Pemeriksaan suhu tubuh dengan thermal gun di FISIP UB. Foto: Faisal

MALANG-KAV.10 UB melakukan sejumlah langkah untuk mencegah penyebaran COVID-19 di lingkungan kampus. Upaya preventif yang tengah digalakkan di antaranya, penyediaan formulir khusus untuk diisi seluruh sivitas UB, pemeriksaan suhu tubuh sebelum memasuki gedung, penyediaan gel pembersih tangan, dan disinfeksi gedung.

dr. Eriko Prawestiningtyas mengatakan bahwa Tim Satgas Pencegahan dan Pengendalian COVID-19 UB mempunyai tim tracking khusus yang fungsinya melacak semua riwayat sivitas UB dalam 14 hari terakhir.

Tim Tracking sudah membuat dan menyebarkan Formulir Penapisan Risiko COVID-19 UB melalui Google Form dan diperuntukkan bagi seluruh sivitas UB.

“Semua sudah disebar bolak-balik supaya cakupannya merata dan semua ngisi. Kenapa harapannya semua ngisi? Biar kita tahu siapa saja yang butuh follow up,” katanya selaku Humas Tim Satgas COVID-19 UB.

dr. Eriko menyatakan, pengisian Google Form akan mempermudah pelacakan. Tim Tracking akan memantau sivitas UB yang mengunjungi lokasi terjangkit COVID-19 dan yang memiliki gejala. Mereka yang masuk dalam kriteria tersebut akan dicatat dan diprioritaskan untuk ditindaklanjuti oleh Tim Tracking.

“Nanti ditanya ada riwayat apa selama 14 hari ini. Terus riwayat yang sekarang bagaimana. Kalau tidak ada gejala serius, nanti diberikan edukasi,” jelasnya.

Edukasi yang diberikan berupa anjuran untuk self-quarantine, mengoptimalkan kewaspadaan diri, selalu menjaga kebersihan dengan mencuci tangan, menggunakan masker ketika badan kurang fit, dan disiplin menjaga jarak 1 meter.

Ia mengingatkan agar siapapun yang merasa memiliki gejala seperti batuk, pilek, dan demam untuk tidak langsung meminta tes COVID-19. Gejala tersebut, lanjutnya, cukup dibelikan obat terlebih dahulu.

“Kenapa kok gak boleh langsung ke rumah sakit? Karena belum tentu semuanya harus lari ke rumah sakit. Nanti kalau ada gangguan pernapasan atau sesak, yang artinya ada peningkatan, nah dari sini baru mulai ke rumah sakit yang sudah ditetapkan,” jelasnya.

Infografik/Priska

Langkah pencegahan penyebaran lain yang dilakukan UB adalah pengecekan suhu dengan alat pengukur suhu (thermal gun) pada setiap sebelum masuk gedung.

Prosedur ini tertuang dalam Surat Edaran Nomor 2911/UN10/TU/2020 tentang Tata Cara Masuk Gedung dan Penerimaan Surat, Barang, dan/atau Makanan di Lingkungan Universitas Brawijaya.

Seluruh sivitas akademika dan tamu akan mendapatkan pemeriksaan kesehatan lebih lanjut di Rumah Sakit Universitas Brawijaya (RS UB), apabila memiliki suhu badan lebih dari 38 derajat celcius.

Pihak RS UB mengonfirmasi prosedur tersebut. Humas RS UB Saza Azizah Anindyo mengatakan bahwa RS UB bisa menindaklanjuti sampai tahap isolasi. Jika nanti pasien dipastikan positif, pasien akan dirujuk ke rumah sakit rujukan untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut, dalam hal ini adalah Rumah Sakit dr. Saiful Anwar.

“Tim medis dan juga dokter dari RS UB yang nanti akan memutuskan pasien ini harus diisolasi atau dirawat atau juga dipulangkan. Jadi ada standard-standard sendiri yang nanti akan ditentukan oleh tim medis dari kami. Kalau dia memiliki gejala, itu akan kita isolasi dulu, ada beberapa penanganan yang bisa tim medis lakukan. Kalau memang iya, akan kita rujuk, karena kita tidak berhak merawat pasien COVID-19,” ujarnya.

Langkah lain yang dilakukan Tim Satgas adalah membuat Modul Training of Trainer untuk cleaning service terkait kebersihan gedung. Hal tersebut mencakup optimalisasi pengadaan gel pembersih tangan dan disinfeksi gedung. dr. Eriko menyampaikan bahwa UB mempoduksi gel pembersih tangan sendiri. Produksi dipimpin oleh FTP dan berkolaborasi dengan FP, FMIPA, FK, dan UB Forest.

Penulis: Priska Salsabiila
Editor: Abdi Rafi Akmal

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.