Pintu masuk depan RS UB. Foto: Priska

MALANG-KAV.10 Sebagai upaya pencegahan, Rektor UB mengeluarkan Surat Edaran Nomor 2844/UN10/TU/2020 tentang Pencegahan Penyebaran COVID-19 di Lingkungan Universitas Brawijaya. Rektor mengarahkan sivitas akademika UB untuk menghubungi Rumah Sakit Universitas Brawijaya (RS UB) apabila memiliki gejala seperti demam (suhu ≥ 38oC), pilek, batuk, nyeri tenggorokan, dan sesak napas.

Melalui bagian humas, pihak RS UB menyatakan siap menerima pasien dengan segala jenis keluhan gejala COVID-19 serta akan menyesuaikan penanganannya.

“Tim medis dan dokter dari RS UB yang nanti akan memutuskan pasien ini harus diisolasi atau dirawat atau juga dipulangkan. Kalau dia memiliki gejala, itu akan kita isolasi dulu, ada beberapa penanganan yang bisa tim medis lakukan,” ujar Humas RS UB Saza Azizah Anindyo.

Saza menambahkan bahwa RS UB sudah menyiapkan ruang isolasi bagi pasien yang memiliki gejala COVID-19. Apabila pasien dinyatakan positif, maka RS UB akan segera merujuknya ke Rumah Sakit rujukan, dalam hal ini Rumah Sakit dr. Saiful Anwar.

“Karena RS kita masih tipe C dan bukan RS rujukan penangan COVID, maka kita tidak melakukan perawatan pasien yang positif,” paparnya.

Meski RS UB mempersilakan siapa pun melakukan pengecekan di tempatnya, Tim Satgas COVID-19 UB mengingatkan setiap orang yang menderita batuk dan pilek, untuk tidak langsung meminta tes COVID-19. Orang dengan gejala seperti itu, cukup membeli obat seperti biasa terlebih dahulu.

Baca juga: UB GENCARKAN LANGKAH PREVENTIF CEGAH PENYEBARAN COVID-19

“Kenapa kok gak boleh langsung ke rumah sakit? Karena belum tentu semuanya harus lari ke rumah sakit. Kemudian nanti ada gangguan pernapasan atau sesak, ada peningkatan, nah dari sini baru mulai ke rumah sakit yang sudah ditetapkan,” kata dr. Eriko Prawestiningtyas selaku Humas Tim Satgas COVID-19 UB.

“Nanti di RS akan ada diagnosanya sendiri, jadi kita ndak boleh asal datang ke rumah sakit karena nanti akan jadi overload. Dan pada saat overload maka justru akan membahayakan kita. Kenapa? Karena kita berkerumun,” tambahnya.

Menanggapi hal tersebut, pihak RS UB sudah memberlakukan batasan-batasan baru di rumah sakit. Jarak satu bangku kosong diterapkan pada tempat duduk di ruang tunggu RS UB. Pembatasan pada lift juga diterapkan dengan mengatur jumlah di dalamnya, maksimal enam orang, dan mengatur arah pandangan setiap orang di dalamnya.

Selain itu, RS UB juga membatasi pengunjung pasien rawat inap. Satu pasien hanya boleh ditunggu oleh maksimal satu orang dari kalangan keluarga.

“Pengunjung yang menemani pasien ini pun harus punya kalung pengunjung dari RS UB. Kalau tidak punya, kita tidak memperbolehkan masuk. Kita juga melarang anak-anak di bawah usia 12 tahun untuk masuk area RS, terkait dengan imunitas,” ujar Saza.

Ia mengatakan batasan-batasan tersebut mengacu pada protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah pusah. Batasan-batasan tersebut juga telah tercantum di dalam surat edaran RS UB.

“Kalau ada yang dilanggar, tim security kami berhak menindak. Bukan bermaksud kasar, tapi ini untuk kepentingan bersama mencegah COVID-19,” pungkasnya.

Penulis: Abdi Rafi Akmal
Editor: Octavio Benedictus

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.