselesaikan meski pandemi sedang melanda. Mulanya, dialihkannya perkuliahan ke online adalah sebuah tindakan yang sigap. Namun seiring berjalannya waktu, pengalihan ke online ini terkesan memberatkan mahasiswa dan tidak efektif. Hal ini disebabkan penugasan yang diberikan pada perkuliahan online.

Hampir seluruh mata kuliah selalu ada penugasan di tiap pertemuannya–yang ketika tatap muka tidak demikian. Memang, tugas yang diberikan sesuai dengan materi apa yang harus dicapai di RPS (Rencana Pembelajaran Semester), tapi bisakah itu menjamin dengan pemberian tugas mahasiswa bisa menguasai materi yang sesuai di RPS? Tidak menjamin. Penugasan yang saya alami selama kuliah online ini setidaknya ada dua jenis, yaitu membuat resume atau membuat sebuah proyek berupa mini riset sebagai pengganti UAS.

Pertama, resume. Resume adalah sebuah ringkasan yang dibuat berdasarkan beberapa sumber bacaan tentang materi kuliah pada pertemuan tersebut. Resume semestinya menjadi bekal mahasiswa untuk mengikuti perkuliahan. Bekal tersebut oleh mahasiswa akan dipertemukan dengan informasi yang didapat mahasiswa lain untuk memunculkan diskusi dalam kelas. Namun, apakah itu juga terjadi ketika kelas online? Tidak.  Saat metode online, resumehanya sebatas dikumpulkan di Google Classroom dan proses diskusi antar-mahasiswa sangat minim, alias nyaris tidak ada. Tanpa maksimalnya diskusi dengan mempertemukan bekal informasi yang didapat mahasiswa, resume hanyalah deretan paragraf yang dikumpulkan sebagai formalitas tanpa memberi kontribusi dalam menunjang efektivitas perkuliahan,.

Bentuk penugasan kedua yang banyak diberikan oleh dosen ketika kuliah online adalah membuat sebuah proyek untuk UAS. Dari perkuliahan yang saya lakoni, humaniora, selama kurang lebih sebulan ini, ada tiga mata kuliah yang kegiatan kuliahnya diganti penugasan berupa proyek UAS. Sedikit sekali pemberian materi baik berupa Power Point, video presentasi, atau melalui video conference. Pola penugasannya kurang lebih seperti ini: pada pertemuan pertama mahasiswa diberi tugas untuk mencari topik (permasalahan) yang akan dikerjakan sebagai proyek UAS, pada pertemuan berikutnya dosen akan mengoreksi dan memberi masukan untuk memperbaiki hasil pekerjaan sekaligus memberi tugas untuk lanjut ke bab 1, pertemuan berikutnya akan mengoreksi dan memberi masukan sekaligus tugas untuk lanjut ke bab 2, pola sama akan ditemui di pertemuan selanjutnya dengan penugasan yang baru, yaitu lanjut ke bab selanjutnya.

Permasalahannya ada pada proses pengoreksian tugas dan pemberian masukan. Pada tiap pertemuan dosen yang menggunkan video conference hanya memberi waktu sekitar sepuluh menit untuk melakukan pengoreksian atas tugas setiap mahasiswa dan pemberian masukan ke depannya terhadap proyek yang sedang digarap. Waktu sekitar sepuluh menit dengan hanya melalui video conference untuk pengoreksian dan pemberian masukan sangatlah jauh dari kata cukup. Saya sendiri yang dahulu melakukan itu secara langsung ketika perkuliahan tidak online membutuhkan waktu dua kali lipat lebih banyak dari sekitar sepuluh menit. Bahkan, ada dosen yang tidak memberi koreksi dan masukan atas pekerjaan yang dilakukan mahasiswa, yakni pada tiap pertemuan hanya memberi tugas untuk melanjutkan ke bab selanjutnya. Apa yang bisa diharapkan dari pola semacam itu? Berharap menghasilkan proyek kerja intlektual yang brilian melalui pola semacam itu adalah impian yang tidak akan terwujudkan

Ada satu cerita yang sangat tidak masuk akal dari salah satu teman saya. Ini terjadi pada mata kuliah yang menuntut mahasiswanya untuk bersentuhan langsung dengan masyarakat. Sebenarnya ketika kuliah tidak online akan ada penugasan melakukan pengamatan berkelompok 3-4 orang dengan terjun ke lapangan. Hasil pengamatan berupa permasalahan di masyarakat. Setelah melakukan pengamatan, mahasiswa diberi tugas menganalisis permasalahan dan membuat solusi atau inovasi yang bisa jadi terobosan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Sekarang, ketika kuliah online berubah drastis. Mahasiswa disuguhkan sebuah permasalahan di masyarakat dalam bentuk tulisan, baru kemudian mahasiswa diberi tugas menganalisis dan mencari solusi atau inovasi untuk menyelasaikan masalah tersebut. Hal yang sangat tidak masuk akal adalah tugas ini dikerjakan individu dan masing-masing mahasiswa –lebih dari 50 mahasiswa– tidak boleh membuat solusi yang sama. Coba bayangkan, satu permasalahan yang sama, tanpa ada terjun lapangan untuk mengetahui hal yang lebih kompleks, dan lebih dari 50 orang harus membuat solusi berbeda. Sangat tidak masuk akal, bukan?

Dengan bentuk-bentuk penugasan yang saya contohkan tadi –yang mungkin juga dialami kebanyakan mahasiswa lain– kiranya cukup bagi kita untuk pesimis bahwa bentuk penugasan dalam kuliah online ini bisa efektif dan dapat menunjang tercapainya tujuan perkuliahan. Perkuliahan memang harus tetap berjalan, namun pemberian tugas yang cenderung memberatkan dan jauh dari efektifitas bukanlah tindakan yang bijak. Refleksi dan evaluasi sangatlah perlu demi kebaikan di kemudian hari.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.