Manusia adalah srigala bagi sesama manusianya – Niccolo Machiavelli

Penulis: Aprilia Tri Wahyu

            Sejak balita hingga dewasa, sejak alarm berdering hingga kita tidur lagi kita sibuk berjuag untuk mengalahkan yang lain. Kita mengalami semua itu dan dididik untuk selalu berkompetisi termasuk, untuk bersaing dalam merebut pencapaian. Kita dididik untuk menjadi manusia yang kuat, mengalahkan ketakutan dan orang lain. Mulai dari kita kecil hingga menempuh bangku pendidikan, kita berlomba-lomba untuk mendapat nilai terbaik, mengalahkan teman sendiri, mendapat piala dan penghargaan. Hingga pada akhirnya, hidup ini hanya bicara tentang kesuksesan.

Ketika kita berjuang dalam sekolah pun kita pada akhirnya akan menemukan orang-orang kompetitif dan hanya ada dua golongan antara pemenang dan pecundang. Ke-produktifan yang kita miliki ini membuat kita mengejar gelar dan jabatan. Kita menginginkan sebuah prestasi dan pengakuan atas kompetisi diri. Kita ingin menunjukkan bahwa eksistensi diri yang kita miliki diakui oleh yang lain.

Seorang tokoh psikolog Amerika Alfie Khon mengatakan bahwa hidup bagi kita sudah menjadi suksesi konteks yang tak berkesudahan. Hal itu diperkuat karena hidup tidak pernah berhenti dari kata kompetisi. Kompetisi adalah bagian dari kita yang sudah mendarah daging, bertahan lama dalam hidup dan untuk menunjukkan seberapa kuat kita dalam bersaing. Kompetisi sendiri dapat dibedakan kedalam dua hal yaitu kompetisi struktural dan kompetisi yang disengaja. Jika kompetisi struktural ini mengacu pada situasi dimana adanya hubungan menang atau kalah yang bersifat eksternal. Sedangkan, kompetisi disengaja ini mengacu pada sebuah sikap secara intern karena menyakut keinginan seseorang untuk menjadi nomor satu. Secara sederhana, dengan adanya kesuksesan dalam berkompetisi artinya akan ada kegagalan bagi orang lain.

Jika kita melihat kompetisi dalam dunia pendidikan, kita akan mengejar kemenangan. Karena, dengan menjadi menang kita menunjukkan bahwa kita mampu dan mendapat pengakuan atas kemampuan diri sendiri. Akan tetapi, disisi lain muncul juga persaingan hingga membuat ego kita semakin tinggi. Jiwa sebagai makhluk sosial akan hilang. Kompetisi membuat orang-orang lupa bahwa terkadang kita menggunakan berbagai cara untuk mengalahkan yang lain. Semakin banyak individu berusaha mencapai tujuannya yang tidak dapat dicapai, hal inilah yang akan menjadi inti dari kompetisi. Disisi lain, konteks dalam kompetisi bukan hanya mengenai sebuah perebutan tetapi, pada pencapaian tujuan dengan hanya mendapat status yang berharga. Dalam kompetisi struktural hanya akan menunjukkan satu individu yang menjadi terbaik. Berkompetisi membuat kita selalu menginginkan untuk menjadi pemenang.

 Apa yang sesungguhnya hilang jika hidup ini hanya mengenai kompetisi? Kita akan menggeser kenyataan bahwa setiap manusia adalah makhluk sosial. Sejatinya mari kita berefleksi sejenak. Jika menempuh pendidikan sekolah menengah selalu tentang kompetisi, lantas sebagai mahasiswa bagaimana dunia kompetisi itu menjadi tantangan yang sangat menakutkan.

Kita bisa menegok perilaku Soekarno tentang sifatnya ketika menyontek dibangku perkuliahan. Presiden pertama Indonesia menyontek sebagai bentuk kerjasama. Ketika berada dibangku perkuliahan, ia bekerja sama dengan seorang temannya bertukar jawaban matematika. Sosok Soekarno ini menekankan bahwa baginya menyontek bukan perkara buruk karena disana muncul gotong royong. Melalui ujian akan timbul kompetisi untuk mengalahkan yang lain. Ujian membuat teman seolah-olah adalah musuh yang harus dikalahkan.

Dalam dunia perkuliahan, kita akan melihat kompetisi terjadi dalam lingkup politik kampus. Coba tengok saja, bagaimana adanya berbagai golongan organ ekstra yang berlomba-lomba mencari kader mahasiswa baru untuk menggait mereka menjadi anggota. Pada posisi yang sama adanya organ ini memiliki kekuatan di kampus untuk bisa mengajukan bantuan beasiswa hanya dengan adanya relasi. Mungkin, kita tidak bisa membuktikan apapun itu. Tetapi, kita tidak bisa menutup mata dan telinga terhadap berbagai isu seperti itu yang akhir-akhir ini sedang mencuat di kampus. Seharusnya kita bisa merefleksikan efek dari kuatnya relasi ini  hanya mementingkan golongan kelompok saja.

Mencuatnya edaran mengenai beasiswa PPA yang sempat ramai disalah satu akun media sosial membuka pikiran kita bahwa organ ekstra bisa memanfaatkan relasi kuasa golongan mereka untuk bisa mendapatkan beasiswa. Melalui kekuasaaan kompetisi bisa menjadi ajang yang tidak adil, melukai perasaan dan melunturkan kemanusiaan. Hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa, berebut mahasiswa baru didepan gerbang dengan embel-embel kemudahan nilai, beasiswa dan sejumlah prestasi lainnya terlihat begitu menarik. Meraup sejumlah keuntungan dengan mengabaikan orang lain adalah hal yang tidak benar. Mari berpikir wahai kaum peduli keadilan dan kemanusian!!!

Bukan tidak mungkin bahwa adanya kompetisi menjadi sebuah syarat akan kepentingan-kepentingan. Kita bisa saja menggeser nilai-nilai kemanusian dan hanya memprioritaskan golongan. Hidup kita akan selalu berada pada kompetisi yang lebih berat. Ibarat dua orang merebutkan semangkuk sup terus-terusan, bukankah itu akan membuat perut kita penuh. Apakah kita sebagai manusia tidak lelah mengejar dan selalu ingin menjadi pemenang. Padahal dengan menjadi bersatu kita menumbuhkan nilai-nilai kebersamaan.

Menjadi mahasiswa tidak terus-terusan untuk berkompetisi, seperti kisah Soekarno yang justru menjadikan menyontek sebuah bentuk dari gotong royong. Maka, dengan mengumpulkan persatuan membuat kita sebagai mahasisa memupuk kemanusiaan. Langkah ini tentu lebih baik, dari pada merebutkan sebuah posisi dalam berkompetisi. Dengan memilih gotong royong tidak ada yang salah jika hidup ini kita nikmati tanpa perlu mengalahkan orang lain. Pada dasarnya kita memiliki tingkat kesuksesan masing-masing tanpa perlu dikejar-kejar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.