Kantor Polres Malang Kota. Sumber: Liputan6

MALANG-KAV.10 Polresta Malang Kota melakukan penangkapan dan penahanan terhadap tiga aktivis yang berinisial AFF, MAAS, dan SR. AFF ditangkap di kediamannya di Kabupaten Sidoarjo pada Senin (19/4) malam, sedangkan MAAS dan SR ditangkap keesokan harinya di Kabupaten Malang.

Tindakan penangkapan tiga aktivis oleh Polresta Malang Kota mendapat kecaman dari sejumlah LBH (Lembaga Bantuan Hukum). Di dalam rilis persnya, YLBHI, LBH Surabaya, dan LBH Pos Malang menilai polisi telah melakukan tindakan tidak demokratis, tidak menghargai hak warga negara, serta cacat prosedur hukum.

“Tindakan penahanan ini tidak mencerminkan profesionalitas polisi sebagai penegak hukum yang melakukan tindakan penangkapan dan penahanan tidak sesuai aturan yang ada,” jelas pengacara dari LBH Surabaya, Jauhar Kurniawan seperti dilansir dari ngopibareng.id.

Ketiganya ditangkap tanpa ada surat penahanan yang jelas. Selain itu,alasan penahanan belum kuat karena berbasis dugaan yagn spekulatif tanpa disertai bukti yang jelas pula.

“Informasi dari pihak keluarga, salah satu ini dijemput pihak kepolisian mengatakan sebagai saksi. Namun, tidak disertai dengan surat pemanggilan. Saat dibawa memang ditunjukkan surat, namun tidak terdapat nama dari tiga pemuda ini,” jelas Jauhar kepada JatimTIMES.

Padahal, secara normatif dalam Pasal 18 Ayat (1) KUHAP disebutkan, “Pelaksanaan tugas penangkapan dilakukan oleh petugas kepolisian negara Republik Indonesia dengan memperlihatkan surat tugas serta memberikan kepada tersangka surat perintah penangkapan yang mencantumkan idetntias tersangka dan menyebutkan alasan penangkapan serta uraian singkat perkara kejahatan yang dipersangkakan serta tempat ia diperiksa.”.

Sementara ini, ketiga pemuda telah dinaikkan statusnya menjadi tersangka dengan Pasal 160 tentang Penghasutan. Pasal ini merupakan delik materil, yaitu tindak pidana dinyatakan terjadi jika telah ada akibatnya. Ini berarti jika seseorang dikenakan pasal tersebut sebelumnya sudah harus ada akibat yang terjadi, baru bisa disebut tindak pidana.

Di dalam rilis persnya, LBH menilai apa yang dilakukan polisi telah bertentangan dengan azas keadilan. Mereka menilai polisi telah memperlakukan ketiga pemuda seperti seorang teroris. Padahal, ketika ditangkap di rumah masing-masing, ketiga pemuda tersebut kooperatif dan bekerja sama dengan baik.

Sebelumnya, ketiga pemuda tersebut ditangkap dengan dugaan aksi vandalisme yang terjadi pada 6 titik di Kota Malang. Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Leonardo Simamarta mengatakan terus melakukan pengembangan untuk mencari tersangka lainnya.

“Di Jawa Timur, baru Kota Malang yang menangkap pelaku atau eksekutornya,” katanya seperti dilansir Malangpostonline.com.

Pada konferensi pers pagi tadi (22/4), pihak Polresta Malang Kota menjelaskan bahwa ketiga pemuda tersebut melakukan perusakan properti atau milik orang lain atau melakukan coret-doret dinding dengan kata-kata berbau provokatif.

“Motifnya adalah pelaku tidak menerima atau memprovokasi masyarakat untuk melawan kapitalisme yang meresahkan,” ujarnya.

Dilansir dari JatimTIMES, pihak Polresta Malang Kota belum memberikan komentar terkait penangkapan yang tidak sesuai prosedur. Awalnya pihak polisi baru akan memberikan keterangan pada konferensi pers pagi tadi. Namun, tidak ada komentar lebih lanjut yang disampaikan.

Penulis: Abdi Rafi Akmal, Gemilang Ayu Maulida
Editor: Ima Dini Shafira

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.