Seekor kucing di depan FH sedang memakan pakan yang diberi oleh ranger Sakuba. Foto: Abdi

MALANG-KAV.10 Kalau ada pertanyaan, “Berapa kira-kira jumlah kucing yang ada di UB?”, saya kira satu-satunya orang yang bisa menjawab cukup tepat dan (bisa jadi) mendekati jumlah sebenarnya adalah Muhammad Rifki Fauzi. Mahasiswa dari FMIPA angkatan 2016 ini tidak hanya tahu jumlah kucing, tetapi juga bertemu dengan hampir seluruh kucing yang ada di UB.

Ketika pertanyaan tadi dilontarkan, Rifki berkonsentrasi penuh. Tatapannya sesekali ke atas, berusaha mengingat-ingat dengan pasti. Ia mencoba menjumlahkan setiap kucing yang pernah ditemuinya. Begitu dirinya yakin sudah mendata seluruh kucing, ia dengan tegas menjawab, “Totalnya ada 68 ekor kucing. Itu belum ditambah kucing-kucing baru yang saya temui itu”.

Saya terkesima.

***

Sambil menjinjing plastik pakan kucing, Rifki menyusuri trotoar di sekitar gedung Biologi FMIPA. Ia hafal betul titik-titik di mana kucing liar biasa ditemukan. Ia juga tahu bagaimana menarik perhatian para kucing.

“Mingg …,” serunya berkali-kali. Saya mengikuti caranya. Ia menggoyang-goyangkan pakannya hingga berbunyi. Saya pun menirunya.

Tak berapa lama, seekor kucing berwarna oranye yang tadinya sedang rebahan langsung bangkit. Kucing itu merespons panggilan tadi, berlari kencang mendekati sumber suara. Rifki menuangkan pakan tersebut secara sembarang: di trotoar, di jalan, dan di manapun tempat kucing bisa menjangkaunya. Sembari menuangkan pakan, ia mengelus-elus kucing oranye tadi.

“Kucing tuh biasanya gak hanya perlu makan, mereka juga perlu belaian, perlu kasih sayang,” jelasnya dengan antusias. Bak seorang raja, kucing oranye itu terlihat sangat menikmati momen ketika badannya diusap, sementara mulutnya asyik mengunyah makanan.

Dari sudut lain, seekor kucing lainnya muncul. Berbeda dari kucing oranye tadi, kucing putih-hitam ini tidak berani mendekat langsung. Ia sepertinya lebih penakut. Meski ketakutan, ekspresi wajah dan gerak tubuhnya tetap menunjukkan antusiasme besar. Ia sangat menunggu-nunggu pakan yang kami bawa untuk segera dituangkan.

“Nah, kalau kucing yang itu emang gak berani mendekat. Ada kucing yang takut sama kita, ada juga yang enggak,” jelas Rifki kepada saya.

Saya yang baru pertama kali memberi makan kucing liar bingung harus bagaimana. “Gapapa mas, pakannya dituang aja di situ. Nanti kalau kita tinggalin dia makan kok,” lanjutnya.

Selepas itu, kami berdua melanjutkan perjalanan mengelilingi UB: dari Gedung Biologi FMIPA menuju Sentra Parkir Bersama di FPIK, Gedung Fapet, Gedung Teknik Elektro FT, Fakultas Hukum, Rusunawa FISIP, Tempat Parkir Gedung Teknik Mesin FT, Gerbang Soehat, Gedung UKM, dan terakhir Gedung E Filkom.

Founder Sahabat Kucing Brawijaya (Sakuba) UB Muhammad Rifki Fauzi sedang memberi makan dua ekor kucing yang ditemuinya di FAPET. Foto: Istimewa.

Nasib kami tidak selalu mujur untuk bisa bertemu dengan para kucing. Ada kalanya, kucing-kucing yang biasa berada di lokasi tersebut tidak muncul sama sekali. Meskipun kami telah sekuat tenaga memekikkan “Miingg … “ berulang kali.

“Biasanya tuh di sini ada kucing, Mas. Ada juga yang kecil-kecil. Cuma sekarang mungkin lagi main ke luar atau cari makan ya,” kata Rifki. “Yasudah, Mas, kita lanjut aja”.

Sepanjang perjalanan mendatangi lokasi-lokasi tadi, kami berdua akan berhenti dan menghampiri setiap kucing yang kami temui di jalan. Di lokasi sekitar FISIP dan FT, kami bertemu dengan seekor anak kucing. Kucing yang ini berteriak terus begitu kami panggil dan mengeluarkan pakan cair.

“Yang ini saya baru ketemu nih mas. Biasanya cuma ada kucing gede di sini,” kata Rifki sambil terus memencet pakan cair keluar tadi bungkusnya untuk dinikmati kucing tadi.

