“Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan serta memperhalus perasaan” ― Tan Malaka Pendidikan barangkali mampu meniti menjadi seseorang menjadi lebih berarti, menempati ruang dan waktu di sepanjang usia anak didik.

Penulis: Oky Prasetyo

Proses pendidikan dalam perjalanannya memiliki sekat formal, sekat non-formal dan sekat informal. Pada sekat formal, anak didik melewati waktunya dalam lembaga-lembaga formal yang dibentuk oleh pemerintah dan mempunyai perlindungan yang bernama kurikulum. Biasanya sistem ini disebut oleh masyarakat sebagai persekolahan. Sementara pada sekat non-formal proses pendidikannya lebih mendekat kepada proses humanisasi pendidikan atau biasanya disebut pendidikan melalui pendekatan sosial dengan melihat tatanan kondisi masyarakat. Pendidikan Non-formal biasa dijumpai dalam lembaga-lembaga pendidikan non-formal. Adapun yang bersifat informal yakni pendidikan melalui pendekatan kekeluargaan, atau pergaulan sekitar.

Sederhana memang, proses pendidikan yang harus dilalui anak didik dalam memperoleh pendidikan. Namun, apakah tidak disadari bahwa dalam pendidikan mempunyai suatu kepentingan di dalam prosesnya dan hasil dari pendidikan itu sendiri.

Apabila ditilik lebih mendalam, ternyata pendidikan yang harus dilalui oleh anak didik tidak sesederhana itu. Pendidikan pasti melibatkan orang lain atau lembaga lembaga sosial baik formal, informal dan non-formal. Melalui lembaga-lembaga terkait pendidikan, anak didik seharusnya dituntut bersosialisasi untuk mendapatkan suatu wawasan atau ilmu pengetahuan. Berbagai hal tersebut kemudian diolah oleh anak untuk mengarungi kehidupan yang panjang di masa depan.

Proses pendidikan pasti berpihak atau tidak netral. Hal tersebut, kemudian menjadikan pendidikan itu menjadi persaingan kepentingan antar kausalitas penguasa dan kausalitas orang tertindas, sekali lagi pendidikan selalu memihak. Memang proses pendidikan pasti memiliki fungsi kepentingan. Baik kepentingan yang bersifat individu atau lembaga-lembaga sosial maupun untuk kepentingan anak didik itu sendiri. Ini seringkali bersifat ideologis atau secara memaksa.

Penekan secara ideologi biasanya bersifat kotor, atau tidak beretika. Kausalitas sistem pendidikan secara umum adanya seorang pengantar atau pengajar yang berkomunikasi dengan anak didik. Secara tidak sadar apapun perilaku dan moral maupun segala bentuk ajaran yang diberikan oleh pihak pengajar akan selalu dianut oleh anak didiknya.

Hal ini seperti yang dikatakan oleh Paulo Freire, menurutnya sebuah pendidikan adalah sebuah pembebasan, karena saat kita mengharapkan pendidikan yang humanis, itu artinya kita sedang berjuang melawan pendidikan yang dehumanis yaitu pendidikan yang menjadikan guru sebagai pemeran utama dan murid harus menerima apapun yang disampaikan oleh pengajar atau seorang pengantar. Sedangkan anak didiknya tidak diberikan ruang gerak yang bebas sehingga yang dicetak bukanlah anak didik yang kritis, namun menjadi anak didik yang seperti robot. Paulo Freire menyebut pendidikan seperti ini sebagai “Pendidikan Sistem Bank”, dimana seorang pengajar sebagai nasabah yang akan mengisi, dan anak didiknya adalah rekening kosong yang siap diisi.

Sistem pendidikan formal lebih menekankan persaingan individualitas dan keberpihakan kepada  kualitas sederatan teori ilmu pengetahuan. Sistem pendidikan formal juga  melepaskan anak didiknya dengan kondisi sosial masyarakat. Penekanan sistem pendidikan formal jauh lebih mengekang terkait aturan-aturan intelektualitas untuk mendominasi keberadaan satu sama lain.

Praktik-praktik liberalis-kapitalis mampu merangsek masuk dalam sistem pendidikan hari ini. Ini menjadi fokus tujuan sistem pendidikan, karena tujuan pendidikan formal ialah mencetak manusia yang mampu menguasai alat produksi.

Fenomena yang terjadi hari ini terkait sistem pendidikan adalah penguasa alat produksi mampu meretas kepada kekuasaan kaum intelektual yang menganggap belajar dan mengajar sebagai politik, yang menggugah kesadaran anak didik untuk membuang kepentingan-kepentingan kaum tertindas.

Benar kata Giroux, menurutnya pendidikan harus meretas batas-batas persekolahan, masuk dalam wilayah publik, dan bersifat politis. Tugas tersebut berarti membuat pedagogis menjadi lebih bersifat politis, dan membuat politis lebih bersifat    pedagogis.

Suatu hal yang menyedihkan terjadi dalam masa Orde Baru yang terasa hingga masa sekarang bahwa pendidikan lebih difokuskan pada pertumbuhun kuantitatif dari pada perkembangan aspek-aspek kualitatif, sehingga keberpihakan terhadap sikap pendidikan mengarah ke kuantitas sebagai anak terdidik, kualitasnya bisa dikatakan terabaikan. Di Tingkat Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Pertama mengenai rendahnya mutu pendidikan, menimbulkan kondisi anak didik dalam pergaulannya sebagai yang telah menjadi kultur sekolah, anak didik menjadi nakal atau tidak bermoral.

Dari konstruksi tersebut menimbulkan adanya pandangan terhadap sistem pendidikan terkait tidak pantasnya pendidikan formal yang berujung secara paksa. Membuat paradigma anak didik secara tidak langsung untuk lebih memikirkan terhadap kepentingan individu masing-masing.

Oleh karena itu pendidikan mestinya memiliki konsep yang sesuai dengan kondisi tatanan masyarakat sosial. Paradigma tersebut mulai merosot ketika pendidikan mengarah pada praktek praktek liberalis dan kapitalis serta segala bentuk penindasan. Sementara pendidikan semakin jauh dari realitas kebutuhan masyarakat, namun semakin dekat dengan kepentingan-kepentingan penguasa alat produksi.

Tan Malaka pernah meletakkan landasan dasar pendidikan, yakni  pendidikan adalah dasar untuk melepaskan bangsa dari keterbelakangan dan kebodohan serta belenggu Imperialisme Kolonialisme.

Penekanan pada sistem pendidikan mengenai hal-hal yang disebutkan Tan Malaka, adalah yang pertama memberi senjata yang cukup buat mencari kehidupan dalam dunia kemodalan (berhitung, membaca, menulis). Kedua memberi hak terhadap anak didik, diharuskan dengan jalan pergaulan sosial kemasyrakatan. Ketiga maupun terakhir meletakkan kepentingan atau keberpihakan terhadap berjuta-juta kaum tertindas atau biasa disebut rakyat jelata.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.