ilustrasi: Salsabila Raihani

Penulis: Agung Mahardika

Tidak banyak yang tahu kalau dia seorang demonstran. Orang lebih mengenalnya sebagai penulis. Namanya sudah cukup sering muncul di banyak media daring maupun cetak. Dia rajin menulis di blog pribadi, media daring, bahkan koran. Tulisannya bisa dikategorikan tulisan yang bagus, yaitu tulisan yang menggairahkan dan mengerakkan pembaca. Dia menulis tentang sosial politik, kebudayaan, sastra, bahkan juga  karya sastra seperti puisi atau cerpen – yang pernah dimuat di koran nasional, koran Arah. Tulisannya dekat sekali dengan pergerakan mahasiswa, buruh, kaum tertindas, tema cerpen-cerpennya juga demikian. Menulis adalah bekerja untuk keabadian, katanya ketika ditanya tentang alasannya aktif menulis.

Dia mahasiswa Sastra Indonesia yang sekaligus menjadi asisten dosen mata kuliah-mata kuliah sastra. Dia adalah Pamuji, teman dekatku, bahkan sangat dekat. Dia orang yang mengenalkanku tentang dunia pergerakan, perjuangan kelas, bahkan aku tahu banyak tentang sastra dan filsafat darinya. Dia juga dermawan untuk segalah hal: pengetahuan, keringat, bahkan materi.

Lain hal dengan Shinta, baginya Pamuji seperti teka-teki silang di koran dan majalah, sosok yang tidak pernah dapat dimengerti Shinta. Dia sulit ditebak dan selalu mengejutkan. Shinta juga bingung siapa sebenarnya orang terkasihnya itu. Dia tahu dan bisa banyak hal – itu juga yang membuat Shinta mengaguminya.

“Muji, kalau aku tanya kamu itu siapa, kamu bakal jawab apa?” tanya Shinta suatu hari ketika berjalan pulang dari kampus selesai kuliah.

Tangan kiri Pamuji memegang kepala Shinta yang kemudia diarahkan ke tubuhnya dan mencium dahi Shinta

“Aku orang yang selalu mengagumi dahi jenongmu, Shiinta”, ucap Pamuji yang dilanjut dengan cekikikan sendiri.

“Kamu kan asisten dosen, prestasimu juga banyak. Berarti kamu itu akademisi, Muji,” ucap Shinta sambil mengacungkan jari telunjukknya ke arah Pamuji seolah-olah apa yang diucapkan itu benar.

“Salah.” Jawab Pamuji sambil menggeleng dan kemudian dilanjutkan melengoskan wajah ke arah samping yang berlawanan dengan posisi Shnta.

“Kok bukan”

“Aku bukan intelektual tradisional yang pekerjaannya cuma meneruskan dan mengulang sejarah. Realitasnya masyrakat ingin menulis sejarah baru dan menjalani hari esok yang sedikit lebih bisa dibanggakan, Shinta.”

“Kamu sastrawan?”

“Tidak,” Pamuji menjawab sambil mengambil kotak rokok yang terselip di depan paha kanannya.

“Tapi kamu kan banyak menulis cerpen, terbit di koran juga. Terakhir kamu juga bilang kalau kumpulan cerpenmu katanya mau dibukukan.”

Pamuji membakar ujung rokok lalu menghembuskan asapnya ke udara, “Sastrawan sekarang terlalu romantik, Shinta. Dan aku tidak demikian.”

“Kalau aku sebut aktivis gimana?”

“Sekarang sudah tidak ada aktivis, Shinta. Kamu tahu Budiman Sudjatmiko, Andi Arief, Ratna Sarumpaet?” Shinta menggangguk. “Apakah mereka bisa disebut aktivis?”

Shinta agak cemberut dan menggeleng dengan kepala tertuju ke kerikil-kerikil di trotoar kampus yang dilaluinya.

“Aktivis hanya istilah yang hilang sejak 98 ditragedikan, Shinta.”

“Terus siapa dirimu?” Tanya Shinta dengan raut muka agak kesal dan masih menunduk mengamati kerikil-kerikil.

“Aku Pamuji. Aku seorang demonstran. Aku orang yang selalu melawan. Bukankah yang melawan yang menang, Shinta?” Shinta tidak menanggapi, “Kata Pram kita mesti lawan dengan sehormat-hormatnya, Shinta.”

Shinta enggan menanggapi. Kata yang diucapkan kekasihnya itu memang sering membuatnya tersihir dan tidak tahu kata apa yang layak diucapkan untuk menanggapinya.

“Yang pasti aku itu kekasihnya Shinta” lanjut Pamuji sambil meraih bahu kiri Shinta yang membuat bahu mereka bersentuhan dan kemudian melanjutkan perjalan pulang ke indekos masing-masing.

Bagi Shinta, Pamuji juga sosok yang eksentrik. Kamis malam – malam Jumat – adalah waktu yang selalu digunakan Pamuji untuk berkencan dengan Shinta. Suatu malam Jumat Shinta menanyakan alasannya mengapa memilih hari Jumat untuk berkencan.

“Kenapa kok selalu malam Jumat gini, Muji?”

“Kan aku enggak mau mengganggu malam Minggumu, Shinta”

“Maksudmu?”

“Kamu kan bisa rapat organisasi, bermain dengan teman-temanmu, atau mungkin kamu ingin menghabiskan malam Minggumu di indekos dengan menonton film, membaca buku, atau cuma tiduran dan mencari ketenangan, bukan?”

