Uji Publik 1 bagi para calon anggota DPM UB periode 2020, Rabu (13/11). Foto: Abdi.

MALANG-KAV.10 Uji Publik sebagai salah satu rangkaian acara Pemilihan Mahasiswa Raya (Pemira) UB mendapat respons yang minim dari mahasiswa. Uji Publik yang berlangsung di Lapangan Rektorat selama dua hari, Rabu (13/11) dan Kamis (14/11), hanya didominasi oleh tim pemenangan setiap calon.

Ketua Panitia Pelaksana (Panpel) Pemira UB Araffathoni Rizqi mengatakan, minimnya mahasiswa yang hadir pada uji publik disebabkan karena beberapa hal. Seperti misalnya, pelaksanaannya pada hari biasa.

“Ya gak bisa dipungkiri memang kalau rata-rata pesertanya adalah mahasiswa yang fanatik di bidang ini, politik kampus. Kemudian, ini juga berlangsung di hari biasa, banyak kelas, dan juga di siang hari. Dan sebenarnya pasti ada mahasiswa yang ingin datang, tapi mereka gak ada teman yang bisa diajak,” jelas mahasiswa yang akrab disapa Toni.

Berbeda dengan Toni, Pelaksana Tugas Ketua Umum DPM UB Faiz Arsyad menganggapnya sebagai konsekuensi atas praktik politik yang tidak sehat di UB sejak beberapa tahun lalu. Hal ini membuat mahasiswa umum menjadi acuh terhadap hal-hal yang berbau politik.

Meski pesertanya didominasi oleh tim pemenangan dari setiap calon, ia tidak mempermasalahkan hal tersebut. Uji publik ini, lanjutnya, tetap akan menjadi ajang pembuktian para calon di hadapan tim pemenangannya sendiri.

“Uji publik ini jelas tetap penting supaya kita tahu bagaimana kapabilitas dan kredibilitas dari calon, dan sudah sejauh mana visi misi yang dibawa, mungkin juga wawasan dan sebagainya. Dan buat saya, kalau pun saya termasuk ke tim pemenangan, tidak menutup kemungkinan saya tidak akan memilih calon yang lain,” tutur Faiz.

Uji Publik sendiri bertujuan untuk memperkenalkan para calon sekaligus visi dan misinya kepada seluruh mahasiswa UB. “Ini bentuk campaign dari kita (Panitia Pemira, red), ini loh calon (DPM dan EM, red) kalian. Kalau kalian memilih, mau tidak mau kalian harus tahu apa yang dibawa sama calon dan seperti apa calon tersebut,” kata Toni.

Salah satu mahasiswa umum non-tim pemenangan, Dinda Millenia, mengaku datang ke uji publik dengan alasan ingin melihat kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden EM UB secara langsung. Ia ingin membuktikan sendiri kualitas kedua pasangan calon setelah melihat hasil Fit and Proper Test yang berbeda jauh.

Selain itu, menurut mahasiswi FEB 2018 ini, penyebab minimnya mahasiswa yang datang ke Uji Publik adalah karena kurangnya sosialisasi yang dilakukan panitia dan ketidapedulian dari mahasiswa sendiri.

“Mungkin kayak ngesharenya masih kurang luas gitu loh. Sosialisasinya masih kurang luas. Terus juga masih banyak banget yang belum aware ke Pemira ini,” ungkap Dinda.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Koordinator Acara Pemira UB Raja Ade Romania menganggap sosialisasi yang dilakukan panitia sudah maksimal. Menurutnya, pihak panitia telah mempublikasi di media sosial maupun surat undangan ke setiap fakultas, LKM, BEM, dan DPM di UB.

“Saya tidak bisa menilai (publikasi, red) ini sukses atau tidak. Tapi ya setidaknya ada yang aware lah ya. Maksudnya ada yang datang dan tahu ‘oh ini uji publik’,” ucapnya.

Penulis: Priska Salsabiila, Ranti Fadillah
Editor: Abdi Rafi Akmal

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.