Aksi One Billion Rising yang sedang berlangsung di gerbang masuk veteran UB. Foto: Zenn

MALANG-KAV.10 EM UB bersama Women’s March Malang mengadakan aksi One Billion Rising. Jumat (14/2) kemarin, bertepatan dengan Hari Valentine. Pada aksi kali ini, ada 17 poin tuntutan yang dibawa, sebagian besar menyasar soal isu keperempuanan.

“Memang kita fokusnya ke isu-isu keperempuanan. Apalagi tema yang dibawa one billion rising ini kan tentang kekerasan terhadap perempuan dan anak kan. Apalagi di ranah kampus sendiri kan memang ada kasus-kasus seperti itu yang mungkin belum terselesaikan dengan baik,” ujar Kepala Unit Pemberdayaan Perempuan Progresif (P3) Karina Damayanti

Dengan aksi ini, diharapkan tuntutan-tuntutan yang dibawa dapat tercapai. Salah satunya adalah adanya regulasi yang tegas dan jelas terkait penanganan atau pencegahan terhadap kekerasan seksual di lingkungan kampus.

Infografik/ Ghani Makarim

One Billion Rising adalah gerakan global yang dimulai pada tahun 2012 sebagai bagian dari kampanye untuk membawa kesadaran pada tingginya jumlah pemerkosaan dan kekerasan seksual terhadap perempuan.

Gerakan ini diprakasai oleh Eve Ensler, penulis naskah The Vagina Monologues. “Satu Miliyar” mengacu pada statistik PBB bahwa satu dari tiga perempuan, sekitar satu miliar dari populasi perempuan global, akan diperkosa atau dipukuli.

Dalam rangkaian acara One Billion Rising yang diadakan di UB ini, selain pembacaan tuntutan, juga terdapat acara pembacaan puisi, musikalisasi puisi, dan flash mob. Fitri selaku Humas Women’s March Malang mengaku bahwa tidak jarang rangkaian acara yang seperti ini menuai kritik.

“Kadang kritiknya tuh ‘kak, memangnya ngedance bisa menghancurkan patriarki? Memang ngedance bisa bantuin korban-korban kekerasan seksual di Papua? Alasan kita (tetap mengadakan, red) karena perempuan menyuarakan apapun tetap saja dikritik. Kita demo dikritik ‘masa perempuan gitu sih?’. Kita menari saja dikritik. Jadi menurut kita itu semua bentuk (usaha, red), asalkan kita bersuara itu sudah solid. Dan kita sedikit demi sedikit berusaha untuk menggerus budaya pemerkosaan yang sudah mengakar di masyarakat,” ungkapnya.

Fitri juga menambahkan bahwa dewasa ini, kemampuan korban kekerasan seksual untuk berani bicara mengalami kemajuan. Meskipun memang korban yang bicara menurutnya masih sering diinjak-injak oleh berbagai pihak yang bahkan mengaku progresif.

“Memandang pelecehan seksual sebagai kriminal yang bersifat personal, bukan sebuah kekerasan gender, itu menurut kita harus kita hapuskan. Jadi perempuan itu setiap hari diginiin dan ini tuh realita. Dan kita harus sadar bahwa ini bukan sesuatu hal yang jauh kayak kita baca koran, bukan. Teman kita itu bisa saja korban. Banyak teman kita yang korban,” pungkasnya.

Penulis: Farah Hanifah Soegeng
Kontributor: Zainal Mustofa
Editor: Priska Salsabiila

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.