Suasana pembagian sembako di GKM. Foto: Abdi

MALANG-KAV.10 Terhitung dari awal bulan April hingga Selasa (12/5) lalu, Universitas Brawijaya telah membagikan 3.000 paket bantuan sembako untuk mahasiswa UB yang terdampak Covid-19 di Malang. Ribuan paket sembako tersebut telah dibagikan melalui lima gelombang. Menurut penuturan Person in Charge (PIC) Pembagian Sembako UB Lisfadiana Ekakurniawati, jumlah tersebut melampaui jumlah mahasiswa yang mendaftar pada gelombang pertama.

Sejak pendataan pertama melalui google form pada bulan Maret lalu, mahasiswa penerima bantuan sembako semakin membludak. Lisfadiana atau yang akrab disapa Eva itu mengatakan, pada awalnya, mahasiswa yang mengisi formulir untuk mendapatkan bantuan sembako hanya sebanyak 400 orang.

“Nah, ternyata setelah publikasi mahasiswa yang mendaftar banyak sekali. Di awal itu nggak ada yang minat. Padahal, waktu itu form sudah disebarkan sampai hampir satu minggu. Begitu kami membagikan lewat fisik baru ramai (mahasiswa, red),” ujar Eva ketika ditemui di Gedung Kebudayaan Mahasiswa (GKM) pada Selasa (12/5) lalu.

Dari 400 pendaftar pertama, pihak rektorat berencana untuk memberikan bantuan hingga tiga kali atau tiga gelombang. Masing-masing gelombang berjumlah 400 paket sembako.

Namun, jumlah mahasiswa yang mengambil bantuan sembako terus bertambah pada gelombang kedua dan gelombang ketiga. Pertambahan ini membuat rektorat memberikan tambahan 1000 paket pada gelombang keempat dan 500 paket lainnya pada gelombang kelima.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Abdul Hakim menjelaskan bahwa pengadaan gelombang keempat dan kelima diprioritaskan bagi mahasiswa yang belum mendapat sama sekali. “Mungkin kalau mereka betul-betul butuh, bisa langsung mendatangi GKM,” ujarnya.

Sementara itu, berdasarkan keterangan dari Menteri Advokesma EM UB Giovanni Gavin, pembagian ini masih akan berlanjut hingga terpenuhi target sebanyak 4600 paket. “Kondisional sih, tapi targetnya insya Allah 4.600 terpenuhi semua, kecuali mahasiswa yang udah mengisi tapi akhirnya pulang. Kalau itu di luar kontrol kita,” kata Giovanni.

Meski begitu, Eva merasa ada kesalahan pemahaman terkait pembagian sembako di kalangan mahasiswa. Menurutnya, pembagian ini sebetulnya bukan ditujukan untuk seluruh mahasiswa yang masih ada di Malang, melainkan bagi mahasiswa yang hanya benar-benar membutuhkan saja.

“Kan ini sebenarnya bukan semua mahasiswa UB bisa dapat, bukan kayak gitu. Tapi mahasiswa yang merasa perlu bantuan boleh mendaftar. Bukan semuanya berhak mendapatkan, enggak,” jelasnya.

Prosedur yang Sempat Membingungkan

Sebelumnya, awak Kavling10 sempat mewawancarai salah seorang mahasiswa yang memberi komentar mengenai bantuan sembako yang dibagikan UB. Vivi Wulandari, mahasiswi jurusan Ilmu Politik angkatan 2016, mengaku telah mengisi form sejak dua minggu sebelumnya dan belum menerima bantuan hingga saat diwawancarai oleh awak Kavling10 pada (4/5).

“Kayaknya masih banyak yang belum kebagian, deh. Soalnya kan kemarin (3/5) nih  di grup LINE tadi ngasih kabar katanya besok ada pembagian sembako lagi (5/5). Terus banyak yang tanya ‘Itu caranya gimana?’, ‘Ini udah ngisi form belum?’ dan lain-lain. Berarti kayak kalo dilihat kan emang banyak juga yang belum dapet kan sembako. Setahu saya yang belum dapet kayak gitu,” jelas Vivi.

