Foto: Arab News

Penulis: Octavio Benedictus

Apakah kamu pernah berkata, “Nggak usah pakai plastik mas!” saat menaruh barang belanjaanmu di meja kasir?

Jika iya dan di saat yang bersamaan kamu membawa kantong belanja plastik sendiri yang telah berulang kali kamu pakai, kamu telah melakukan apa yang dikehendaki Sten Gustaf Thulin!

Sebentar, memangnya kamu tahu Sten Gustaf Thulin? Bisa saya prediksi, hampir semua orang tidak mengetahui siapa dia. Ya itu normal-normal saja. Boro-boro tercatat di buku pelajaran, disinggung di kelas aja nggak.

Oke, pertanyaannya saya ganti. Siapa yang tidak tahu kantong kresek? Kalau kamu Warga Negara Indonesia, saya yakin betul kamu pasti tahu. Itu, loh, barang yang sekarang membungkus tempat sampahmu, barang yang kamu terima secara gratis saat berbelanja di penjual sayur keliling atau di minimarket.

Sten Gustaf Thulin dan kantong kresek merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Hal itu dikarenakan dia adalah penemu kantong kresek, sob. Memang, namanya tidak seharum ciptaannya. Tetapi sesungguhnya, produk ciptaan dia lah yang sekarang kamu cintai bahkan sampai membuatmu kecanduan.

Namun, apakah Thulin mengharapkan manusia akan menjadi makhluk pecandu kantong kresek?

Tentu iya! Thulin mengharapkan manusia akan menggunakan produk ciptaannya secara berulang-ulang sehingga dapat menghilangkan kebiasaan menggunakan kantong belanja kertas yang ia khawatirkan akan semakin merusak lingkungan.

Tetapi kenyataannya, manusia telah salah mencandui kantong kresek, sob!Bukannya menggunakan kantong kresek secara berulang-ulang malahan menggunakannya sebagai wadah barang sekali pakai sehingga menyebabkan berjuta-juta masalah lingkungan baru yang sangat sulit diselesaikan. Ironis bukan?

Ironisnya lagi nih, kantong kertas yang dulu sangat ditentang Thulin, sekarang dijadikan salah satu alternatif jitu pengganti kantong kresek. LOL 😀

Coba kita flashback dulu, melihat fenomena yang terjadi pada masyarakat Eropa dan Amerika Serikat. Pada abad ke-19 sampai pertengahan abad ke-20 yang merupakan masa bulan madunya masyarakat Eropa dan Amerika Serikat dengan kantong berbahan dasar kertas.

Salah satu pemicu utamanya adalah penemuan mesin pencetak paper bag oleh Margaret Knight –seorang mantan buruh pabrik kertas berkebangsaan Amerika Serikat – yang membuahkan respons positif di kalangan para investor dan pengusaha.

Fenomena ini diamati betul sebagai sebuah masalah oleh Thulin. Bagaimana tidak? industri kertas khususnya yang memproduksi paper bag menjadi sangat masif, dampaknya ialah merebaknya praktek illegal logging.

Menurut laporan U.S Department of Commerce yang diterbitkan Bulan Agustus 1950 tentang komoditas dagang pulp and paper, tercatat bahwa permintaan terhadap kantong berbahan dasar kertas, seperti kertas kado (wrapping paper), karung kertas (sacks) dan kantong kertas (paper bag) meningkat di banyak negara sepanjang tahun 1949.

Laporan itu bilang kalo tren kenaikan permintaan kertas tersebut sempat stagnan bahkan cenderung menurun karena penurunan kualitas fasilitas produksi dan kebijakan pembatasan perdagangan akibat dari perang dunia ke-2.

Walau begitu, Amerika Serikat tetap mampu menjadi negara pengekspor paper bag terbanyak di dunia. Sepanjang tahun 1948 saja, AS mampu mengekspor 10.292 ton paper bag ke seluruh dunia, disusul oleh Inggris sebanyak 3.516 ton.

Bagaimana dengan Swedia sebagai negara kebangsaan Thulin? Negara ini tidak sesuperior AS maupun Inggris soal produksi maupun ekspor paper bag. Tetapi kalau soal karung kertas (sacks), Swedia menjadi penguasa pasar ekspor saat itu. Sepanjang tahun 1948, Swedia mampu mengeskpor sedikitnya 17,512 ton.

Semakin meningkatnya permintaan kantong berbahan dasar kertas khususnya di Eropa membuat insinyur berkebangsaan Swedia itu prihatin lho! Bagaimana tidak? Penebangan pohon jadi marak dan nggak beraturan. Dari keprihatinan itu, muncul niat baik untuk menciptakan sebuah kantong belanja yang dapat digunakan berulang-ulang.

