Foto: IMDb

Penulis: Silvi Wira
Editor: Ivan Yusuf Juliar Pangestu

Body image barangkali menjadi masalah yang cukup menarik untuk dibahas. Standardisasi “Good look” yang sangat ketat membuat beberapa orang merasa rendah diri akan bentuk tubuhnya sendiri. Fenomena tersebut juga berusaha diilustrasikan lewat film besutan Ernest Prakarsa berjudul “Imperfect”. Film yang tayang sejak 19 Desember 2019 lalu itu diangkat dari novel karangan istri Ernest sendiri, Meira Anastasia dengan judul “Imperfect : A Journey to Self-Acceptance”.

Dengan durasi 1 jam 53 menit, Imperfect berhasil mengemas permasalahan tentang body image yang banyak dialami perempuan dengan sangat apik, relatable, serta penuh dengan pelajaran moral. Terbukti film ini berhasil meraih rating 8.1/10 yang diberikan IMDb (Internet Movie Database), sebuah situs yang rutin memberikan penilaian film. Film ini juga menggaet selebrita ternama seperti Jessica Mila dan Reza Rahardian sebagai pemeran.

Awal film ini dibuka dengan adanya seorang anak kecil bernama Rara (Jessica Mila) yang memiliki hobi makan dalam jumlah besar serta berkulit sawo matang warisan dari ayahnya (Kiki Narendra). Rara memiliki seorang adik perempuan bernama Lulu (Yasmin Napper) yang berbanding terbalik dengan dirinya. Lulu memiliki tubuh yang kurus dan berkulit putih mengikuti gen mamanya.

Sang mama (Karina Suwandi) yang lebih menyukai Lulu daripada Rara pada akhirnya membuat Rara sehari-hari menghabiskan waktunya hanya bermain bersama sang ayah yang sangat mencintainya. Kisah dimulai ketika suatu hari Rara kemudian kehilangan sosok sang ayah yang sangat ia cintai dalam sebuah kecelakaan di Tol Jagorawi.

Setelah kejadian tersebut, sang mama kemudian menjual rumah mereka dan pindah ke rumah baru untuk memulai hidup barunya. Dari sini, Rara beranjak dewasa sebagai wanita bertubuh gemuk dan memiliki kulit sawo matang.

Hari demi hari berlalu, Rara semakin sering mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan baik di kantor maupun di lingkungan sekitarnya. Namun, hal ini tidak pernah diperdulikannya lantaran sejak kecil Rara sudah terbiasa dengan komentar-komentar tidak enak mengenai dirinya.

Singkat cerita, Rara kemudian bekerja sebagai kepala bagian riset di sebuah perusahaan kosmetik bernama Malathi yang dipimpin oleh Kelvin (Dion Wiyoko). Suatu hari ia mendapat masalah, manajer perusahaan tersebut yang bernama Sheila mengundurkan diri dan perusahaan pun mengalami kendala dalam masalah keuangan. Oleh karena itu, Kelvin membutuhkan segera pengganti yang bisa menangani masalah tersebut.

Rara menyanggupi untuk menggantikan posisi Sheila, tetapi ia dianggap tidak layak karena bentuk tubuh dan penampilannya kurang menarik. Anggapan ini membuat Rara mulai merasakan insecurity yang selama ini tidak pernah dihiraukannya. Perasaan-perasaan insecure “aku ini orang yang jelek” mulai menggerogoti dirinya dan semakin membuatnya tertekan, sekaligus menjadi turning point bagi Rara.

Rara pun akhirnya bernegosiasi dengan Kelvin bahwa ia akan mengubah dirinya. Kelvin menyetujui hal tersebut, lalu memberi waktu satu bulan bagi Rara untuk mengubah penampilannya. Selama waktu satu bulan, Rara rajin berkunjung ke pusat kebugaran, belajar fashion dan make up, hingga diet ketat yang tidak manusiawi.

