Gedung Rektorat Universitas Brawijaya. Foto: Priska

MALANG-KAV.10 Universitas Brawijaya (UB) resmi mengeluarkan Surat Edaran Nomor 2486/UN10/PP/2020 tentang Penerapan PIN untuk Ijazah Lulusan UB. Poin 2 Surat Edaran tersebut menyebutkan bahwa cuti akademik/terminal kuliah masuk dalam hitungan masa studi.

Aturan yang diresmikan per tanggal 3 Maret 2020 itu merupakan penerapan kebijakan dari Permenristekdikti Nomor 59 Tahun 2018 tentang Penomoran Ijazah Nasional. Pemberlakuan aturan baru ini mencabut ketentuan tentang cuti akademik dalam Buku Pedoman Pendidikan UB tahun ajaran 2019/2020.

“Saya kira sudah matang. Kita sudah rapatkan sebelumnya bersama para WD (wakil dekan) untuk menanggapi kebijakan Dikti ini,” jelas  Heri Prawoto, Kasubbag Perencanaan dan Kerjasama bidang Akademik, saat diwawancarai Rabu (18/3).

Pihaknya menganggap bahwa selama ini aturan penambahan masa studi yang diatur menurut Permendikbud No. 3 tahun 2020 dengan cuti akademik dapat menghambat ketepatan waktu mahasiswa dalam kelulusan. Heri mencontohkan, mahasiswa jenjang sarjana yang seharusnya lulus dalam masa studi maksimal 7 tahun, dengan aturan lama bisa saja kelulusannya terlambat hingga 9 tahun.

Menurutnya, diperlukan pendisiplinan dan identifikasi karena tingkat kelulusan mahasiswa dapat memengaruhi akreditasi Universitas.

Rizky Adhyaksa, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UB angkatan 2014, dalam hal ini memiliki pandangan yang berbeda. Ia menilai keputusan yang dibuat UB terkesan tergesa-gesa.

“Sebenarnya setiap universitas itu memiliki jangka waktu dua tahun untuk menyesuaikan (dengan peraturan menteri, red),” terangnya lanjut mengutip ketentuan peralihan Permendikbud Pasal 68 huruf d.

Menurut mahasiswa yang juga aktif di organisasi Komite Pendidikan UB tersebut, cuti akademik merupakan kebijakan otonom kampus karena tidak dijelaskan secara spesifik dalam Permendikbud. Ia menyayangkan dengan adanya aturan ini akan menimbulkan konsekuensi berat pada mahasiswa aktif yang terdampak, khususnya angkatan 2013 & 2014.

“Sekarang sudah pertengahan semester, misal planningnya sudah dijalankan. Hanya mengambil mata kuliah, dengan harapan semester depan bisa skripsi. Apa yang terjadi dengan berlakunya surat edaran ini? Mereka akan disodorkan surat pengunduran diri,” ujar Rizky.

Menanggapi keluhan tersebut, Heri menjelaskan, “Masih kami beri kesempatan. Makanya dari fakultas kita push itu mahasiswa biar cepat selesai. Mau tambah semester pendek atau yang lain, toh batas penomoran PIN ini kan 29 Desember 2020.”

Penulis: Zainal Mustofa
Editor: Priska Salsabiila

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.