Ilustrasi: Ghani Makarim
Penulis: Lia Lidiana
Profesi: Mahasiswa
Institusi: Universitas Brawijaya

Perempuan dilarang merdeka.
Sebuah teriakan yang selalu digaungkan oleh kaum misoginis
dan para penyembah hukum patriarki.
Bukan apapa, mereka hanya tak ingin merasa rugi.
Perempuan dilarang merdeka.
Sebuah kalimat yang tak pernah pantas untuk dijadikan hukum semesta.
Pun, bagi sebagian yang lebih suka disebut wanita.
Sesuai makna filosofisnya, katanya.
wani-ta, wani-ditata.

Tak boleh berkata kasar apalagi berpenghasilan besar.
Tak boleh terlalu pintar, asal pandai memasak sudah cukup memenuhi standart.
Tak boleh bergaya dan berperilaku sesuka hati, agar tidak dijauhi lelaki.
Tak boleh ini tak boleh itu, yang terpenting pandai memuaskan fantasi.
Tak boleh banyak bermimpi dan bercita-cita tinggi, tapi harus berdedikasi dalam urusan rumah tangga dan suami.

Seolah, tujuan hidup wanita hanya untuk menikah
menjadi budak dirumah tangganya sendiri,
dan terpenting mahir menggoyangkan kasur,
serta lidah suami dari bumbu terbaik rempah dapur.

Namun, beberapa memilih bangkit menjadi perempuan.
per-empu-an.
Empunya atas dirinya sendiri,
Sebagian menjadi pekerja dan menjelma wanita karir.
Berani bermimpi hingga banyak ide-ide dan pembaharuan terlahir.
Meski cibiran terus mengalir karyanya terus terukir.
Hingga beberapa lagi mencoba menggemakan keadilan bagi kaum papa, terlebih wanita.
Dengan beberapa aksi yang tak biasa.

Tapi, perempuan pun sepertinya tak boleh merdeka.
Menyuarakan body positivity, dikecam aksi pornografi.
Berdiskusi untuk kemajuan diri, diteriaki makar karena tak sesuai substansi.

Ikuti saja aturan yang ada.
Menjadi wanita atau perempuan tak ada bedanya, katanya.

Harus feminin, selalu senyum! harus pakai rok, jangan pakai celana.
Harus feminin. Jangan berpakain terbuka, tapi jangan pula terlalu tertutup.
Harus feminin, selalu senyum.
Dandan yang cantik,  jangan terlalu menor apalagi
salah gambar alis sampai menukik.
Harus feminin. Jangan duduk bersila, jangan bertato, jangan mabuk-mabukan
apalagi menjadi pekerja selangkangan.
Ikuti aturannya! Kamu tak layak untuk sebuah kemerdekaan.

Tapi,
Aku memilih menjadi
PER-EMPU-AN

Tentang Penulis:
Namanya Lia Lidiana, biasa di panggil Lia beberapa orang terkadang memanggilnya Sessy yang merupakan nama aslinya di waktu kecil. Dia lebih suka menggunakan nama belakang sebagai nama pena untuk setiap puisi-puisi yang ditulisnya. Menyukai hal-hal yang berhubungan dengan kesenian, khusususnya di bidang tari dan sastra. Sekarang dia tinggal di Jalan Kerto Asri Dalam no.94, Malang Jawa Timur. Mau tahu tentangnya ? Kamu bisa follow IG @lidiana_09, Twitter: @hailiaaa, atau melalui E-mail: lialidiana191@gmail.com.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.