Infografik/ Salsa

MALANG-KAV.10 Musyawarah Nasional (Munas) Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) pada 3-10 Februari 2020 lalu menetapkan Universitas Jember (UNEJ) sebagai Koordinator Wilayah (Korwil) Jawa Timur yang baru. UNEJ menggantikan UB yang sebelumnya selalu memegang posisi tersebut sejak tahun 2015 atau lima tahun berturut-turut.

UNEJ ditetapkan menjadi Korwil Jawa Timur melalui mekanisme musyawarah. Selain UNEJ, kampus lain yang juga sempat menjadi calon Korwil adalah Universitas Internasional Semen Indonesia (UISI).

“Kemarin saat Munas, UNEJ didorong dan didukung beberapa kampus untuk menjadi Korwil Jawa Timur. Dan kami sendiri memang siap untuk menjadi Korwil, lalu kami juga ajak yang lain untuk bergerak bareng-bareng,” kata Fairuz Abadi, Ketua BEM UNEJ 2020 melalui sambungan telepon, Jum’at (28/2) malam.

Presiden EM UB 2020 Muhammad Farhan Azis menegaskan, meskipun tidak lagi masuk dalam struktural di BEM SI, UB masih menjadi anggota tetap dan akan terus aktif di BEM SI.

“Peran kita memang berkurang karena di struktural kita gak jadi apa-apa lagi. Gak jadi Koordinator Pusat, Koordinator Wilayah, bahkan Koordinator Isu. Tapi, intinya di tahun 2020 ini UB tetap aktif sebagai anggota,” ucap Farhan.

Sekalipun tidak lagi memegang jabatan struktural di BEM SI, UB dipercaya menjadi penanggung jawab umum khusus Jawa Timur untuk isu Omnibus Law. UB bertugas menghimpun kajian dari seluruh universitas, lalu akan disampaikan kepada Gubernur Jawa Timur.

“Memang kita gak lagi menjadi Korwil, tetapi untuk hal-hal strategis, Brawijaya masih akan terus menampakkan eksistensinya. Kita akan ambil peran, makanya kita jadi Penanggung Jawab Umum. Jadi jangan sampai anggapannya kita gak melakukan apapun, itu salah,” ujarnya.

Farhan memperkirakan di awal Maret nanti, anggota BEM SI di Jawa Timur akan melakukan audiensi pasca mengeluarkan hasil kajian. Namun, ia belum bisa memberi kepastian apakah akan sampai pada tahap aksi atau tidak.

Presiden EM UB 2019 Azzam Izzudin menanggapi keputusan UB untuk tidak mengambil posisi stuktural di BEM SI sebagai sesuatu yang diperbolehkan. Menurutnya, Presiden dan Pengurus EM UB tahun ini punya hak untuk tidak terlibat di BEM SI.

“Menurut saya, sah sah aja kok. Meski lebih baik lagi kalau itu keputusan pengurus atau memang keputusan dari teman-teman eksekutif di Brawijaya,” jelasnya.

Ia menilai tidak ada untung atau rugi yang didapat UB ketika tidak masuk ke dalam struktural BEM SI. Namun, ia berharap UB mampu terus memberikan kontribusi, walaupun tanggung jawab sebagai pengurus BEM SI sudah tidak melekat pada UB.

“Bedanya di tanggung jawab. Kalau dari pengalaman saya, kita harus membagi porsi tanggung jawab menjadi pengurus di eksternal dan internal (BEM SI dan UB, red). Jadi sah aja tidak menjadi pengurus, selagi kontribusinya dijaga,” ujar Azzam.

Munas yang berlangsung selama 8 hari di Universitas Mataram, NTB, menetapkan Universitas Negeri Jakarta sebagai Koordinator Pusat, Universitas Djuanda sebagai Koordinator Media, dan Universitas Negeri Padang sebagai Koordinator Forum Perempuan.

Selain memilih koordinator inti, Munas juga menetapkan 11 Koordinator Isu dan 10 Koordinator Wilayah. Selanjutnya, masing-masing wilayah akan menyelenggarakan Musyawarah Kerja Wilayah pada bulan Maret dan Musyawarah Kerja Nasional pada bulan April di Universitas Andalas.

Penulis: Abdi Rafi Akmal
Editor: Priska Salsabiila

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.