Sumber: Google
Oleh: Octavio Aegis

Pintu revolusi 4.0 sudah di depan mata, berbagai negara berlomba-lomba menjadi yang terdepan. Pemenuhan faktor-faktor produksi terus diusahakan sembari dipadukan dengan kecanggihan teknologi. Salah satu faktor produksi tersebut adalah tenaga kerja. Berbagai program insentif dari pemerintah kepada generasi muda untuk bekerja pada sektor startegis dalam menghadapi revolusi 4.0 terbilang berhasil. Faktanya, menurut BPS, hanya dalam kurun waktu satu tahun (Februari 2017 – 2018), lapangan usaha yang bersentuhan dengan industri, rata-rata mengalami kenaikan jumlah pekerja. Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum meningkat sebanyak 0,68% dari 5,69% menjadi 6,37% dari total penduduk yang bekerja, sektor industri pengolahan meningkat sebanyak 0,3%, dari 13,72% menjadi 14,11% dari total penduduk yang bekerja. Pencapaian tersebut boleh menjadi salah satu indikator bahwa Indonesia semakin siap memasuki pintu tersebut. Namun di lain sisi, boleh jadi data-data tersebut semakin menyudutkan bangsa Indonesia yang dikenal sebagai negara agraris.

Ketertarikan masyarakat untuk bekerja pada sektor pertanian kian rendah dari tahun ke tahun. Hal ini bukan hanya sekadar opini belaka, karena menurut data BPS, sepanjang Februari (2017 – 2018), pertanian menjadi sektor yang mengalami penurunan jumlah pekerja terbesar, yakni sebesar 1,41% dari 31,87% menjadi 30,46% dari total penduduk yang bekerja. Terdapat alasan-alasan yang melatarbelakangi masyarakat untuk memutuskan alih profesi dari dunia pertanian dan juga masyarakat yang mengalihkan orientasi karirnya pada bidang industri barang dan jasa. Setidaknya terdapat dua alasan terkuat, yaitu prospek kerja yang dianggap kurang cerah serta dianggap kuno.

Memang, tidak bisa dipungkiri bahwa pertanian sangat tergantung pada lahan. Sayangnya, pertumbuhan penduduk yang pesat tidak diiringi dengan penambahan luas lahan pertanian. Justru, lahan-lahan produktif beralih fungsi menjadi kawasan industri dan perumahan. Menurut data dari Kementerian Pertanian, pada tahun 2016 luas lahan sawah sempat menyentuh angka 8,19 juta ha. Namun hanya dalam kurun waktu dua tahun, satu juta ha lahan sawah berlalih fungsi. Pada tahun 2017 hingga 2018, luas lahan pertanian kian menyusut dari 7,75 juta ha menjadi 7,1 juta ha. Hal ini diperburuk dengan rata-rata upah buruh pertanian yang sangat kecil. Dalam survei yang dilakukan BPS, rata-rata upah buruh nasional pada Februari 2018 yaitu sebesar Rp2,65 juta. Ironisnya, sektor pertanian yang tergabung dalam kategori pertanian, kehutanan, dan perikanan masuk ke dalam enam kategori dengan rata-rata upah buruh per bulan dibawah rata-rata upah buruh nasional. Dari enam kategori tersebut, pertanian, kehutanan, dan perikanan menduduki peringkat kedua terbawah dengan rata-rata upah buruh perbulan sebesar Rp1,76 juta, terpaut Rp320 ribu dari kategori “jasa lainnya” yang menjadi terbawah.

Citra pertanian di negara Indonesia memang semakin buruk apabila disandingkan dengan penetrasi yang dilakukan oleh industri baik barang maupun jasa. Isu-isu lingkungan justru semakin menerpa sehingga terus-menerus melemahkan jati diri pertanian Indonesia. Semakin lama, wacana revolusi industri 4.0 terlihat menutup pandangan masyarakat bahwa pertanian merupakan sektor fundamental dan mempunyai peranan penting untuk sektor industri. Generasi muda yang rata-rata sudah melek informasi terlanjur tercemplung dalam paradigma berpikir serba instan sehingga seringkali mengabaikan hal-hal dasar yang sangat penting, seperti darimana asal makanan yang sudah tersaji di meja? Ini menjadi pekerjaan rumah besar untuk generasi muda atau generasi millennial. Seyogianya, pekerjaan ini akan cepat selesai apabila mereka berani menjadi problem solver secara langsung sampai menyentuh akar-akar permasalahan.

