Sesi tanya jawab dengan ketiga calon presidium.
Foto: Faisal


MALANG-KAV.10 Pemilihan Presidium Tetap dilaksanakan dengan masa tiga kali pemilihan. Pemilihan pertama untuk memilih Presidium 1 atau sebagai Ketua Kongres Mahasiswa, kemudian pemilihan kedua dan ketiga untuk memilih Presidium 2 dan 3.

Baca: CERITA DARI KONGRES MAHASISWA 2020 (BAGIAN 1)

Tahap pertama dibuka oleh Presidium 1 Sementara dengan batas waktu tiga menit. Pada tahap ini, tiga orang dengan percaya diri mengajukan dirinya untuk menjadi calon Ketua Kongres Mahasiswa. Ketiganya adalah Mochammad Alfarizi (FEB, perwakilan UKM Kerohanian), Akhmad Fauzan (FAPET, perwakilan DPM UB), dan Muhammad Maulana Nasution (FP, perwakilan DPM UB).

Dalam sesi tanya jawab yang dilakukan, beberapa peserta sidang menanyakan beberapa hal kepada calon, antara lain kelebihan dibanding calon lain, pengalaman organisasi dan bersidang, serta jam kedatangan pada sidang kali ini. Ironisnya, dua diantara tiga calon presidium yakni Fauzan dan Nasution datang terlambat dari jadwal yang tertera di undangan.  

Musyawarah mufakat dilaksanakan dalam mekanisme sidang dan masih dipimpin Presidium Sementara. Jalannya musyawarah pada awalnya masih kaku dan belum mendapat arah yang jelas terkait dengan pemilihan Ketua Kongres Mahasiswa.

Salah satu peserta akhirnya mengusulkan untuk menentukan indikator atau kriteria dalam memilih presidium. Indikator ini akan menjadi dasar bagi peserta lain untuk memutuskan pilihannya.

Satu indikator disepakati secara cepat oleh forum mengenai rekam historis kepemimpinan. Indikator ini merujuk pada pengalaman ketiga calon soal memimpin baik di tingkat organisasi dan sidang.

Ketika masuk pada pembahasan indikator kedua, forum sempat memanas. Pemicunya berasal dari usulan salah satu peserta agar Ketua KM berasal dari DPM UB. Pengusul beralasan bahwa Ketua KM dalam lima tahun terakhir merupakan anggota DPM UB pada tahun tersebut pula. Selain itu, pengusul merasa anggota DPM UB adalah jabatan yang paling linier untuk menjabat sebagai Ketua KM.

Usul ini secara tegas ditolak forum. Alasan penolakan karena merasa indikator tersebut dapat memicu penggiringan opini untuk tidak memilih salah satu calon. Sedangkan pada AD/ART LKM, tidak diatur mengenai persyaratan seperti yang disebut pengusul.

Hingga pukul 11.09 WIB, forum baru menyepakati satu indikator mengenai rekam jejak kepemimpinan. Sidang kemudian dipending hingga pukul 13.00 WIB untuk istirahat makan siang dan sholat Jumat.          

Saya datang kembali ke ruang sidang pada pukul 13.58. Pada layar proyektor di depan, terlihat bahwa forum telah menyepakati tiga indikator lain, yaitu kelinieran jabatan, grand design, dan pengalaman menjadi presidium. Total ada empat indikator yang menjadi dasar penentuan pilihan.

Perdebatan antara tiga pendukung calon mulai memasuki babak baru. Order demi order diajukan untuk memastikan bahwa calon yang didukung pantas dan telah memenuhi keempat indikator.

Salah satu peserta mengusulkan agar ada satu indikator yang ditetapkan sebagai indikator utama. Nantinya, indikator utama mempunyai nilai tambah yang lebih besar dibanding indikator lainnya. Sayangnya, order ini tak mampu meraih kesepakatan dari forum. Alasannya sederhana, menentukan indikator utama sama saja menghilangkan esensi perdebatan panjang dalam penentuan indikator.

