Ilustrasi: Salsabila Raihani
oleh: Farah Hanifah

Apa sih, ketakutan terbesarmu?
Apakah kegelapan, serangga, atau mungkin hantu?
Atau kapitalisme, korporatisme, korupsi-kolusi-nepotisme, imperialisme, dan isme-isme lain yang membutakan pikiran, akal sehat, dan kalbu?
Atau mungkin kehidupan dan ketidaktahuan manusia akan kematian yang setia menanti di penghujung waktu?

Jika kamu takut akan kegelapan, mengapa?
Bukankah kegelapan hanyalah sebuah fenonema alami; sebuah efek samping dari ketiadaan cahaya?
Takut akan hantu?
Mereka sudah lama mati, kawan! Mengapa masih membuatmu risau?
Ketika dulu sang hantu masih hidup, memangnya serisau inikah dirimu?
Ketika dulu ia berteriak kesakitan; meregang nyawa— risaukah alam bawah sadarmu akan hal itu?

Kamu takut akan isme-isme, mengapa?
Bukannya kamu sendiri juga poros dan sendi darimananya dinamika isme itu ada?
Takut akan kapitalisme, bukannya engkau pujangganya?
Takut akan korporatisme, bukannya engkau budak sahayanya?
Takut akan praktik korupsi-kolusi-nepotisme, bukannya engkau anak haramnya?
Takut akan imperialisme, bukannya engkau bercinta dengan nya di negara maju nan jauh disana?
Takut dengan isme isme lain, bukannya kau turut bersorak senang dan gembira ketika aparatur negara menghabisi nyawa mereka secara membabi buta?

Takut akan kehidupan dan kontemplasi eksistensial?
Untuk apa ditakuti?
Seperti yang Benny Soebardja pernah lantunkan;
“Sudah lahir sudah terlanjur, mengapa harus menyesal?“

Kematian?
Mengapa harus ditakuti?
Hidup mu di Bumi ini saja masih banyak perkara,
Jadi kenapa sedini ini, kau sudah jadikan kematian sebagai sumber gundah gulana?

“Far, kon ga punya rasa takut, hah? Sombong, belaguuuuu!”
Oh, saya tentu punya rasa takut, tuanku.
Saya takut bahwa selama ini, eksistensi saya tidak benar – bebar nyata.
Saya sangat takut ketika keberadaan saya tidak dianggap.
Dan saya takut, takut setakut-takutnya, ketika saya diabaikan layaknya seonggok debu; yang tersingkir dan menghilang seiring berjalannya waktu.
Saya takut, ketika suara saya tak didengar dalam sebuah diskursus bersama manusia-manusia lainnya.
Saya takut, ketika keberadaan individual saya, tidak dihitung didalam sebuah perkumpulan komunal semu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.