Menurut Vivi, alur pembagian bantuan sembako yang kurang jelas membuatnya kebingungan. Ia juga menambahkan, walaupun bantuan sembako dibagikan secara bergiliran, pihak UB sebaiknya memprioritaskan mahasiswa yang membutuhkan berdasarkan data yang ada supaya didahulukan pembagiannya.

“Harus ada kasih kepastian gitu, loh. Karena kitanya juga butuh kan. Kalau soal-soal yang kayak gitu kan butuh banget. Apalagi (Malang, red) sudah mulai sepi,” ungkapnya.

Giovanni sendiri menjelaskan memang sempat beberapa kali terjadi perubahan prosedur pengiriman atau pengambilan bantuan sembako. Awalnya bantuan sembako diantar langsung ke tempat tinggal mahasiswa di Malang. Cara itu kemudian diganti dengan cara menghubungi mahasiswa penerima bantuan sembako terlebih dahulu. Sekarang, mahasiswa dapat langsung mengambil bantuan sembako di GKM.

“Awalnya kita mengedepankan safety-nya. Tapi cara-cara tadi sempat diprotes sama mahasiswa karena memakan waktu lama. Mau gak mau akhirnya mengubah sistemnya supaya pembagiannya lebih cepat,” imbuhnya.

Menanggapi hal tersebut, Eva memberikan keterangan mengenai mahasiswa yang belum memperoleh atau bahkan belum mengetahui soal bantuan sembako dari pihak UB. Ia mengatakan bahwa mahasiswa-mahasiswa yang membutuhkan sembako bisa langsung datang ke GKM (Gedung Kebudayaan Mahasiswa) untuk mengambil bantuan.

“Sebenarnya kalau bingung dan ngomong langsung ke saya, saya langsung suruh ke sini (GKM, red), saya suruh ambil. Tapi yang bener-bener membutuhkan. Maksudnya kami itu bukan untuk memberikan anak-anak yang ada di Malang, tetapi yang bener-bener membutuhkan,” ujar Eva.

Wacana Penambahan untuk Hari Raya

Paket bantuan sembako yang diberikan oleh UB ditaksir bernilai 200 ribu rupiah per paket. Isi paket tersebut bermacam-macam dan biasanya terdapat perbedaan isi pada setiap gelombangnya. Untuk paket yang dibagikan pada gelombang kelima berisi 5 kilogram beras, 20 bungkus mi instan, 6 butir telur, 10 bungkus minuman sereal, 1 bungkus abon sapi, 1 botol kecil kecap manis, dan 1 kaleng ikan sarden.

Sumber dana terkait bantuan sembako berasal dari beberapa sumber. Gelombang pertama sampai ketiga berasal dari donasi yang dikumpulkan oleh Ikatan Alumni (IKA) UB dan Badan Amil Zakat, Infaq, dan Shadaqah (BAZIS) UB. Sementara gelombang keempat dan kelima menggunakan dana dari pemotongan insentif Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang ada di UB sebesar 2,5%.

Selain untuk bantuan sembako, insentif PNS tersebut juga dialihkan untuk hal-hal lain. “Banyak. Ada untuk Satgas Covid-19 UB, untuk yatim piatu, untuk Lingkar UB, sampai untuk warung-warung dan masyarakat sekitar UB yang terdampak,” jelas Eva.

Menjelang hari raya, Eva mengatakan bahwa Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan sudah menawarkan penambahan 500 paket untuk hari raya. Namun wacana terkait ini masih belum ditindaklanjuti lebih lanjut hingga Selasa (12/5) lalu.

“Iya, Pak WR sudah menawarkan. Ditawari Pak WR lagi 500 setelah Hari Raya. Kalo iya, ya nanti aku ya bilang ‘iya’. Jadi kami kerja sama dengan Advokesma EM,” pungkasnya.

Penulis: Salsabila Raihani, Ranti Fadilah
Kontributor: Hamim Maulana Rahman
Editor: Abdi Rafi Akmal

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.