TPS 19 di Lobby Gedung F Filkom. Foto: Oky

MALANG-KAV. 10 Perhelatan pesta demokrasi di Filkom UB berbeda dengan fakultas lainnya. Hal ini didasari oleh sistem yang diberlakukan tidak sama dengan fakultas lain, yakni mahasiswa baru Filkom UB tidak dapat menggunakan hak suaranya. Hal ini dinyatakan oleh Muhammad Rizal Haaq selaku DPM bagian komisi II Hukum dan Pengawasan.

“Iya bener mahasiswa baru tidak boleh memilih, karena di sini dari kami merasa bahwa mahasiswa baru istilahnya masih rentan, masih baru, dan masih belum mengerti dinamika politik kampus. Kalau disuruh memilih, itu (maba, red) bisa jadi ladang untuk masuk ke ranah tersebut (pemerolehan suara, red),“ ungkapnya.

Rizal Haaq menyatakan bahwa proses landasan mahasiswa baru Filkom UB tidak boleh memilih mengacu dan sudah diatur di Undang-Undang Pemilwa.

Ketika ditanya terkait undang-undang ini dibuat sejak kapan pihaknya menjawab, “Sejak saya maba. Dari dulu seperti itu, dari 2017. Kalau tahun 2016 aku gak tahu pastinya kapan”.

Beberapa mahasiswa baru memprotes kebijakan ini, namun Rizal Haaq tetap mengacu UU yang telah ditetapkan.

“Di sidang memang tidak ada yang mempermasalahkan, biasanya dari pihak mahasiswa baru sendiri yang sering protes. Kalau mahasiswa lama oke-oke aja,” terangnya.

Semakin ke sini Rizal Haaq mengakui bahwa pihak forum lembaga akan merevisi tentang redaksi pengubahan nama agar tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda.

“Pengubahan redaksi nantinya terkait mahasiswa baru tidak boleh memilih itu akan diubah menjadi bukan ‘mahasiwa baru’, melainkan ‘mahasiswa yang belum lulus probin’ yang tidak boleh memilih suara,” jelas Rizal.

Rafi Siregar selaku Ketua Pelaksana Pemilwa FILKOM UB menjelaskan, “Dalam Pemilwa Filkom tidak boleh memilih untuk mahasiswa baru untuk BEM dan DPM Fakultas, namun diperbolehkan memilih suara di tingkat EM dan DPM universitas karena itu ranahnya PEMIRA”.

Pihaknya mengaku bahwa mahasiswa baru tidak boleh memilih suara di Fakultas berujung menambahkan TPS khusus bagi mahasiswa baru. “Di Filkom ada TPS 19 dan 20. TPS 19 itu untuk DPM UB dan EM UB karena mahasiwa baru tidak boleh memilih BEM dan DPM fakultas,” jelasnya.

Rafi juga menyebutkan sebenarnya kebijakan ini sangat mempengaruhi jumlah pemilih di Pemilwa Filkom UB.

“Setiap tahun semakin menurun, ditambah dengan tidak adanya suara dari mahasiswa baru. DPT setiap tahunnya Filkom berjumlah kurang lebih 3000-4000 DPT, yang tidak memilih itu sekitar 25% dan hanya berjumlah 900 sampai 1000-an suara pemilih,” tutupnya.

Penulis: Oky Prasetyo
Editor: Abdi Rafi Akmal

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.