Penulis: Octavio Benedictus

Sudah seminggu lebih Pakde Owi menghimbau rakyatnya supaya kerja dari rumah. Maksudnya sih baik, supaya virus Corona ini atau SARS-Cov-2 nggak terus-terusan menyebar. Tapi apakah bisa diterima oleh semua orang?

Jelas nggak semua pekerja bisa mengiyakan himbauan ini, sob! Banyak profesi yang mengharuskan si pekerja hadir langsung alias gak bisa diwakilin buat mengerjakan tugas dan tanggung jawabnya. Salah satunya dan gak bisa ditawar adalah profesi sebagai petani.

Seorang petani tuh sudah jelas gak bisa #workfromhome. Dia harus pergi ke lahan garapannya buat bercocok tanam, melihat kondisi dan merawat tanamannya seperti malika *kedelai pilihan*.

Tapi semisal ada paksaan dari yang berkuasa agar semua petani tidak boleh ke lahan alias harus #dirumahaja supaya gak kepapar virus Colorna ehhh Corona, bagaimana dengan nasib perut kita? Nasib perut para dokter dan paramedis yang berjuang di garda terdepan? Nasib perut para penimbun masker?

Sejak Pakde Owi mengumumkan kasus pertama Virus Corona di Indonesia, selang beberapa hari tiba-tiba orang mendadak seperti Bulog, menimbun bahan pangan. Anggapan bahwa orang-orang Indonesia adalah orang yang ramah, suka menolong, suka berbagi, buyar seketika. Tiba-tiba orang jadi sigap dan serakah memborong bahan-bahan pangan di pasar-pasar terdekatnya.

Nah, sikap orang-orang Indo yang memborong bahan-bahan pangan tersebut atau istilah kerennya punic buying secara cepat dan dalam jangka waktu yang pendek akan “mengambyarkan” situasi pasar bahan pangan itu sendiri lho!

Secara teoritis terjadi demand shock inflation atau inflasi yang terjadi karena kenaikan permintaan konsumen yang terlalu pesat dibanding produksi suatu barang. Dampaknya? Harga naik gak kira-kira.

Lihat saja harga jahe merah di Kota Jakarta, udah melonjak kegirangan dari awal Maret. Sudah nembus 90 ribu rupiah per kilo, sob! Dari awalnya cuma 50 ribuan per kilo. Bukan Cuma jahe merah, keluarga bawang-bawangan juga kena. Bawang putih sama bawang merah, meroket ket ket harganya.

FYI ges, tau nggak kenapa orang pada ngeborong jahe merah, bawang merah, sama bawang putih?  Jadi, di grup WA keluarga, grup arisan ibu-ibu, perkopian bapak-bapak, dan sejenisnya, betebaran informasi kalo barang-barang itu bisa nangkal corona ges… Masa iya? hahaha

Kembali ke laptop! Tadi kita udah lihat betapa nyatanya demand shock inflation di tengah wabah corona.Harga bahan pangan di pasaran naik gila-gilaan. Kondisi ini bisa semakin parah kalau misalnya para petani pada nggak memproduksi bahan pangan  sob!

Saat petani secara serentak pada nggak nyawah, nggak nggarap lahan, kita sebagai konsumen bakal tambah stres lagi. Soalnya, akan terjadi yang namanya supply shock inflation atau inflasi yang terjadi karena guncangan kenaikan biaya faktor produksi yang pesat dibanding dengan produktivitasnya.

Dampaknya? Harga barang bisa jadi jauuuuh lebih mahal berkali-kali lipat lagi. Ibaratnya sudah jatuh ketimpa tangga pula.

Jangan kira kamu doang yang stres, bulog juga ikutan stres, tahu! Mereka harus segera ngimpor barang-barang yang langka tersebut buat ngelindungin konsumen dari harga yang nggak waras.

Ngimpor? Sulit banget coy di situasi kayak gini. Pakde Owi aja udah merintahin buat memprioritaskan anggaran negara untuk pencegahan dan penanganan virus corona.

Jadi udah fix kan, kalau petani harus tetap nggarap lahan walaupun disituasi sulit kayak gini? Untungnya nih, corona lebih nggak mempan sama petani daripada kita-kita yang kerjanya tiktokan mulu.

Ane nggak asal nyeplak nih. Kita kan tahu pekerjaan sebagai petani itu harus keluar rumah, di alam, langsung kena sinar matahari. Ternyata selain buat ngeringin ikan asin, sinar matahari itu punya khasiat buat tubuh.

Beliau bisa mengubah provitamin D menjadi vitamin D. Vitamin D ini selain memperkuat tulang, juga mencegah beberapa penyakit mematikan sob! Para ahli bilang kalau berjemur belasan menit di bawah sinar matahari aja udah cukup. Lah kalau seorang petani?

Dari jam 6 pagi mereka dah berjibaku di lahan. Terus ntar sore balik lagi ke lahan Sehat bet sehat yak. Itulah mengapa petani punya daya tahun tubuh yang kuat untuk menangkal berbagai macam virus, termasuk colorna ehh… corona.

Nggak heran, saya pribadi nganggep petani layaknya karakter healer di clash of clans yang tugasnya ngasih heal ke temen-temen di depannya. Temen-temen yang selalu berada di garda terdepan buat ngehancurin base lawan tanpa takut mati. Teman-teman itu ialah paramedis yang terus berjuang melawan corona.

Moga-moga aja sih pemerintah segera merhatiin nasib para petani di tengah corona kayak gini. Jangan makin digalauin lagi dah. Seenggaknya dikasih arahan dan edukasi selama masa sulit gini, plus bantuan alat medis buat ngelindungin diri, kayak masker, antis, hand glove.

Petani adalah pahlawan di garis paling belakang, tidak terlihat, namun sangat mudah dirasakan kehadirannya dalam bentuk lain, seperti orang kentut.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.