Kaya Akan Pesan Moral

Penggambaran tokoh Rara yang polos membuat penonton lebih mudah memahami insecurity yang selama ini dialami oleh perempuan dengan bentuk tubuh yang jauh dari standar sosial. Secara plot cerita, Imperfect cenderung mudah ditebak dan terkesan cheesy atau berlebihan bagi sebagian orang. Guyonan comedy yang berusaha ditampilkan juga termasuk dalam kategori mature sehingga hanya bisa dipahami oleh beberapa kalangan.

Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa nilai moral dalam film ini tetap patut diacungi jempol. Khususnya pada adegan ketika perasaan-perasaan insecurity yang selama ini dirasakan Rara membawanya dalam sebuah titik balik, di mana ia kehilangan semua hal yang ia punya hanya karena perasaan negatif tersebut.

Hampir mirip dengan film-film besutan Ernest Prakasa lainnya, film ini juga turut diwarnai dengan nuansa komedi oleh komika-komika tanah air seperti Uus, Aci Resti, dan Kiky Saputri. Drama-drama percintaan ala-ala khas anak muda zaman sekarang juga turut mewarnai film produksi Starvision ini.

Di dalam film dikisahkan bahwa Rara memiliki seorang pacar bernama Dika (Reza Rahardian), seorang freelancer photographer. Keduanya bertemu saat Rara menjadi relawan mengajar bagi anak-anak pemulung. Meskipun tidak memiliki tampilan fisik semenarik apa yang selama ini distigmakan. Sosok Rara yang hangat dan sederhana berhasil membuat Dika jatuh cinta.

Imperfect pada akhirnya membuat saya tergelitik dan lantas berpikir, perlukah standar kecantikan ada pada diri manusia? Hanya untuk menjadi cantik, semua wanita bahkan rela melakukan hal dari yang sederhana sampai tidak masuk akal demi untuk memenuhi standar kecantikan itu sendiri.

Sayangnya, selama ini standar kecantikan realitanya tidak sesederhana hanya sebuah pilihan. Secara sosial, mereka yang jauh dari standar “cantik” akan menerima konsekuensi berupa penghakiman sosial, misalnya, body shaming. Persis seperti yang diterima Rara dari lingkungannya. Akibat penghakiman sosial tersebut, tidak sedikit perempuan yang terus berjuang untuk memenuhi standar cantik tersebut tanpa mempedulikan resiko dibaliknya.

Sudut pandang menarik lainnya yang ditampilkan dalam film ini adalah setiap orang pada dasarnya memiliki insecurity nya masing-masing. Bahkan, mereka yang kita anggap sudah perfect sekalipun, tetap saja merasa kurang hanya karena mereka berpikir dunia masih menganggap mereka kurang. Ah, barangkali masalahnya memang bukan hanya soal kurangnya tubuh kita. Permasalahan utamanya bisa jadi karena sifat tamak manusia itu sendiri.

Fenomena ketamakan tersebut juga diilustrasikan Imperfect lewat konflik psikologis yang dialami tokoh Rara. Rara yang awalnya insecure terhadap kekurangan dirinya pada akhirnya dibuat sadar bahwa manusia dasarnya diciptakan unik serta berbeda. Dan siapapun berhak untuk menjadi cantik selama dia mau menerima dirinya sendiri.

Tokoh Rara mengajarkan kepada ketika kita bahwa senjata terbaik dalam menghadapi kekurangan diri adalah melalui self-acceptance atau penerimaan diri. Self-acceptance bukan didapatkan dari seberapa banyak hal yang dapat diraih, bukan pula pada banyaknya pujian, pun juga bukan pada banyaknya validasi sosial tentang diri kita. Self-acceptance memupuk kebahagiaan kita melalui seberapa lapang diri kita menerima kekurangan. Karena sejatinya membandingkan diri sendiri dan orang lain sama saja dengan sebuah pertempuran yang takkan pernah bisa kita menangkan.

Saya sendiri secara personal percaya. Perihal cantik atau tidak pada dasarnya perlu dikembalikan pada standar cantik individu masing-masing. Terakhir, saya ingin mengutip ungkapan tokoh terkenal, Mahatma Gandhi, “Bumi ini cukup untuk memenuhi kita semua, namun tidak cukup untuk memenuhi keinginan segelintir manusia serakah”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.