Tanah air adalah sebuah buku yang terbuka, setiap generasi harus mengisinya dengan karya” Najwa Shihab

Penulis: Ivan Yusuf J.P.

Rasanya tidak akan asing di telinga kita tentang apa itu milenial? Sebuah generasi yang baru-baru ini ditemukan oleh para peneliti demografi untuk mengklasifikasikan mereka yang lahir dalam rentang tahun 90-an hingga 2000-an. Meski definisi tentang milenial punya beragam versi, tetapi ada satu persamaan yang selama ini diiyakan oleh masyarakat kita.

Milenial itu generasi yang bermasalah. Hah, kok bisa? Bisa dong, mari kita tengok di seluruh lini media kita. Sudah berapa banyak media yang memberitakan bahwa milenial itu adalah generasi rentan dan beresiko,  addicted generation, generasi mager, gabut, suka ngutang dan eh yang belakang gak deng. Sebagai seseorang yang juga tergabung dalam generasi milenial, saya sangat jengah dengan beragam pernyataan tersebut. Meski tidak semuanya salah, tetapi rasanya sangat tidak adil jika generasi milenial dikaitkan sebagai biang masalah. Ada beberapa hal yang masyarakat kita tidak pernah dengar soal milenial.

                Menilik lebih jauh tentang milenial. Bahasan yang akan lebih cocok untuk dibahas adalah tentang seberapa dekat mereka dengan teknologi. Perkembangan pesat dunia teknologi baru-baru ini secara tidak langsung turut membentuk kepribadian milenial menjadi generasi yang melek teknologi. Imbasnya, Milenial tidak hanya menjadi rujukan bagi generasi sebelumnya untuk bertanya seputar bagaimana sih caranya mengoperasikan facebook atau bagaimana cara berchit-chat ria lewat whatssapp.

Generasi Milenial juga mengemban sebuah permasalahan baru bahwa mereka itu terlalu akrab dengan gawai. Sedikit-sedikit pasti main gawai, ngopi pun tidak luput dari sekedar scroll update-an terbaru di beranda sosial media mereka. Akibatnya, milenial dianggap sebagai generasi yang adiktif akan teknologi. Meski anggapan tersebut tidak semuanya salah, tetapi satu hal yang jarang disoroti oleh kita adalah bahwa penetrasi teknologi di kehidupan kita memang sangat besar. Mulai dari pelayanan pendidikan, transaksi pembayaran, atau bahkan soal urusan lapar. Semuanya sudah bisa diakses dengan mudah lewat teknologi.

Penetrasi tersebut selain membantu kemudahan aktifitas harian kita juga sangat berdampak pada bagaimana milenial berpikir. Pernyataan berikutnya yang akan disematkan oleh milenial adalah mereka generasi instan. Apa-apa harus cepat? Lantas apa yang salah dengan sesuatu yang cepat?

Toh, Bukannya sudah menjadi kelaziman dimasyarakat kita bahwa keefektifan waktu adalah hal yang selalu di nomor satukan. Ah, bukan begitu maksudnya, generasi instan itu generasi yang tidak mencintai proses? Hmm… Pernyataan ini agak menggelitik. Jika milenial tidak mencintai proses karena mereka instan. Tentu aplikasi ojek yang gaungnya sudah nasional itu tidak akan pernah dinikmati oleh kita. Bagaimana susahnya owner aplikasi tersebut membangun startupnya mulai dari meyakinkan tukang ojek konvensional untuk mau beralih ke daring sampai bagaimana dia juga harus meyakinkan masyarakan untuk mau menggunakan aplikasi itu. Semuanya adalah proses, dan faktanya pemilik serta pelaku ide kreatif tersebut adalah milenial. Sebuah generasi yang katanya tidak mencintai proses.

                Ketidakadilan berikutnya soal milenial adalah mereka itu tidak melek politik. Eh, siapa yang bilang? Apa argumen itu dibangun dari hasil survei pemilu kemarin yang bilang bahwa mayoritas golput di Indonesia itu milenial? Hmm. Bolehlah bolehlah. Tapi menurutku itu masih belum adil. Dan juga belum bisa dijadikan tolak ukur bahwa milenial tidak melek politik.

Tumbuh di zaman politk yang sudah krisis akan toleransi, hoax, dan budaya intrik sensasional telah mengikis kepercayaan milenial akan tokoh politik. Paradigma berfikir milenial yang lebih skeptis dan modern membuat mereka lebih selektif untuk menentukan suaranya pada salah seorang calon yang capable atau kalo memang belum ada mereka lebih memilih untuk golput. Bukankah itu jauh lebih baik dibandingkan mengkhianati moral hanya karena tuntutan konformitas bahwa memilih itu menyelesaikan masalah? Lagipula, sekarang sudah ada partai baru lho yang mengkhususkan perhatiannya pada milenial. Yang banyak kader partainya juga masih milenial. Bukan maksud promosi, nih tetapi hal tersebut hanya upaya untuk membantah bahwa milenial itu nggak melek politik.

                Dan apa yang masyarakat kita tidak pernah dengar soal milenial yang terakhir adalah bahwa milenial itu generasi yang open-minded. Ingin tahu buktinya? Kuy mampir ke warung-warung kopi sekitar atau sekedar hangout sebentar dengan para milenial ke tempat nongkrong mereka. Atau jika memang masih belum sempat, bolehlah dicek di beranda berita kita tentang kontroversi dari pemikiran millenial. Mulai dari penerimaan akan orientasi seks yang berbeda, equality dari patriarki atau bahkan soal toleransi beragama yang sayangnya lagi sangat riskan sekali di negeri kita. Jika pemikiran konservatif sebelumnya lebih sibuk memikirkan bagaimana tatanan sosial dibangun dari tradisi yang kaku dan statis. Milenial keluar dari zona nyamannya untuk mendobrak segala pemikiran yang sudah tidak lagi sezaman.

Mereka sadar bahwa dunia ini bergerak. Ada jutaan kemungkinan-kemungkinan baru yang seharusnya dibumikan untuk menciptakan tatanan kehidupan baru yang lebih relevan. Tentang patriarki, misalnya. Tradisi usang yang selalu menomorsatukan laki-laki itu kerap kali mencederai perempuan sebagai pihak yang tidak punya otoritas. Mulai dari otoritas akan tubuh, pemikiran hingga soal urusan bagaimana seharusnya perempuan bersikap selama ini diatur sangat ketat oleh para pelaku patriarki.

Milenial yang jengah akan kondisi itu berusaha untuk memecah rantai patriarki dengan beragam cara. Mulai dari memviralkan petisi tentang perlindungan pelecehan seksual,  membuat komunitas perempuan hingga mengajukan gagasan akan equality di ranah perpolitikan sudah millenilas lakukan. Dan terakhir, untuk saya, untuk kita atau untuk siapapun yang sedang berusaha untuk meyakinkan masyarakat bahwa milenial itu tidak seutuhnya buruk. Kuy, bikin perbaikan bersama. Yakinkan pada siapapun bahwa menjadi milenial bukan berarti menjadi masalah. Dan jangan biarkan sepuluh atau dua puluh tahun kedepan sejarah menulis kita sebagai generasi biang keladi. Karena milenial bukan hanya soal identitas, tapi soal kita dan apa yang kita upayakan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.