Terinspirasi dari penemuan plastik puluhan tahun sebelumnya, akhirnya pada awal tahun 1960, Thulin sukses menciptakan sebuah kantong belanja yang berbahan polyethylene alias plastik, sob! Kantong belanja pertama hasil kreasi Thulin memiliki bentuk seperti kaos orang dewasa. Iya, besarnya segitu sob! Hahaha.

Nah, di tahun 1962, penemuan tersebut didaftarkan patennya oleh Perusahaan Cellopast asal Swedia dan tiga tahun berselang paten tersebut diterima secara resmi.

Nggak perlu waktu lama setelah penemuan tersebut dipatenkan, kantong belanja plastik alias kantong kresek ini berhasil mengambil alih hati masyarakat Eropa dari kantong kertas.

Bahkan di tahun 1979, kantong kresek mampu menguasai 80% pasar tas di Eropa. Sukses berjaya di Eropa membuat para pengusaha Amerika Serikat melirik peluang ini.

Hanya perlu waktu tiga tahun sejak kantong kresek mengguncang Eropa, para pengusaha gerai swalayan memutuskan untuk sepenuhnya memberikan kantong kresek kepada konsumen. Tren ini dengan sangat cepat, menular ke banyak negara di dunia, termasuk Indonesia.

Jika kita lihat revolusi manusia dari penggunaan kantong kertas menjadi kantong kresek pada pertengahan hingga akhir abad ke-20, alih-alih memperbaiki kondisi lingkungan justru malah memperburuk, sob! Bukannya manusia menggunakan kantong kresek secara berulang-ulang, eh malah “sekali pakai buang”. Haeduh.

Kebiasaaan itu udah lari dari semangat awal penciptaan kantong kresek. Thulin kan pengennya kita menggunakan secara berulang-ulang supaya kebiasaan pakai kantong kertas bisa dilupain. Eh kitanya yang terlena dengan betapa mudah dan murahnya kresek.

Eitss… kesalahan ini jangan sepenuhnya dituduhkan ke kita sebagai konsumen. Soalnya di balik ini semua, ada biang kerok utama penyebab manusia nggak tahu maksud baik Thulin!

Dari sekian banyak aktor yang berperan besar terhadap kegagalan manusia menangkap maksud baik Thulin sekaligus kesuksesan “revolusi kantong kresek”, korporasi adalah aktor utamanya! Kita bisa melihat dari awal kemunculan kantong kresek, dimana Perusahaan Cellopast dengan pintar mendaftarkan paten atas hasil temuan Thulin.

Terus pada perkembangannya, semua hal terkait produksi hingga pemasaran dikuasai oleh perusahaan-perusahaan besar. Bagaimana mungkin pada tahun 1979, 80% pasar tas Eropa bisa dikuasai tas plastik tanpa campur tangan korporasi?

Peran korporasi yang begitu menyeluruh dalam semua lini kantong kresek menimbulkan lebih banyak mudarat ketimbang maslahatnya, utamanya kepada lingkungan.

Kita perlu tahu nih, apa sih tujuan utama orang berwirausaha? Ya pasti ngejar untung dong! Dan korporasi didirikan oleh satu atau beberapa orang pengusaha yang notabene mengejar untung.

Para pengusaha tersebut mungkin pada awalnya mempromosikan kantong kresek sebagai solusi untuk mencegah semakin rusaknya lingkungan. Namun, tidak bisa dipungkiri, permintaan pasar yang melonjak tanpa batas terhadap kantong kresek adalah suatu lahan basah investasi. Maka tak heran, mereka juga kepincut dengan peluang ini dan secara cepat niat baik Thulin tersingkirkan.

Keserakahan korporasi dan sikap masyarakat yang semakin salah mencandui kantong kresek, menimbulkan dampak yang sangat luar biasa buruk, yaitu penumpukan sampah! Udah sejak 1990an, para pegiat lingkungan menyoroti bagaimana sampah plastik membanjiri lautan dan mencemari sungai-sungai di dunia.

Kita bisa lihat banyak berita soal penyu makan kantong kresek karena dikira ubur-ubur, bangkai paus dipenuhi dengan sampah plastik, dan semua hal sejenis yang mengundang rasa empati kita. Kantong kresek yang dulunya didambakan Thulin sebagai solusi jitu untuk menyelamatkan lingkungan kini menjadi boomerang, malah merusak lingkungan. Kepandaian Thulin kini terabaikan dan kantong kresek akan terus diproduksi, tidak peduli ada protes disana sini. Akhir kata, lebih baik beralih dari kantong kresek atau memperjuangkannya kembali ke semangat awal?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.