Diskusi Asyik Psikologi (Daisy) di Gazebo Raden Wijaya, Rabu (23/10). Foto: Vio

MALANG-KAV.10 Hebohnya fenomena film Joker dan kasus bunuh diri artis Korea, Sulli  memunculkan dua pandangan yang berbeda di tengah masyarakat. Di satu sisi, fenomena ini membuat kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan mental meningkat, namun di sisi lain banyak dari masyarakat itu sendiri melakukan self diagnose yang justru akan membahayakan dirinya sendiri, terlebih banyak dari kalangan mahasiswa sendiri yang melakukanya.

Hal tersebut melatarbelakangi Himpunan Mahasiswa Psikologi (Himapsi) untuk menyelenggarakan Diskusi Asyik Psikologi (Daisy) dengan tema “Bahaya Self-Diagnose dan Cara Menjadi Pendengar yang Baik” di Gazebo Raden Wijaya, Rabu (23/10). Pada diskusi terbuka tersebut, Himapsi turut menggandeng Kementerian Advokasi EM UB

”Kan kemarin di tanggal 10 Oktober itu diperingati sebagai Hari Kesehatan Mental Dunia dan kita memperingati itu juga di sini. Jadi kita ingin lebih meningkatkan self-awareness mahasiswa tentang kesehatan mental, terutama mahasiswa ini kan banyak yang tertekan karena tugas atau beban sosial atau beban organisasi,” kata Ketua Pelaksana Daisy Nadiatullah Tsuraya.

Nadia mengaku baru kali ini berkolaborasi dengan EM UB. “Kebetulan EM UB itu mau mengangkat tema ini, sementara Daisy pun udah punya sendiri. Lalu dari pihak EM mengajak kita untuk berkolaborasi  karena dari pihak EM kan bukan anak psikologi dan belum ada orang yang benar-benar ahli dalam bidang psikologi,” ungkapnya.

Diskusi tersebut dihadiri banyak peserta dari luar dan dalam UB. Mayoritas pesertanya berasal dari Jurusan Psikologi. Eiffel, salah satu peserta diskusi merasa teori yang di dapatkannya di kelas tidak cukup sehingga diskusi ini dijadikan untuk menambah pengetahuannya seputar dunia psikologi.

“Menurut saya pelajaran di kelas tentang konseling segala macem itu gak cukup. Apalagi ini kan menyangkut tentang mental health. Saya pengen tahu prerspektif lain, apalagi ini kan menyangkut diskusi,” ujar mahasiswa Psikologi UB angkatan 2017 tersebut.

Nadia berharap diskusi kali ini membuat orang-orang jadi lebih sadar mengenai kesehatan mentalnya, terutama untuk tidak melakukan self-diagnose. Menurutnya, diagnosis perlu memerhatikan banyak hal, sehingga tidak mudah untuk menyimpulkan.

“Misalkan salah diagnosis dan salah penanganan itu bakalan berakibat fatal,” pungkasnya.

Penulis: Savira Alvionita
Kontributor: Nabila Marchela
Editor: Abdi Rafi Akmal

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.