Ilustrasi: Salsa

Penulis: Anggik Karuniawan

“Synhar, bagaimana kabarmu? sudah lama agaknya kita tak bercakap-cakap seperti ini.”

            “Diriku dalam keadaan baik. Maaf baru bisa bercakap seperti ini. Aku baru saja kembali dari perjalanan yang jauh beberapa bulan ini.”

Synhar adalah temanku dari bangsa Kumbang Koksinelid. Ia adalah korban dan juga saksi hidup dari ketidakbijaksanaan manusia. Ia selamat setelah hampir mati kena serangan racun dari manusia. Keluarga, kerabat, teman dan kekasihnya semua telah meninggalkannya seorang diri. Padahal tak ada kesalahan yang ada mereka perbuat. Malahan mereka yang banyak membantu manusia untuk berperang melawan musuh yang menyerang tanaman.

            “Entah bagaimana mereka dulu begitu kejamnya menyerang kami,” kenangnya mengingat masa itu.

            “Mungkin mereka tidak tahu atau belum kenal dengan kita. Mereka menganggap kita sama dengan bangsa musuh yang menyerang dan membahayakan tanaman mereka.”

Jika mengingat masa itu aku juga merasa pilu. Aku juga kehilangan sahabat dan kerabatku yang sangat peduli padaku. Memang telah tersiar kabar bahwa akan ada serangan racun dari manusia. Sebenarnya dalam beberapa dekade belakangan ini, bangsa kami sudah terbiasa dan selalu saja selamat dari bahaya serangan racun manusia itu. Namun saat peristiwa itu entah aku harus bersyukur atau justru berkabung.

Saat itu aku aku dan keluargaku tidak sedang berada dirumah. Kami berkunjung ke rumah kerabat yang jaraknya lumayan agak jauh. Namun, setalah kami balik dari berkunjung, kami kaget bukan kepalang saat mengetahui banyak saudara sebangsa kami yang telah meninggal. Tapi juga bersyukur bahwa sebagian dari bangsa kami juga ada yang beruntung dapat selamat dari serangan itu yang salah satunya adalah kawanku, Synhar.

            “ Apa yang telah terjadi?” ujar ayahku.

            “Serangan racun manusia telah menyerang pemukiman kita pak, banyak warga yang tidak terselamatkan nyawanya” kata warga yang berpapasan dengan kami.

Keadaan saat itu begitu kacau. Kami berhari-hari harus menguburkan jasad saudara sebangsa kami. Berhari-hari pula kami berkabung. Kehidupan sangat terasa seakan berhenti. Namun ada beban kami harus bangkit membangun peradaban kembali. Kami dihantui oleh kesedihan yang telah mengisi ruang hati  kami dan juga pula kebencian terhadap bangsa manusia yang semakin hari semakin tinggi menerbit.

            “ Aku sangat benci manusia saat itu. Dulu kuberdoa pada Tuhan semoga membikin tanaman mereka gagal panen. Biarlah bangsa manusia mengalami kelaparan, biarlah kematian menjemput mereka. Persetan dengan manusia” ucap Synhar.

Setelah dua dekade peristiwa itu, terjadi kerusakan tanaman yang menjadikan manusia sebagai makhluk paling sengsara di muka bumi ini. Musuh-musuh telah menyerang dengan membabi buta. Mereka lebih kuat, lebih kebal dan telah berevolusi menjadi musuh yang ganas karena ulah manusai sendiri. Mereka adalah generasi yang selamat dan generasi pembelajar dari berbagai serangan yang dilancarkan manusia. Strategi baru dan tak terpikirkan oleh manusia telah mereka ciptakan sebagai hadiah karena mereka mau belajar dan telah terbukti berhasil membikin manusia tak berdaya.

Tapi justru karena itulah keadaan sekarang mulai membaik. Manusia agaknya mulai sadar bahwa dulu dia telah berbuat kesalahan yang fatal. Sekarang mereka mulai memperhatikan kami, bahkan meminta maaf karena kesalahan yang mereka telah perbuat. Memang tidak mudah untuk mengakui kesalahan dan kejahatan, apalagi dalam keadaan jika mereka lebih kuat dan berkuasa.

Namun dengan tidak mengakuinya juga hanya akan membikin luka dan kejahatan yang berkepanjangan. Dengan tidak mengakui kesalahan dan kejahatan tidak ada kebenaran yang terungkap. Dengan tidak mengakui kesalahan dan kejahatan akan hanya membebani generasi yang akan datang dan membikin mereka buta bagaimana jalan kehidupan mereka berasal.

Bangsa manusia kini telah menganggap bahwa kami penting bagi mereka dan begitu pula mereka juga penting bagi bangsa kami. Mereka telah membikinkan rumah bagi kami, menyediakan makanan bagi kami. Bahkan dalam mengambil keputusan, mereka juga melibatkan pertimbangan dari bangsa kami. Dan kami pun berharap bahwa akan adanya hubungan yang baik dimasa yang akan datang.

“Pada dasarnya kebenaran, perubahan dan kebahagian tidak terjadi dengan sendirinya. Ia harus melewati jalan yang panjang, kelok dan berliku. Perlu banyak perjuangan dan pengorbanan yang harus dilakukan,” ujar Synhar yang sekaligus menutup pertemuan kami sore itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.