Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Abdul Hakim sedang menjawab tuntutan dari Amarah Brawijaya di depan Gedung Rektorat, Kamis (18/6) pagi. Foto: Abdi.

MALANG-KAV.10 Aliansi Mahasiswa Resah (Amarah) Brawijaya menyelenggarakan aksi lanjutan penyampaian tuntutan pembebasan uang kuliah tunggal (UKT) sebesar 50% untuk semua mahasiswa UB pada semester gasal 2020/2021, Kamis (18/6) pagi. Aksi ini didahului dengan long march dari Gedung FISIP UB dan berakhir di Gedung Rektorat. Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Abdul Hakim menjadi perwakilan dari pihak rektorat yang menjawab tuntutan mahasiswa peserta aksi.

Sebagai jawaban dari tuntutan mahasiswa, Hakim menyebutkan bahwa pembebasan UKT hanya bisa dilakukan sesuai dengan prosedur pengajuan keringanan UKT yang diatur dalam Peraturan Rektor UB No. 17 Tahun 2019.

“Mana ada perguruan tinggi yang membebaskan SPP (UKT, Red) mahasiswa sampai nol persen tanpa mengajukan? Coba tunjukkan ke saya,” ujar Hakim di hadapan massa aksi.

Menanggapi hal ini, pihak Amarah Brawijaya menilai bahwa keputusan untuk mempelopori membebasan UKT terhadap mahasiswa bukan hal yang tidak mungkin.

“Kan logikanya kenapa gak kita aja yang memulai kalau misalkan kita bisa dan misalnya kampus ini berusaha untuk melakukannya. Justru dengan adanya penolakan dengan alasan kampus tidak mempercayai kami, lantas apa kami harus tetap mempercayai kampus? Mungkin itu yang kurang dimengerti dari rektorat,” jelas Ragil Ramadhan selaku perwakilan Amarah Brawijaya.

Hakim juga sempat meminta data mahasiswa yang merasa terdampak selama pandemi. Ia mengatakan akan menjamin seluruh mahasiswa terdampak pandemi yang membutuhkan keringanan UKT.

“Silakan bawa temanmu (yang membutuhkan penurunan UKT, red) ke sini. Karena saya sudah komitmen tidak ada satu pun mahasiswa yang drop out karena tidak mampu bayar UKT,” kata Hakim.

Meski begitu, Hakim menjelaskan bahwa pihak kampus belum menyanggupi tuntutan pembebasan 50% UKT bagi seluruh mahasiswa.

Amarah Brawijaya tetap berharap adanya itikad baik dari pihak kampus untuk memberikan kelonggaran UKT secara menyeluruh.

“Kali ini kami menuntut karena omzet UB mencapai 1,3 T, hampir menyamai Kota Malang sendiri, walaupun hanya berbentuk universitas. Tapi hal yang mengherankan adalah kenapa sampai saat ini UB belum memberikan kebijakan yang layaknya bisa lebih mandiri, lebih manusiawi untuk mahasiswanya. Terutama di kondisi seperti ini,” lanjut Ragil.

Pengeluaran UB Meningkat Selama Pandemi

Menanggapi penggunaan dana di UB, Kepala Biro Keuangan UB Sagiya mengatakan bahwa pengeluaran UB mengalami peningkatan selama pandemi. Beberapa di antaranya adalah karena kegiatan rutin yang masih berjalan, gaji pegawai yang tetap, dana untuk aktivitas daring, hingga perbaikan fasilitas di Rumah Sakit Universitas Brawijaya (RS UB).

“Justru dengan Covid ini pengeluaran kami luar biasa,”  ujar Sagiya.

Sagiya juga menuturkan bahwa ada pemangkasan kembali dana UB sebesar 23 miliar oleh Kemendikbud pertengahan semester lalu. Sebelumnya, dana pagu UB juga telah dipangkas sebesar 107 miliar di awal tahun.

“(Pemangkasan dana, red) itu karena Covid-19. Kita sebagai institusi hanya mengikuti untuk menangani kasus negara,” terangnya.

Sementara untuk pembebasan UKT, Sagiya tetap merujuk pada Peraturan Rektor UB No. 17 Tahun 2019. Menurutnya, pengajuan dapat mempermudah pihak kampus untuk menentukan mana mahasiswa yang memang butuh kelonggaran.

“Bisa pertama penundaan, penurunan, bahkan mungkin pembebasan. Di sana itu diatur. Terus polanya seperti apa juga diatur,” kata Sagiya.

Lebih lanjut, Hakim mengatakan bahwa draf tuntutan yang disampaikan Amarah Brawijaya akan disampaikan terlebih dahulu ke Rektor. Hakim meminta waktu minimal 12 hari kerja untuk pihak rektorat mengkaji lebih lanjut perihal UKT.

Pihak Amarah akhirnya menyepakati bahwa jawaban dari pihak rektorat akan ditunggu paling lambat tanggal 30 Juni nanti. “Mungkin untuk gerakan (yang akan dilakukan, red) selama menunggu tanggal 30 ini kita tetap memperkuat riset dan argumen, karena kita masih belum mengetahui apa yang menjadi jawaban dari rektorat di tanggal 30 nanti,” pungkas Ragil.

Penulis: Priska Salsabiila
Editor: Abdi Rafi Akmal

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.