“Biasanya kalau yang kecil begini berarti ada induk dan saudaranya yang lain nih, Mas,” ucap saya menimpali. Saya mencoba memanggil, berharap kucing-kucing lainnya keluar. Sayangnya, usaha saya tidak berhasil.

Sore itu, 2 kg pakan kering ludes dicicip oleh puluhan kucing yang kami temui. Jumlah yang sama yang biasa dihabiskan Rifki setiap kali ia turun lapang untuk memberi makan kucing pada sore hari.

Perjalanan kami berakhir ketika azan Magrib berkumandang. Dua jam berlalu begitu saja tanpa saya sadari. Waktu bahkan terasa lebih cepat berlalu daripada saat mendengarkan materi di kelas, pikir saya. Dari Gedung E Filkom, kami kemudian menuju tempat tinggal Rifki di FMIPA, tepatnya di ruang Takmir Masjid Nurul Ilmi FMIPA. Katanya, ia sudah tinggal di sana semenjak semester tiga. Di sana, saya kembali bercengkrama soal aktivitasnya ini.

Pembentukan Sakuba

Kegiatan memberi makan kucing-kucing di UB ternyata sudah sejak lama Rifki lakukan ketika aktif sebagai anggota dan pengurus Korps Suka Rela (KSR). Ia dan seorang temannya terbiasa memberi makan kucing besar berwarna kuning yang biasa tinggal di Gedung UKM. Iluk, nama kucing tersebut. Selain di Gedung UKM, Rifki juga merawat dan memberi makan “kucingnya” yang ada di FMIPA, di sekitar ruang takmir. Kalau kucing yang ini, namanya Coy.

Muhammad Rifki Fauzi, FMIPA 2016, telah lama mendedikasikan dirinya memberi makan kucing-kucing yang ada di UB. Berawal dari lingkup UKM dan FMIPA, kemudian mulai melebar hingga seluruh UB. Foto: Istimewa.

Masa pandemi dan kebijakan kuliah daring kemudian mengubah aktivitas kesehariannya. Ketika masuk masa UTS, Rifki berinisiatif untuk tetap memberi makan kucing-kucing yang ada di FMIPA dan UKM.

“Jadi selama UTS kemarin kan gak banyak kegiatan. Ya saya paling Cuma bisa kasih makan (kucing, red) yang ada di FMIPA sama yang ada di UKM. Terus kan kalau lagi jalan ke sana (Gedung UKM, red), misal ketemu kucing, saya kasih. Jadi gak muter se UB. Lagipula kan karena kondisi budget yang gak banyak,” jelasnya.

Tanpa disadari, ada mahasiswa lain yang melakukan aktivitas serupa seperti apa yang dilakukan Rifki. Namanya Royyan, mahasiswa FAPET angkatan 2016. Mereka berdua awalnya saling tidak mengetahui bahwa ada orang lain selain diri mereka sendiri yang memberi makan kucing-kucing. Seperti sebuah dongeng, dua orang dengan misi mulia kemudian ditakdirkan untuk bertemu.

Pertemuan tersebut membuat perbincangan mengenai aktivitas memberi makan kucing menjadi lebih intens. Mereka berdua kemudian menyepakati beberapa hal: Pertama, mereka perlu banyak orang untuk bisa bergabung memberi makan kucing; Kedua, membuat komunitas; Ketiga, menggalang donasi.

11 April 2020, akun Instagram resmi komunitas yang bernama Sahabat Kucing Brawijaya UB (@sakubaub) dibentuk sekaligus menjadi momen kelahiran komunitas. Akun tersebut menjadi wadah untuk menyebarluaskan informasi mengenai penggalangan donasi dan dokumentasi pemberian makan kucing.

“Sebenarnya, kalau untuk Sakuba sendiri, baru bulan April melakukan publikasi di media sosial. Tapi kalau secara pribadi, kita menganggap menjadi sahabat untuk kucing yang senang kasih makan sudah dari lama,” papar Rifki.

Publikasi mengenai kegiatan dan informasi penerimaan donasi sudah digalakkan akun yang sekarang telah memiliki 142 pengikut ini. Donasinya beragam, bisa berupa uang yang ditransfer ke rekening Rifki atau salah satu temannya, bisa juga berupa pakan kucing.

Sehari setelah informasi penerimaan donasi disebarluaskan, Wakil Rektor I UB Aulanni’am juga turut memberi donasi berupa 7 kg pakan kucing. Selain itu, donasi-donasi lain juga terus berdatangan dari berbagai pihak. Dari konfirmasi terakhir saya pada Selasa (5/5) lalu, jumlah uang yang sudah masuk mencapai 600 ribu rupiah.

