Suasana saat tanya jawab antara WR III dan perwakilan seluruh UKM pada Rapat Koordinasi di Gedung Rektorat Lantai 8, Kamis (23/01)
Foto: Fira

MALANG-KAV.10 Tahun ini, total dana pagu kemahasiswaan UB berkurang Rp. 8 miliar dari tahun lalu. Hal ini disampaikan oleh Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Abdul Hakim pada Rapat Koordinasi bersama seluruh UKM di Gedung Rektorat Lantai 8, Kamis (23/1) lalu.

Total dana pagu kemahasiswaan 2020 sebesar Rp. 12,3 Miliar dengan rincian Rp. 4,8 Miliar dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dan Rp. 7,5 Miliar dari Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN). Dari jumlah tersebut, penggunaan dana untuk kegiatan UKM, EM, DPM, dan Fakultas sebesar Rp. 1,5 Miliar.

“(Tahun lalu, red) dari 20 miliar, sekarang menjadi 12 miliar. Saya kurang tahu penyebab pemotongannya. Apa mungkin transisi ke PTN-BH atau semacamnya saya gak tahu. Tapi mungkin nanti kita analisis dari kebijakan kampusnya,” ungkap Presiden EM UB Farhan Azis ketika ditemui awak Kavling10 setelah Rapat Koordinasi.

Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Abdul Hakim membantah apabila pemotongan anggaran oleh kementerian berkaitan dengan persiapan UB menuju PTN-BH.

“Kalau PTN-BH, sekarang saja kita ini baunya sudah PTN-BH. Kalau setahu saya itu karena pemotongan anggaran oleh kementerian. Jadi anggarannya dipotong oleh kementrian. PTN-BH malah banyak bantuan,” ujarnya saat ditemui di ruangannya, Kamis (23/1).

Saat ditanyakan lebih lanjut mengenai penyebab turunnya dana pagu kemahasiswaan, dirinya meminta awak Kavling10 untuk mengkonfirmasi langsung ke WR II Bidang Umum dan Keuangan.

Menurut Abdul Hakim, pengurangan dana bukan hanya di bagian kemahasiswaan saja tapi juga di fakultas-fakultas. Namun, kami belum berkesempatan mewawancarai WR II dikarenakan jadwal beliau yang padat, Jumat (24/1).

Terkait pengurangan dana, nantinya pihak rektorat akan lebih selektif dalam mendanai kegiatan-kegiatan yang diajukan. Kegiatan yang terkait langsung dengan pemeringkatan perguruan tinggi akan diprioritaskan.

Di antaranya adalah program yang diagendakan Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Dikti, seminar nasional dan internasional mahasiswa, penulisan buku, hak cipta dan paten, pendidikan dan pelatihan bela negara, anti radikalisme, anti korupsi, pelatihan kepemimpinan, dan anti NAPZA yang diatur di Panduan Simkatmawa (Sistem Informasi Manajemen Pemeringkatan Kemahasiswaan).

 “Dampaknya sih tetap ada. Namanya juga ada pengurangan anggaran. Tetapi kita berharap dengan memberi batasan kegiatan seperti itu rankingnya universitas itu tidak turun. Batasan kegiatannya kan kita tentukan yang terkait dengan Simkatmawa. Karena Simkatmawa itu terkait langsung dengan penilaian atau pemeringkatan perguruan tinggi,” lanjut WR III.

Berkurangnya anggaran untuk kemahasiswaan berpotensi pada penurunan pendanaan kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan fakultas. Tahun 2019, pendanaan dari rektorat terhadap kegiatan UKM, EM, dan DPM mencapai Rp. 2 miliar.

Febrian Cahya Putra selaku Ketua Umum UKM Karate Brawijaya mengatakan, “Sebenarnya (yang diajukan tahun lalu, red) 500 juta dan yang diacc 94 juta. Itu pun setengah dari uang yang sudah diacc buat kejuaraan kita, BUKC. Kebetulan aku jadi panitianya. Itu buat BUKC sekitar 50 juta dan turunnya itu ada termin-nya gitu gak langsung 50 juta”.

Pada 2019 lalu, selain Karate, UKM yang juga mengadakan perlombaan tingkat nasional adalah UKM RKIM (Riset dan Karya Ilmiah Mahasiswa). RKIM bahkan mengadakan seminar tingkat internasional Young Scientist International Seminar & Expo (YSIS). Berdasarakan rekapan data dari rektorat, RKIM mengajukan dana sekitar Rp. 600 juta, sedangkan dana yang diturunkan dari pihak rektorat hanya sekitar Rp. 31 juta.

“Kalau YSIS semua dananya dari rektorat, makanya yang cair itu hanya 31 juta. Kita mengajukan 10 proposal, tapi hanya 9 yang diacc,” ungkap Hawim Mufada selaku Direktur RKIM 2020.

Hawim menjelaskan, WR III berharap ada kerja sama antar UKM untuk mengadakan program kerja berskala nasional dan internasional. Ia sendiri menyambut baik harapan tersebut agar pengajuan dana tidak terlalu besar.

“Nah ke depannya mungkin akan ada wacana kerjasama biar ada satu proker besar. Misalnya, UKM penalaran bikin proker besar gitu. Kan EM kebetulan ada kan ya yang Inovasi Keilmuan. Ya mungkin bisa nanti kerja sama biar mungkin dananya gak besar-besar banget,” pungkas Hawim.

Penulis: Savira Alvionita
Editor: Priska Salsabiila

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.