Seorang peserta lainnya muncul memberi usul lain, yakni dengan sistem eliminasi. Setiap calon akan dibandingkan satu sama lain di setiap indikatornya. Calon yang paling tidak sesuai dengan indikator akan ‘dieliminasi’ di indikator tersebut. Calon yang paling banyak lolos dari eliminasi indikator akan didapuk menjadi Ketua KM yang baru.

Lewat perdebatan panjang dan tarik ulur argumen, hanya Nasution yang lolos dari seluruh eliminasi. Alfarizi tereliminasi dari indikator rekam historis kepemimpinan dan kelinieran jabatan. Sementara Fauzan tereliminasi dari grand design dan pengalaman menjadi presidium.

Muhammad Maulana Nasution resmi terpilih dan disahkan menjadi Presidium 1 Tetap sekaligus Ketua Kongres Mahasiswa pada pukul 15.02 WIB. Kemudian pada pukul 15.20 WIB, palu sidang beralih tangan dari Ariq kepada Nasution.

Bismillahhirohmannirrohim, dengan ini saya menunjuk Muhammad Maulana nasution menjadi Presidium Kongres Mahasiswa Universitas Brawijaya,” kata Ariq selaku Presidium 1 Sementara.

Bismillahhirohmannirhim, dengan ini saya terima palu dan jabatan presidium Kongres Mahasiswa Universitas Brawijaya,” jawab Nasution.

Karena menginjak waktu Ashar, pada pukul 15.36 forum sepakat untuk melakukan pending sidang selama satu jam. Sidang dijadwalkan dimulai kembali pada pukul 16.30 WIB untuk pemilihan Presidium 2 dan Presidium 3.

Tidak seperti pending sebelumnya, saya datang tepat waktu kali ini. Tapi apa daya, waktu sidang ternyata molor. Pelaksanaan sidang mundur lebih dari satu jam dari yang dijadwalkan dan mulai pada pukul 17.52 WIB. Hal tersebut disebabkan banyaknya peserta yang belum memasuki ruang sidang.

Sidang pun kembali dimulai. Presidium 1 yang kini dipimpin oleh Nasution menanyakan kehadiran peserta tetap, tetapi yang hadir hanya 17 delegasi resmi dari fakultas maupun UKM. Itu artinya kuorum tidak terpenuhi dan sidang seharusnya tidak dapat dilaksanakan. Meski begitu, forum menyetujui untuk tetap melanjutkan forum karena sudah melebihi dari batas waktu dan dikhawatirkan forum semakin tidak kondusif karena waktu yang semakin lama.

Sidang dilanjutkan untuk memilih Presidium 2 dan 3. Kali ini pemilihan dilakukan ‘satu paket’ dengan tetap menggunakan mekanisme pemilihan Presidium 1.

Dalam tahap mencalonkan diri, hanya satu orang yang mengajukan dirinya sebagai Presidium 2, yaitu Izzatanisa (FKG 2017) sebagai Presidium 2 dengan rasionalisasi pernah menjabat di Kastrat BEM FKG dan saat ini menjadi Ketua DPM FKG 2020.

Memasuki tahap dicalonkan, salah seorang peserta mencalonkan Naufal Taris Pohan (FH 2017) sebagai Presidium 3, perwakilan dari UKM Formapi. Setelah dua calon tersebut, tidak ada lagi yang dicalonkan dan terjadi perdebatan tentang mekanisme pemilihan, apakah tetap dilanjutkan seperti di awal atau aklamasi. Forum akhirnya memutuskan untuk aklamasi terhadap Izzatannisa sebagai Presidium 2 dan Naufal Taris pohan Sebagai Presidium 3. 

Setelah Presidium Tetap telah lengkap, salah satu peserta melakukan order untuk melakukan pending terhadap forum karena keterbatasan tempat dan waktu. Akhrinya forum dipending sampai waktu yang tidak ditentukan dan agenda selanjutnya adalah pembahasan AD/ART Kongres Mahasiswa Universitas Brawijaya. Ruang sidang berangsur kosong sejak pukul 19.00 WIB.

Hingga tulisan ini diterbitkan, belum ada kabar mengenai kelanjutan sidang.

Penulis: Faisal Amrul, Abdi Rafi Akmal
Editor: Ima Dini Shafira

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.