Pemberian donasi ini sangat berarti bagi Rifki dan komunitasnya. Ia tahu betul bahwa dana pribadinya sangat terbatas, sehingga tidak mencukupi untuk membeli pakan secara terus menerus. Namun, donasi tersebut membuat komunitas ini senantiasa hidup.

Hingga saat ini, anggota komunitas Sakuba belum lebih dari 10 orang. Mayoritas anggotanya adalah teman-teman dekat Rifki. Perihal keanggotaan ini, Rifki mengingatkan saya bahwa anggota komunitas dipanggil dengan sebutan ranger.

“Oh iya, kita di sini (Sakuba, red) itu sebutannya ranger,” papar Rifki.

Pasang Rencana untuk Sakuba

Sakuba memang belum lama berdiri, tetapi Rifki dan para ranger telah menyiapkan sejumlah langkah yang ingin direalisasikan ke depannya. Ia mencontoh komunitas di salah satu perguruan tinggi negeri, ITB Street Feeding, yang memiliki program “sensus, steril, adopsi”.

Langkah pertama yang ingin segera dilakukan Rifki adalah pendataan seluruh kucing yang ada di UB. Prasyarat untuk menjalankan langkah ini, menurutnya adalah dengan memperkuat komunitas. Dengan kata lain, memperbabnyak jumlah ranger. Data yang telah terkumpul dapat menjadi acuan bagi para ranger untuk mengidentifikasi kucing yang perlu perawatan.

‘Keluarga’ kucing di FH. Foto: Abdi

Setelah pendataan itu selesai, Rifki berencana untuk melanjutkan ke langkah kedua, yakni open adopsi. Para adopter dapat menggunakan data tersebut untuk memilih kucing mana yang ingin mereka adopsi.

Perihal adopsi, Rifki juga berencana untuk melakukan sterilisasi terhadap kucing-kucing yang akan diadopsi. Itupun apabila disetujui oleh adopternya. Tapi ini masih dalam rencana jangka panjang. Ia menjelaskan akan merinci prosedur mengenai adopsi terlebih dahulu. Ia tidak ingin ‘adopsi’ dilakukan hanya sebatas mengikuti mood para adopter. Sebaiknya, ia menambahkan, adopsi seharusnya menjadi cara bagi kucing-kucing mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

“Nanti akan ada SOP-nya. Jadi bukan karena lagi mood terus adopsi, setelah adopsi malah ditaruh lagi. Harapannya benar-benar diadopsi dan semoga mengurangi populasi kucing di sini,” ujarnya serius.

Langkah terakhir yang cukup besar, Rifki mengatakan “ingin meng-goal-kan Rumah Kucing Brawijaya”. Sebuah tempat untuk bisa merawat kucing-kucing yang hidup di UB. Kehadiran Rumah Kucing Brawijaya diharapkan dapat memberi kehidupan bagi para kucing.

Ia dan para ranger lainnya tidak ingin kehadiran kucing di UB tidak diperlakukan dengan baik. Katanya, minimal diurus dan dikasih makan. Oleh karena itu, ia berharap tiga langkah rencana tersebut dapat direalisasikan sesegera mungkin agar populasi kucing di UB tidak terlampau banyak.

“Kucing itu nggak usah banyak, tapi yang penting kita bisa konsisten peduli sama mereka dan merawat mereka,” ujarnya.

Untuk itu, ia ingin mengingatkan kepada siapa saja untuk berbuat baik terhadap kucing. Berbuat baik terhadap kucing bisa dilakukan tanpa harus terjun lapang seperti yang dilakukan dirinya. Menurutnya ada hal-hal lain yang bisa dilakukan seperti membranding hal-hal positif, seperti mengedukasi orang lain terkait dengan dunia perkucingan.

Meski begitu, Rifki juga tidak menampik ada orang-orang yang tidak bisa berada di dekat kucing. Ia berpesan cukup menjauh atau kucing itu yang dijauhkan, tidak perlu sampai harus berlaku kasar kepada kucing.

Sampai saat ini, ia mengaku masih betah melakukan aktivitas memberi makan kucing setiap sore hari. Satu-satunya alasan yang membuat dia bertahan adalah kebahagiaan –kebahagian yang bagi sebagian besar orang dianggap biasa saja.

Bagi Rifki, kebahagiaan yang membuatnya bertahan adalah “melihat kucing makan dengan lahap, hingga mengeluarkan suara ‘krauk-krauk’”.

“Capek gak, Mas?” saya bertanya ke Rifki.

“Nggak, malah bahagia. Melihat mimik mereka, lalu lari-lari waktu kita dateng itu seneng banget,” kata Rifki dengan wajah cerianya.

Penulis: Abdi Rafi Akmal
Editor: Priska Salsabiila

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.