Awak Kavling10 sedang mewawancarai ketua Lembaga Perlindungan Anak Malang. Foto: Dika

MALANG-KAV.10 Terhitung sejak tahun 2013, Malang didapuk menjadi Kota Layak Anak (KLA) dari sekitar 5 Kota/Kabupaten lainnya di Jawa Timur. Perolehan tersebut tidak lantas membuat anak di kota Malang jauh dari kasus kekerasan. Pada awal tahun 2019 lalu, Malang dihebohkan dengan peristiwa pencabulan yang dilakukan oleh guru olahraga di SDN Kauman.

Yang terbaru adalah kasus perundungan yang menimpa salah seorang pelajar di SMPN 16 Malang pada pertengahan Februari kemarin. Dari dua kasus kekerasan ini, kejadiannya terjadi dan dilakukan oleh lingkungan internal sekolah.

Menanggapi hal tersebut, ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) kota Malang, Drs. Ec.Djoko Nunang menyampaikan bahwa fenomena kekerasan anak di Malang seperti halnya gunung es. Banyak terjadi tetapi hanya sedikit yang terungkap.

“Fenomenanya seperti gunung Es. Kalau dikatakan kasus besarnya cuma dua itu, (SMPN 16 Malang dan SD Kauman Malang, red) kita yakin ada kasus lain yang tidak terlapor,” ungkapnya ketika ditemui awak Kavling10 di kantor LPA Malang.

Nunang juga memaparkan bahwa pihaknya kedepan akan bekerja sama dengan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) untuk memberikan edukasi terkait perundungan (Bullying).

 “Kita bersama-sama dengan Ikatan Dokter Anak Indonesia. Mencoba Memberikan pembelajaran. bersama-sama mencoba untuk memberikan pembelajaran kepada guru BK, Ketua Osis, sama Wakil Kepala Sekolah bidang kemahasiswaan. Kita sudah menghadap ke Kepala Dinas Pendidikan dalam arti nanti kalo dimungkinkan kita disediakan aulanya. Untuk segala sesuatunya sudah disiapkan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia,” lanjut Nunang.

Sampai berita ini diturunkan, pihak Dinas Pendidikan sebagai salah satu representatif Pemerintah Kota belum bersedia memberikan waktu luangnya untuk diwawancara. Untuk itu, belum dapat diketahui sejauh mana keseriusan pemkot Malang dalam mengadakan program preventif dan regulasi seputar kekerasan anak.

Baca juga: DINAS PENDIDIKAN KOTA MALANG KURANG BERPIHAK TANGANI KASUS SD 03 KAUMAN

Di perspektif lain, Yuliezar Pewira Dara S.Psi., M.Si. Selaku ahli Psikologi Pendidikan menyayangkan bahwa sekolah selama ini hanya berfokus pada kegiatan-kegiatan yang sifatnya akademis dibandingkan program-program lain yang dapat mengasah soft skill anak.

 “Kadang sekolah kan, aduh banyak nih target kurikulum. Kalo kita menyiapkan satu waktu dalam satu semester misal dalam hari jumat. Itu susah nanti akademisnya nggak tersampaikan materinya. Hati-hati kita nggak hanya menyiapkan anak seperti robot untuk mampu Matematika seperti kurikulum ini. Tapi menyiapkan anak untuk bagaimana ilmunya itu bisa dimanfaatkan. Tidak hanya transfer knowledge tetapi soft skill-nya juga bisa dimanfaatkan. Misalkan:  kayak kerjasama, pengambilan keputusan,” jelas Yuliezar.

“Disamping kita bergerak di akademis juga perlu untuk mengangkat sisi non-akademis. Dari mana dari potensi anak. Kalau potensi anak muncul, orang kan akan menghargai dia. Kalau harga dirinya tinggi, anak cenderung tidak jadi korban. Ini harus setara karena sama pentingnya,” pungkasnya.

Penulis: Agung Mahardika
Editor: Ivan Yusuf Juliar P.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.