Di tengah era liberalisasi perdagangan pangan dunia yang mengedepankan kekuatan modal dengan output produksi besar, produksi pangan Indonesia masih didominasi oleh pertanian skala kecil atau pelakunya biasa disebut petani kecil. Menurut Sumaryanto dalam artikel berjudul “Eksistensi Pertanian Skala Kecil Dalam Era Persaingan Pasar Global”, sebanyak 90% petani di Indonesia adalah petani kecil. Terdapat beberapa tolak ukur atau ciri-ciri penggolongan petani kecil. Soekartawi et al. (1986) mengemukakan bahwa petani kecil memiliki ciri-ciri, sebagai berikut: (i) berusahatani dalam lingkungan tekanan penduduk lokal yang meningkat; (ii) mempunyai sumberdaya terbatas sehingga menciptakan tingkat hidup yang rendah; (iii) bergantung seluruhnya atau sebagian kepada hidup yang subsisten dan (iv) kurang memperoleh pelayanan kesehatan, pendidikan, dan pelayanan lainnya. Dari keempat ciri-ciri tersebut, poin ke-4 merupakan masalah klasik namun fundamental yang masih dialami oleh rata-rata petani di pedesaan. Petani skala kecil masih terkurung dalam masalah-masalah dasar terkait hajat hidupnya sehingga hasil produksinya cenderung stagnan bahkan rentan terhadap permasalahan ekonomi yang dapat memicu kebangkrutan. Pengetahuan usahatani yang dimiliki juga tidak bertambah luas seiring pesatnya perkembangan pertanian dunia dengan segala mekanisasi dan otomatisasi alat-alat penunjangnya. Hal ini merupakan akibat dari rendahnya akses terhadap informasi.

Kemajuan teknologi informasi dan ilmu pengetahuan sudah banyak menciptakan inovasi-inovasi untuk dunia pertanian. Berbagai penemuan baru dalam bidang pertanian dimaksudkan untuk menjawab permasalahan-permasalahan yang ada. Di negara-negara maju, seperti Jerman dan Australia, cara-cara bertani modern sudah diterapkan oleh para petani disana. Kemudahan untuk mengakses informasi menjadi salah satu pemicu utamanya. Keaktifan mengakses informasi memengaruhi pola pikir dalam memecahkan berbagai masalah. Namun di Indonesia, infrastruktur telekomunikasi sebagai sarana untuk mengakses informasi belum menjangkau hingga pelosok-pelosok desa. Internet pun masih belum ramah terhadap para petani dari segi harga serta aksesibiltasnya. Dari sisi lain, para petani yang rata-rata sudah memasuki usia tua juga mengalami kesulitan dalam mengoperasikan alat-alat telekomunikasi modern. Dengan melihat banyaknya “lubang” pada pertanian, sudah seharusnya anak muda menjadi penggerak perubahan, bukan hanya sekadar merasa prihatin dan iba, karena perlu dipahami bahwa dunia pertanian tidak sesempit hamparan sawah nan hijau royo-royo yang sangat instagramable itu, bukan hanya melulu soal petani yang mengolah lahannya untuk ditanami satu atau beberapa komoditas pangan. Lebih jauh lagi, sektor ini merupakan sektor yang sangat kompleks dan setiap sub-sektornya saling berhubungan, dan setiap sub-sektornya pula masih terdapat “lubang” yang harus segera ditambal. Lubang yang mana? Untuk mengetahuinya, kenalilah rumitnya perjuangan mengolah padi menjadi nasi dan kamu akan menemukan jalan perjuanganmu sendiri !

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.