 “Tapi kalau sudah ada janji sama kamu, aku kan bisa menolak itu semua. Bahkan aku juga bisa menolak untuk di indekos aja.”

“Kan aku belum tentu lebih penting dari teman-temanmu, organisasimu, atau mood-mu yang membutuhkan ketenangan setelah berlelahan selama sepekan”

“Kamu penting, Muji. Sangat penting.”

“Shinta, teman itu sangat penting. Aku memang selalu ada untuk kamu, tapi teman-temanmu bisa lebih dari itu, bukan?” Shinta diam sambil menatap wajah yang seperti tulang dan sebuah kulit yang ditempelkan begitu saja. Wajah yang sekilas tidak ada daging yang menggumpal sedikit pun di dalamnya.

Pamuji selalu menjemput Shinta di indekosnya dengan motor yang ia sebut sebagai kereta kencana yang telah kehabisan roda. Untung masih sisa dua rodanya, begitu katanya acapkali memperkenalkan motornya, supra fit biru keluaran 2007. Dia memberi nama mortornya Cicit.

“Kenapa namanya kok Cicit?” suatu hari tanyaku tentang nama motornya.

“Karena pas aku ngerem bunyi kampas remnya itu Cicit..cit..cit..cit” sambil tertawa setelahnya.

Selera humor Pamuji memang humor-humor yang lumayan tinggi. Kemampuannya menciptakan tawa merupakan satu dari banyak hal yang membuat Sinta selalu nyaman bersamanya. Di balik sisi humoris Pamuji, ada sisi lain darinya yang menyeramkan bagi Shinta: tubuh kurus tinggi, rambut keriting gondrong yang ujungnya berwarnah merah marun, dan celana sobek di bagian, lutut, paha, bahkan di bagian pantat pun sedikit berlubang karena sudah terlalu renta usia celananya.

Berbeda dengan kebanyakan orang, sebagai demonstran dia selalu turun aksi sendiri. Dia mengamati, menganalisis, turun ke jalan sendiri dan lalu bergabung dengan siapa pun yang didapatinya, yang tentunya selalu penuh kehati-hatian. Beberapa hari sebelum Pamuji berangkat aksi, dia makan bersama Shinta di kantin kampus setelah Shinta menunnggu satu jam dan Pamuji usai mengisi sebuah kelas mata kuliah sastra. Sore itu seperti waktu sebelumnya-sebelumnya yang selalu bisa membuat Shinta khawatir.

“Kenapa kok begitu? Kan kamu bisa berangkat bareng teman-temanmu yang anak organisasi, to?” tanya Shinta setelah mendengar ucapan Pamuji yang pamit akan turun aksi.

“Jiwa yang sendiri adalah jiwa yang paling berani, Shinta” katanya mengutip salah satu tokoh

“Tapi itu bahaya, Muji. Itu di Jogja, lo. Jauh. Kamu juga enggak tahu kondisi lapangannya”

“Aku rasa soal keringat, darah, bahkan nyawa pun yang keluar dari tubuh tak pernah luput dari catatan-Nya. Insyaallah niatku berada di pihak-Nya, Shinta”

***.

Jumat siang Shinta membaca berita yang sedang ramai: pada aksi penolakan bandara NYIA di Yogyakarta dinyatakan ada tiga korlap diculik, puluhan demonstran hilang entah ke mana, dan korban terluka dari mahasiswa maupun jurnalis tak terhitung jumlahnya. Pamuji tidak ada kabar, entah kepadaku atau Shinta. Malamnya Shinta mengajakku bertemu di warung kopi. Aku mengiyakan ajakannya. Aku juga sudah tahu kalau Shinta akan membicarakan Pamuji yang sudah dua hari tidak ada kabar. Shinta sudah menungguku di meja paling kanan dan paling ujung dalam. Teh yang beridiri di mejanya nampak terlalu manis untuk bersanding dengan wajahnya yang kecut dan nasib yang pahit. Cinta yang dibalut kekhawatiran telah meremukkan segala yang ada di wajahnya. Orang yang paling dicintainya tidak ada kabar, berita orang diculik, hilang, dan terluka yang mungkin adalah dia – orang yang paling dicintainya, Pamuji. Lengkap sudah.

“Dhik, kamu tau kan dia pergi ke mana?”, tanya Shinta.

“Iya, tiga hari yang lalu dia bilang mau ke Yogyakarta”

“Dia bilang apa aja?”

Aku kate nang Jogja, Slur, Malang cupu, gitu katanya.”

Shinta masih dengan wajah berkaca-kaca dan air mata yang dari tadi terlihat sudah tidak sabar untuk keluar dari hulunya.

“Dia enggak bilang apa-apa ke kamu, Shin?”

“Selasa malam dia bilang kalau aku jangan chat dia lagi. Katanya aku terlalu bahaya untuk berhubungan dengan dia. Cuma itu, Dhik.”

Malam itu Shinta menjadi wanita paling patah hati di dunia. Memang tidak ada setetes pun air mata yang berlinang dari matanya – dia sangat segan untuk menangis di depanku – namun tak perlu teliti betul melihatnya untuk tahu kalau dia sedang bersedih. Tatapan mata, cara hidung kembang kempis, beberapa gerakan bibir, semua penyusun wajah Shinta menyaratkan kesedihan. Dengan penuh kesedihan matanya memperhatikan setiap sudut warung kopi. Hingga akhirnya Shinta menumpahkan air matanya di lampu, lukisan, mata pengunjung, dan nyamuk yang terbang di sudut-sudut warung kopi.

Malang, 2020

Cerita untuk ATH Pamuji

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.