Kepala Biro Keuangan UB Sagiya ketika ditemui di ruangannya, Selasa (25/2). Foto: Abdi

MALANG-KAV.10 Pagu Anggaran UB untuk tahun 2020 mengalami penurunan hingga 107 miliar dibandingkan tahun lalu. Dengan begitu, jumlah anggaran yang dialokasikan kementerian untuk UB pada tahun ini sebesar 803 miliar, berbeda dengan tahun lalu yang mencapai 910 miliar. Hal tersebut disampaikan Kepala Biro Keuangan UB Sagiya di ruangannya, Selasa (25/2).

Penurunan ini merupakan imbas dari adanya kebijakan Kemendikbud untuk mengurangi BOPTN (Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri) di seluruh Indonesia sebesar 10 persen.

Sagiya mengaku tidak mengetahui alasan di balik pengurangan tersebut. “Yang bisa jawab kementerian, bukan rektor, bukan juga saya,” katanya.

Menurut Sagiya, pengurangan pagu anggaran juga pasti terjadi di Perguruan Tinggi Negeri lainnya. Ia memperkirakan rata-rata penurunan anggaran di masing-masing kampus juga sekitar 10% dari tahun lalu. Dampak dari adanya pengurangan tersebut, rektorat harus mengkaji ulang semua aktivitas yang sudah diprogramkan.

 “Jangankan berkurang ratusan miliar, berkurang satu miliar saja sangat berdampak,” ujarnya.

Pihak rektorat juga mengimbau kepada Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) untuk menentukan skala prioritas kegiatan. Kegiatan yang seharusnya menjadi prioritas adalah kegiatan yang menunjang pemeringkatan UB.

“Dalam bidang kemahasiswaan, kegiatannya itu juga yang harus menunjang pencapaian kinerja WR 3. Biasanya kan ada kompetisi-kompetisi, kalau kompetisinya hanya dari lokal brawijaya, artinya hanya internal, gak ada nilainya di pemeringkatan,” jelas Sugiyo.

Selain bidang kemahasiswaan, gaji pegawai juga mengalami penurunan. Disebutkan Sagiya, honor pegawai maksimal 40% dari jumlah anggaran yang ada.

“Ya harus berkurang (gaji pegawai, red). Honor itu dibatasi secara institusi maksimum 40%. Berarti kalau pagu 803 miliar, berarti maksimum anggaran untuk gaji hanya sekitar 321 miliar. Nah, itu sudah termasuk semua aktivitas mengajar dan sebagainya,” tambah Sagiya.

Upayakan Transparansi

Presiden EM UB Muhammad Farhan Azis merasa pihak rektorat masih belum transparan terkait persoalan dana pagu ini. Ia menjelaskan bahwa target dari EM terkait dana pagu sampai dengan transparansi, tidak sampai pada upaya menaikkan anggaran

“Ini kalau kemahasiswaan cuma bilang ‘ini dikurangi’. Ya kita tahu dikurangi. Pertanyaan selanjutnya adalah mana uang itu. Alokasinya mau ke mana. Artinya target kita ini sampai transparansi, bukan sampai naikin anggaran,” ungkap Farhan.

Pihak EM sudah sempat menyelenggarakan diskusi bersama Staf Ahli Wakil Rektor 3 Ilhamuddin, Rabu (26/2). Dari pemaparannya, penurunan anggaran tidak hanya berdampak pada mahasiswa, tapi juga dosen dan jajaran di bidang kemahasiswaan.

Senada dengan Farhan, Wakil Menteri Gerakan Kebijakan Internal Muhammad Raffy Nugaraha menyatakan akan mengupayakan transparansi anggaran. Hanya saja dari diskusi tersebut, pihak kemahasiswaan mengatakan bukan wewenangnya untuk menunjukkan laporan keuangan.

“Itu (penurunan, red) harus dibuktikan dengan surat yang memang menyatakan bahwa memang terjadi penurunan, misalnya kertas kerja laporan keuangan 2019 atau dari Silpa (Sisa Lebih Perhitungan Anggaran) nya. Mungkinkah ada selisih penggunaan anggaran yang lebih dari tahun kemarin atau tidak terserap,” ungkapnya via Voice Note LINE, Rabu (4/3).

Masih Bisa Berubah

Sagiya menganjurkan supaya dana yang sudah dianggarkan untuk dimanfaatkan dengan sebaiknya. Menurutnya, anggaran tersebut masih bisa ditambah nantinya ketika memang sudah habis dan dalam kondisi yang mendesak. Ia juga menyarankan agar mahasiswa untuk tidak selalu menunda pembayaran UKT agar tidak mengganggu pendapatan.

“Jadi manfaatkan dan maksimalkan dulu yang ada. Kalau urgent dan pagunya habis, lalu sejalan dengan pendapatan, tentunya akan ditambah (dananya, red),” ujar Sagiya.

Sementara menurut Raffy, penyesuaian terhadap komponen anggaran khusus bidang kemahasiswaan memang masih sangat mungkin terjadi. Komponen anggaran bidang kemahasiswaan mencakup lima hal, yaitu (a) Kegiatan EM, DPM, dan UKM; (b) Kegiatan Belmawa; (c) Kegiatan Kemahasiswaan; (d) Reward Prestasi; dan (e) Bantuan Program Mahasiswa Wirausaha.

Informasi mengenai kemungkinan perubahan komposisi anggaran kemahasiswaan diperoleh Raffy dari Wakil Rektor 3 Abdul Hakim. Menurutnya, Wakil Rektor 3 juga berencana akan mengalokasikan anggaran komponen tertentu ke komponen lain.

“Yang saya tahu, 12 miliar itu sudah pasti, tetapi yang bisa diubah adalah komponennya. Sebagian komposisi anggaran tertentu bisa diberikan atau dialokasikan ke Kegiatan EM, DPM, dan UKM. Jadi untuk penyesuaian anggaran baru, kemungkinan yang bisa terjadi hanya seperti ini,” pungkas Wamen GKI EM UB tersebut.

Penulis: Savira Alvionita
Editor: Abdi Rafi Akmal

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.