Konferensi Pers yang diadakan di lt. 6 Gedung Rektorat Universitas Brawijaya. Foto: Priska

MALANG-KAV.10 Rektorat UB menggelar konferensi pers, Sabtu (14/2) pagi, untuk mengklarifikasi informasi yang beredar bahwa ada suspect COVID-19 di Fakultas Teknik. Melalui keterangan persnya, pihak rektorat membenarkan informasi tersebut.

Saat ini, mahasiswa suspect COVID-19 masih dalam pantauan tenaga medis di Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) dan belum dipastikan positif terinfeksi COVID-19. Ketua Satgas COVID-19 UB, dr. Aurick Yudha, mengabarkan kondisi mahasiswa tersebut mulai membaik sejak pagi tadi.

“Kami mendapat informasi dari RSSA bahwa penggunaan bantuan oksigen sudah mulai berkurang. Ini menandakan sudah ada perbaikan,” ujarnya.

Terkait dengan perawatan mahasiswa  tersebut di RSSA, kata dr. Audrick, perlu dilaksanakan karena kondisi klinis mahasiswa tersebut yang sedang sakit, sehingga perlu didalami penyakitnya. Meski begitu, ia menegaskan mahasiswa tersebut tidak masuk ke dalam tiga kriteria positif terjangkit COVID-19.

“Pertama, tidak terjadi kontak erat pasien yang terjangkit COVID-19, dan itu sudah dikonfirmasi. Kedua, mahasiswa tersebut tidak berpergian ke tempat terjangkit COVID-19, dalam hal ini China dan negara yang sudah terjangkit,” kata dr. Audrick.

“Ketiga, mahasiswa tersebut tidak pernah berpergian ke lokasi kesehatan di mana covid tersebut sedang ditemukan. Dan (mahasiswa tersebut, red)memang tidak memenuhi tiga kriteria tadi,” tambahnya.

Sehari sebelumnya, Jumat (13/2), sejumlah grup mahasiswa UB mendapat kabar adanya suspect COVID-19 di salah satu fakultas. Berkenaan dengan informasi tersebut, beberapa fakultas juga mulai mengarahkan agar kegiatan belajar mengajar dilakukan dengan metode Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Metode Belajar Diganti, Mahasiswa Jangan Pulang

Menanggapi isu yang beredar, Rektor UB Nuhfil Hanani terus mengingatkan untuk mengantisipasi penyebaran COVID-19. Meski begitu, ia belum berencana menghentikan kegiatan kampus dalam waktu dekat dan hanya mengisolasi satu gedung saja.

“Sekarang ini, dalam rangka kewaspadaan, antisipasi untuk gedung di Fakultas Teknik, khususnya di Gedung Teknik Industri, sementara waktu diisolasi karena belum ada kepastian,” ujarnya.

Rencananya, Nuhfil akan mengumumkan langkah-langkah kegiatan belajar mengajar bagi seluruh fakultas pada Senin (15/3) mendatang. Ia juga mengimbau kepada mahasiswa untuk tidak pulang ke daerah masing-masing dan tetap berada di Malang.

“Jadi memang kita dianjurkan menggunakan online sementara waktu, tetapi mahasiswa jangan pulang ke daerahnya. Di sini (Malang, red) sudah aman, nanti kalau pulang ke daerah lain menjadi tidak aman, khawatirnya terjadi tranmisi lokal,” kata dia.

Pernyataan Nuhfil tersebut terkait dengan nol persen warga Kota Malang positif terjangkit COVID-19. Sebelumnya, sudah ada enam suspect COVID-19 yang dirawat di RSSA. Namun, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhadjir Efffendy, mengatakan seluruh pasien telah melewati serangkaian pemeriksaaan medis.

“Di sini belum ada, dan mudah-mudahan tidak ada. Yang suspect ada, tapi semuanya sudah dinyatakan negatif. Sudah pulang semua, tapi ada satu yang meninggal, dan sudah dipastikan meninggal karena penyakti lain. Hasil lab negatif, bukan corona,” kata Muhadjir seperti dilansir WartaEkonomi, Jumat (6/3) lalu.

Bentuk Tim Satgas Covid-19

Universitas Brawijaya terhitung sejak 13 Maret 2020 telah membentuk Satuan Tugas Pencegahan dan Pemaparan COVID-19 sebagai langkah antisipasi sekaligus edukasi terkait Virus Corona. Tim ini terdiri dari dosen, tenaga medis, mahasiswa, tenaga pendidikan, serta media UB.

“Untuk tim satgas kurang lebih ada 20 lebih. Belum lagi mahasiswa-mahasiswa, BEM, EM, yang ada di bawhnya juga. Jadi mahasiswa ini kita gunakan sebagai operasionalnya. Istilahnya snowball. Pertama kan koordinasi terdepannya adalah mahasiswa, jadi untuk pengurangan risiko, perilaku hidup bersih dan sehat dan sebagainya itu memang kita sasarannya mahasiswa,” jelas dr. Aurick Yudha, selaku ketua Tim Satgas.

Upaya yang telah dilakukan Tim Satgas sampai saat ini adalah sosialisasi melalui poster yang disebarkan melalui akun-akun BEM Fakultas. Isinya meliputi pengenalan COVID-19,  Gerakan Masyarakat Hidup Sehat, langkah cuci tangan, penjelasan pemakaian masker yang benar, dan etika batuk sebagai pencegahan infeksi virus.

“Kemarin mahasiswa itu alhamdulillah beberapa flyer yang kita berikan sudah yang official dari satgas itu kita minta tolong untuk segara bisa diproduksi sendiri,” lanjut Aurick.

dr. Aurick juga menyampaikan bahwa ruangan di Teknik Industri yang sempat didatangi mahasiswa suspect COVID-19 cukup dilakukan upaya pembersihan biasa, tidak perlu strelisiasi seperti fogging. Pembersihan ini tidak perlu menunggu hasil pemeriksaan terhadap suspect keluar karena menurutnya pembersihan adalah aktivitas rutin

“Cukup rutin dibersihkan pakai alkohol sudah cukup. Dan itu gak semua tempat. Itu sebetulnya aktivitas rutin saja”, paparnya.

Lebih lanjut, upaya yang juga sedang dilakukan adalah produksi gel pembersih tangan atau hand sanitizer dan penyebarannya di setiap fakultas. Sebelum diproduksi secara massal, gel pembersih tangan akan terlebih dahulu diujikan di laboratorium mikrobiologi Fakultas Kedokteran.

“Nah untuk menentukan titik-titik handsanitizer ini kami minta seluruh mahasiswa yang melalui BEM ini mengidentifikasi. Contoh mungkin ini ada lift di sini, ini ada mungkin TU dan sebagainya untuk proses administrasi itu nanti ada handsanitizer,” pungkasnya.

Penulis: Abdi Rafi Akmal, Priska Salsabiila
Editor: Abdi Rafi Akmal

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.